Sabtu, 25 Januari 2014

Fakta di Balik Fatwa


(posted on 25 Robiul Awal 1435 H)
Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib Al-Úmari hafizhahullah berkata: "Tahdzir terhadap Ust. Dzulqarnain sudah dicabut (TIDAK BERLAKU LAGI) dengan keluarnya Surat ke-2 dari Asy-Syaikh Hani bin Buraik hafizhahumullah".

"Fakta di balik Fatwa"
Tanya Jawab bersama Al-Ustadz Abu Muawiyah Asykari *16 Rabi‘ul Awwal 1435H -- 18/01/2014M* --Masjid Ibnu Taimiyah, Solo—
[Tanya] Tentang surat Syaikh Shalih Fauzan yang dibacakan oleh Syaikh Adil Mantsur ada yang mengartikan bahwa di Indonesia sudah ada Mufti yang bisa dimintai FATWA yaitu Ust. Dzulqarnain … Apakah benar pengertian dari surat tersebut?
[Jawab] Saya tidak memahaminya seperti itu. Ya. Kalau ada Mufti di Indonesia ini...? Kalau yang namanya MUFTI banyak..! Yg namanya MUFTI BIN FULAN banyak … tapi kalau MUFTI AHLI FATWA …? Allahul musta'aan. Ada cerita yg disebutkan oleh Syaikh Abdullah Al- Bukhari tapi saya tidak ingin ceritakan. ya.. Na'am.
[Tanya] Dengan adanya hal (surat, pen) tersebut, maka orang- orang yang menyampaikan atau yang membacakan surat Syaikh Hani yang pertama harus meminta maaf kepada Ust Dzulqarnain. Bagaimana hal seperti ini?
[Jawab] Jadi sekarang terbalik … keluar FATWA SYAIKH RABI’ dan TAHDZIR Ust. Dzulqarnain .. ada ana bawakan. Na'am. Sekarang terbalik ~ Syaikh Rabi’ salah dalam berfatwa ~ Syaikh Hani mendengar dari satu pihak ~ Ustadz-Ustadz menyampaikan berita dusta, yang benar hanya satu ~ yang lain itu salah semua!!! ya.. Padahal syaikh Rabi mentahdzir ~ tahdzir mufashshal, ~ yang jelas, ~ yang rinci sesuai dgn waqi’. Apa kewajiban org yg sudah ditahdzir? Semestinya mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta'ala: ~ kecuali orang-orang yang bertaubat, ~ sesudah itu memperbaiki apa yang telah mereka rusak ~ dan kemudian menjelaskan….” ... menerangkan, bukan diam. “oh saya lebih baik diam! Kalau ngomong nanti bikin fitnah...” TIDAK!!! HARUS DIJELASKAN. Maka selama belum terpenuhi 3 syarat ini, maka tahdzir itu tetap berlaku. Ini yg harus difahami. Jangan dibilang syaikh hani minta maaf … g ada dalam surat minta maaf. ya. Dengarkan ini, perkataan Syaikh Rabi bin Hadi hafidzahullahu Ta'ala, yang saya dengarkan langsung setelah shalat Maghrib, setelah terjadi pertemuan (Ust. Dzulqarnain dan Syaikh Rabi, pen.), maka saya mendatangi bersama salah seorang ikhwan yang tinggal di Makkah, datang Syaikh Rabi’ menanyakan tentang hal ini, maka nash ucapan Syaikh Rabi, ini nashnya: Kata beliau: “Saya telah menasihatinya dan beliau menjanjikan kebaikkan. Kalau benar Alhamdulillah. Kalau tidak benar, maka ini perkara lain. Setiap permasalahan ada hukumnya tersendiri.” Janji sudah menyatakan taubat, iya kan? Alhamdulillah dan itu sudah ditulis dengan penuh kemudahan untuk bertaubat, untuk kembali. Alhamdulillah. Kan janