Selasa, 14 Januari 2014

Adil Menghukumi Manusia, Sebuah Manhaj Agung dlm Bersikap

(posted on 14 Robiul awal 1435 H)
Sebuah kesalahan dlm bermanhaj, sebagian dai tidak adil dlm bersikap. Ia tidak membedakan antara ahlussunnah dg hizbi atau bid'iy. Ia tidak membedakan antara satu keadaan dg keadaan lainnya.

Jika saudaranya ahlussunnah brsikap begini, maka itu nggak boleh. Tp kalo ia yg brbuat dan brsikap demikian, maka boleh baginya. Jika ia brsalah, maka ia amat brharap agar ditegur dg halus, namun jika saudaranya ahlussunnah yg brsalah, maka ia tahdzir dan jelek2kan kemana pun ia pergi. Bila ia senang kalo ditegakkan hujjah dg baik saat ia melakukan penyimpangan, maka ia melupakan hal ini saat melihat saudaranya menyimpang. Ia tdk datang kpdnya dan tdk pula memberi nasihat persahabatan yg dibangun di atas minhaj nubuwwah.
Sebagian org seperti ini pandai menggiring manusia agar kedudukan dirinya trgambar nggak brmasalah, justru org lainlah yg brmasalah. Ia pintar menuduh org hizbi, padahal boleh jd dialah yg hizbi. Ia mengklaim org fanatik dan ta'ashub kpd ustadz fulan, namun dialah yg menggiring umat untuk fanatik kpd dirinya, bahkan sesamanya dai ia giring agar fanatik dan tunduk kpdnya. Bila org lain –walaupun itu dai- nggak brsikap seperti sikapnya, maka ia akan tahdzir dan jauhi serta dicarikn brbagai masalah agar saudaranya sesama ahlussunnah jatuh martabatnya di depan org lain.
Jika melakukan hubungan dg sebagian hizbi dlm rangka nasihat, maka nggak ada masalah baginya. Akan tetapi jika saudaranya selaku dai melakukan hubungan dg seorg yg msh disangka hizbi, wah ia amat berang dan terbakar atifahnya (perasaannya) dan meluap emosinya, shingga tidak ada dlm pikirannya kcuali saudaranya telah menjadi hizbi menurutnya! Subhanalloh, inikah sikap adil dlm brsikap?
Inilah  bbrp fenomena dan gambaran sebagian dai sunnah yg tidak mengerti manhajus salaf dlm menyikapi org! Smuanya kembali kpd keinginan dan hawa nafsunya. Dr sini syaithon meniupkn hubbur riyasah (cinta kekuasaan) dan hubbuz zhuhur (cinta ketenaran), tanpa ia sadari, krn ia ditipu oleh syaithon bhw engkaulah dai salafi sejati, engkau adalah paling paham ttg manhaj salaf, engkau…, engkau…., dst.
Seorg yg ingin menjadi pewaris para nabi, seorg yg mau menapaki jalan mrk, seorg yg ingin mengikuti salaf dlm brsikap dan menyikapi org, hrslah mengikuti petunjuk mereka. Salah satu manhaj mrk adalah adil dlm menyikapi manusia, apalagi ia adalah muslim, bahkan ia kadang dr kalangan ahlussunnah.
Org kafir sj kita hrs adil dlm menyikapinya. Nggak boleh bagi kita curang dan dusta dlm menyikapinya, misalnya kita katakan bhw si kafir itulah yg membunuh saudara saya. Padahal kita tahu bukanlah si kafir sbg pembunuhnya, bahkan yg membunuhnya adalah seorg muslim yg kita kenal!
Kaum muslimin awam yg tidak mengenal manhaj salaf , nggak boleh kita tuduh sesat dlm suatu prkara yg ia tidak lakukan. Ini adalah kecurangan dan kedustaan yg akan mengantarkn kpd neraka. Bagaimanapun bencinya kita kpd seseorg, nggak boleh curang dlm menyikapinya, sebagaimana yg dilakukan oleh kaum syiah yg tidak segan2 dlm berdusta dlm membela keyakinan batilnya serta menjatuhkn lawannya dr kalangan ahlussunnah! Syiah adalah kaum yg dikenal tidak adil kpd musuhnya.
Krn itu para sahabat, bagaimana pun bencinya kpd kaum Khowarij, dimana kaum ini mengafirkn para shohabat dan memerangi mereka, namun krn sikap adil dan jujurnya para shohabat Nabi shollallahu 'alaihi wasallam tidaklah membabi buta mengafirkn kaum Khowarij.
Para salaf dlm menghukumi manusia tidaklah terbawa oleh perasaan dan tidak pula terseret oleh emosionalnya untuk melampaui batas dlm menghukumi seseorg. Mrk dg segala sikap ta'anni (hati2 dan pelan2) menyikapi manusia dg ilmu dan sikap adil.
Manhaj adil dlm bersikap, mrk serap dr firman Alloh ta'ala dlm suroh al Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  [المائدة/8]
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Suroh al Maidah : 8)
Al Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyah rohimahulloh brkata:
فإذا كان قد نهى عباده أن يحملهم بغضهم لأعدائه أن لا يعدلوا عليهم مع ظهور عداوتهم ومخالفتهم وتكذيبهم لله ورسوله فكيف يسوغ لمن يدعي الإيمان أن يحلمه بغضه لطائفة منتسبة إلى الرسول تصيب وتخطيء على أن لا يعدل فيهم بل يجرد لهم العداوة وأنواع الأذى ولعله لا يدري أنهم أولى بالله ورسوله وما جاء به منه علما وعملا ودعوة إلى الله على بصيرة وصبرا من قومهم على الأذى في الله وإقامة لحجة الله ومعذرة لمن خالفهم بالجهل لا كمن نصب معالمه صادرة عن آراء الرجال فدعا إليها وعاقب عليها وعادى من خالفها بالعصبية وحمية الجاهلية والله المستعان وعليه التكلان ولا حول ولا قوة إلا به
"Jika Dia (Alloh) sungguh telah melarang para hamba-Nya dr terseretnya mereka oleh kebencian mereka untuk tidak brsikap adil atas mrk, seiring jelasnya prmusuhan mrk (kaum kafir), penyelisihan dan pendustaan mereka kpd Alloh dan Rosul-Nya, nah bagaimana boleh bg org ngaku beriman untuk trseret oleh kebenciannya kpd suatu golongan yg menisbahkn diri kpd Rosul, dimana golongan ini mgk benar, mgk pula salah; bagaimana boleh terseret kpd sikap tidak adil pd mrk? Bahkan ia (si pembenci) mengkhususkn prmusuhan kpd mrk dan brbagai macam gangguan. Barangkali org ini tidak mengetahui bhw mereka (golongan tsb) lbh utama dg Alloh dan Rosul-Nya serta apa yg beliau bawa dari-Nya, dr sisi ilmu, amal dan dakwah kpd Alloh di atas bashiroh (keterangan) dan dr sisi kesabaran menghadapi kaumnya atas gangguan krn Allah serta dr sisi penegakan hujjah Allah dan pemaafan mrk atas org yg menyelisihi mrk dg kejahilan. (Mrk) bukanlah seperti org menancapkn rambu2 (pemikiran) yg muncul dr pemikiran2 para tokoh mrk. Lalu ia pun mengajak kpd pemikiran2 itu, menghukum karnanya, memusuhi org yg menyelisihinya dg fanatik dan semangat jahiliah. Wallohul Musta'an wa alaihit tuklan wala haula wala quwwata illa billah." (Bada'iul Fawa'id 3 : 392-393, cetakan Maktabah Nizar albaaz)
Inilah manhaj agung yg sering dilupakan oleh sebagian org. Jika ia punya pemikiran yg seringkali menurutnya adalah manhaj salaf, padahal bukanlah trmasuk manhaj salaf sedikit pun, maka ia membangun wala' (loyal) dan bencinya atas pemikiran itu, shingga ia pun keluar dr koridor al adl (sikap adil) kpd saudaranya ahlussunnah.
Ia membuat dan memasang rambu2 pemikiran yg tidak prnah ditetapkn para salaf bhw barangsiapa yg tidak menyikapi fulan yg "hizbi" (bahkan boleh jd bukan hizbi), maka ia pun hrs disikapi dg hajr, tahdzir dan lainnya. Subhanalloh, inikah manhajus salaf?! Jelas bukan! Jika manhaj demikian diterapkn, maka si penggagas pemikiran ini pun nggak akan lepas dr jeratan rambu batil ini.
Memang kita sepakati bhw org yg menyimpang hrs dijauhi dan brhati2 dgnya. Ini secara umum. Namun di balik kaedah umum seperti ini, disana trdapat keadaan2 yg dikecualikn oleh kaedah tsb. Misalnya, ada seorg dai yg dulu sama2 brmanhaj salaf, tiba2 ia menyimpang. Nah, boleh bg sebagian org bertemu dgnya untuk memberikn nasihat dan teguran sesuai dg kondisi, sebagaimana yg dilakukan oleh syaikh al albaniy pd abdulloh Azzam, seorg tokoh IM. Org yg masih diharapkn baik senantiasa kita berikan nasihat baginya sampai kpd keadaan menurut prtimbangan kita nasihat tidak lg brmanfaat, maka disinilah seorg dai sebaiknya meninggalkn org seperti ini. Wallohu A'lam bish showab.
Misal lain, di suatu negara, ahli bid'ah brkuasa, maka tidak dibenarkn bg kita mentahdzir mrk di depan publik dan masyarakat yg mengagungkan para ahli bid'ah tsb. Tp bukan berarti kita tidak mentahdzir dan menyikapi mrk secara muthlaq. Smua disesuaikn situasi dan kondisi yg menuntut adanya maslahat yg kuat demi mencegah madhorot.
Misal lain, seorg dai salafi brdakwah di suatu majelis yg trdiri dr komunitas yg heterogen (campuran) antara salafi dg hizbi. Dlm pengajian2 byk diantara para hizbi yg ikut taklim. Seorg dai boleh sj di awal ia membuat halaqoh pelajaran untuk tidak mentahdzir tokoh hizbi yg diagungkn oleh para hizbi yg hadir demi melunakkan dan menarik simpati hadirin yg hizbi tsb agar ia smakin dekat kpd al haqq. Diamnya seseorg bukanlah berarti tidak brsikap! Mendiamkan hal ini dlm wkt sementara demi melahirkn kebaikan yg besar bg mad'u (audiens). Smua ini kembali kpd maslahat rojihah (yg kuat) dibanding madhorotnya!
Keadilan dlm menyikapi org amat dibutuhkn, apakah ia kafir atau muslim ataukah ia salafi dan hizbi atau bid'i. Sikap kita trhadap mrk hrs dibangun di atas ilmu dan keadilan, bukan didasari oleh kejahilan, prasangka dan hawa nafsu!
Jika seseorg menghukumi org lain dg kejahilan, prasangka dan hawa nafsu, maka bukan pahala dan surga yg ia dapatkan, bahkan neraka dan keburukan!
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam brsabda ttg tiga jenis qudhot (hakim) selaku pemutus prkara diantara manusia:
الْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ وَاحِدٌ فِى الْجَنَّةِ وَاثْنَانِ فِى النَّارِ فَأَمَّا الَّذِى فِى الْجَنَّةِ فَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَجَارَ فِى الْحُكْمِ فَهُوَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِى النَّارِ
"Qudhot (hakim) itu ada tiga. Satu di surga, dan dua di neraka. Adapun yg di surga, maka ia adalah seorg (hakim) yg mengenal al haqq (kebenaran), lalu ia memberi keputusan dengannya. Seorg (hakim) lg yg mengenal kebenaran, namun ia curang dlm menghukumi, maka ia di neraka. Seorg (hakim) lg yg memberikan keputusan bg manusia brdasarkan kejahilan, maka ia di neraka". (HR Abu Daud no 3573, Tirmidzi no 1322, dan Ibnu Majah no 2315. Dinyatakan shohih oleh albani dlm Shohih at Targhib no 2172)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh brkata:
((ولما كان أتباع الأنبياء هم أهل العلم والعدل كان كلام أهل الإسلام والسنة مع الكفار وأهل البدع بالعلم والعدل لا بالظن وما تهوى الأنفس ولهذا قال النبي صلى الله عليه و سلم:... فإذا كان من يقضي بين الناس في الأموال والدماء والأعراض إذا لم يكن عالما عادلا كان في النار فكيف بمن يحكم في الملل والأديان وأصول الإيمان والمعارف الإلهية والمعالم الكلية بلا علم ولا عدل كحال أهل البدع والأهواء))
"Tatkala pengikut para nabi adalah org2 yg berilmu dan memiliki sikap adil, maka komentar org2 Islam dan ahlussunnah trhadap kaum kafir dan ahli bid'ah brdasarkan ilmu dan sikap adil, bukan brdasarkn prasangka dan sesuatu yg diinginkn oleh hawa nafsu. Krn inilah Nabi shollallohu 'alaihi wasallam brsabda:…(lalu beliau membawakan hadits di atas).
Apabila org yg memberikan keputusan di antara manusia dlm hal harta benda, darah dan kehormatan bukanlah seorg yg memiliki ilmu dan bukan org yg adil, maka ia (si pemberi keputusan) ini akan masuk neraka. Nah, bagaimana lg dg org yg memberi hukum dlm prkara keyakinan, agama, prinsip keimanan dan pengetahuan ttg ilahi serta rambu2 umum tanpa ilmu dan sikap adil, seperti kondisi para ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu". (al Jawab ash Shohih liman Baddala Dinal Masih, 1 : 107-108)
Penyakit memperturutkn hawa nafsu ini dlm menghukumi manusia amat diwanti-wanti oleh Alloh kpd Rosul-Nya yg trkenal amanah. Nah, tentunya kita slaku dai yg belum teruji amanahnya, hrs lbh memperhatikn ayat di bawah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء : 135]
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (suroh An Nisa' : ayat 135)
Alloh taala memerintahkn para hamba-Nya yg mukmin agar mrk menegakkan keadilan. Mrk hendaknya tak berpaling dr sikap adil ke kiri dan ke kanan dan jangan brgeming dg celaan manusia dan jgn pula dipalingkn dr keadilan kpd kecurangan oleh apapun dan hendaknya mrk saling bantu-membantu, saling menopang dan saling mendukung dlm hal keadilan.
Prsaksian yg kita berikan dlm sebuah prkara (apalagi dlm hal prinsip dan manhajiah), selayaknya ditunaikan karna mencari wajah Alloh, bukan mencari popularitas, kedudukan, pengaruh dan ketenaran. Jika prsaksian itu krn Allah semata, maka itulah prsaksian benar dan adil, yaitu sebuah prsaksian yg bersih dr penyelewengan, perubahan dan penyembunyian atau penyamaran hakikat suatu prkara.
Krn itulah Allah dlm ayat ini mengingatkn kita agar jujur dlm bersaksi, walaupun kerugian kembali atas diri sendiri. Jika seorg dai atau siapapun ditanya ttg suatu prkara, maka nyatakan yg sebenarnya, jgn dusta dan membela diri.
Sekalipun prsaksian merugikan diri kita, keluarga dan kerabat, maka kita tegakkan keadilan pdnya. Krn kebenaran adalah pemberi keputusan atas setiap org dan kebenaran itu lbh didahulukn atas semua org.
Dlm menghukumi manusia jgn membela org krn kekayaan atau kedudukannya dan jgn pula kasihan atau memihak kpd si fakir krn kefakirannya. Berilah hukuman yg adil, krn dlm keadilan itu ada kemaslahatan bg kedua pihak. Ikutilah ketetapan Allah dlm ayat ini agar brsikap adil, dan jgn mengikuti hawa nafsu dan perasaan serta prasangka dan kejahilan dlm menghukumi manusia shingga tidak bersikap adil di tengah mrk.
Hawa nafsu, fanatik dan kebencian manusia kpdmu, smua ini jgn menyeret dirimu untuk meninggalkn sikap adil dlm segala urusanmu. Bahkan jagalah sikap adil dlm semua kondisi.
Di dlm ayat ini, Alloh ingatkn kita bhw dlm brsaksi hendaknya kita menjauhi dua sifat: sifat al layyu (mengubah dan menyelewengkn prsaksian), shingga jatuh dlm kedustaan. Kedua: berpaling dr memberikn prsaksian. Inilah yg dimaksud "menyembunyikn prsaksian". Ia tahu bhw ini yg benar dan ini yg batil, namun ia menyembunyiknnya tanpa alasan yg dibenarkn dlm syariat. Org2 yg memiliki dua sifat ini diancam oleh Allah dan akan diberi balasan yg setimpal. (Tafsir Ibn Katsir 2 : 433, cetakan Dar Thoibah.)
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh brkata saat menjelaskn ayat tsb:
فامر سبحانه بالقيام بالقسط وهو العدل في هذه الاية وهذا امر بالقيام به في حق كل احد عدوا كان او وليا واحق ما قام له العبد بقصد الاقوال والاراء والمذاهب اذ هي متعلقة بامر الله وخبره، فالقيام فيها بالهوى والمعصية مضاد لامر الله مناف لما بعث به رسوله والقيام فيها بالقسط وظيفة خلفاء الرسول في امته وامنائه بين اتباعه ولايستحق اسم الامانة الا من قام فيها بالعدل المحض نصيحة لله ولكتابه ولرسوله ولعباده لا من يجعل أصحابه ونحلته ومذهبه معياراً على الحق وميزاناً له، يعادي من خالفه ويوالي من وافقه بمجرد موافقته ومخالفته، فأين هذا من القيام بالقسط الذي فرضه الله على كل أحد ؟! وهو في هدا الباب اعظم فرضاً واكبر وجوباً.
"Alloh subhanahu memerintahkn untuk menegakkan keadilan di dlm ayat ini. Ini merupakan perintahkn untuk menegakkannya pd diri setiap org, baik itu musuh, maupun  kawan dan sesuatu yg paling brhak dilakukan karnanya oleh seorg hamba dlm meluruskn ucapan2, pemikiran2 dan pendapat2. Krn smua itu brkaitan dg urusan (agama) Alloh dan berita-Nya. Nah, menegakkan di dalamnya hawa nafsu, dan maksiat merupakan hal yg bertentangan dg urusan (agama) Allah dan menyalahi sesuatu yg Alloh mengutus krnnya Rosul-Nya.
Jadi, menegakkan di dalamnya sikap adil dan tugas para kholifah Rosul di kalangan umatnya dan org2 kepercayaan diantara pengikutnya. Nggak ada yg brhak menyandang nama "amanah", kcuali org yg menegakkan di dalam urusan2 itu sikap adil yg murni sebagai "nasihat" bg Allah, Kitab-Nya, Rosul-Nya dan bg para hamb-Nya, bukanlah (org amanah itu) org yg menjadikn teman2nya, keyakinan dan pendapatnya sbg barometer bg al haqq (kebenaran) dan sbg penimbang baginya; ia pun memusuhi org yg menyelisihinya, dan mencintai org yg mencocokinya, krn sekedar kecocokan dan penyelisihannya. Nah, manakah penegakan keadilan yg Alloh wajibkn atas setiap org?! Sdgkan ia (sikap adil) itu di dlm prkara ini lbh fardhu dan lbh wajib". (ar Risalah at Tabukiyah, hal 31-32, cetakan Maktabah al Madani.)
Allah subhanahu wa taala memerintahkn Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam selaku pemutus dan hakim diantara manusia untuk brlaku adil. Inilah fungsi seorg rosul di tengah umatnya, ia memberikn hukum dg adil.
Allah taala brfirman memerintahkn beliau untuk brlaku adil:
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آَمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ  [الشورى/15]
"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)". (suroh Asy Syuro : ayat 15)
Al Imam al Hafzih Ibnu Qoyyim az Zar'iy rohimahulloh:
والله تعالى يحب الانصاف بل هو افضل حلية تحلى بها الرجل خصوصا من نصب نفسه حكما بين الاقوال والمذاهب وقد قال الله تعالى لرسوله وأمرت لأعدل بينكم فورثة الرسول منصبهم العدل بين الطوائف وألا يميل احدهم مع قريبه وذوي مذهبه وطائفته ومتبوعه بل يكون الحق مطلوبه يسير بسيره وينزل بنزوله يدين بدين العدل والإنصاف
"Allah mencintai sikap inshof (adil), bahkan ia adalah seutama2nya prhiasan yg dijadikn hiasan oleh seseorg, khususnya lg org yg mengangkat dirinya sbg hakam (pemberi hukum) diantara brbagai pndapat dan madzhab. Sungguh Alloh taala brfirman kpd Rosul-Nya :…(lalu beliau membawakan firman Alloh yg brgaris bawah pd ayat di atas).
Jd para pewaris Rosul (yakni, org2 berilmu), tugas mereka adalah bersikap adil diantara brbagai golongan dan agar seorg diantara mrk tidak condong kpd kerabatnya, org yg semadzhab dgnya, kelompoknya dan pimpinannya, bahkan kebenaran adalah tujuannya, ia berjalan sesuai kebenaran dan ia singgah (berhenti) dimana kebenaran itu brhenti. Ia tunduk kpd sikap keadilan dan inshof". (I'lam al Muwaqqi'in, 3 : 116)

Wahai saudaraku ahlussunnah salafiyyun, inilah yg kadang hilang dari diri sebagian dai. Saat mereka mentahdzir dan mengeritik saudaranya yg lain dr kalangan ahlussunnah jg, maka segolongan diantara mereka ada dai yg memberikn dukungan kpd si pentahdzir tsb, walau pun si pendukung ini tahu bhw kritikan itu salah dan batil. Hanya krn si pentahdzir itu adalah gurunya, pimpinannya, atau mgk teman kerjanya, atau org yg ia cintai, maka ia pun dg gegabah memberikan pembelaan yg curang lg zalim bagi si pentahdzir demi menjatuhkn saudaranya yg lain selaku dai.
Sungguh ini adalah sikap tidak jujur pd diri mereka! Jika sikap jujur dan adil saja dituntut adanya pd kaum kafir, ahli bid'ah dan pelaku maksiat, nah apalagi pd saudara kalian yg ahlus sunnah.
Hal yg seperti ini seringkali trjadi pd hari2 ini, disebabkn adanya sikap fanatik, hawa nafsu, ashobiyah dr sebagian golongan kpd dai trtentu. Smua ini muncul, krn kurangnya ilmu mrk ttg manhaj para ulama sunnah, shingga lahirlah semacam sikap keras yg brlebihan dan sikap ketergesa2an dlm menghukumi, sebuah sikap yg melahirkn kerusakan yg besar, walaupun mereka masih menyangka bhw dirinya melakukan prbaikan dan dakwah ilalloh. Padahal hakikatnya bukan dakwah ilalloh, tp dakwah ilannafsi wa jam'il atba' (memperbanyak pengikut), la haula wala quwwata illa billah.
يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ  [هود/88]

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda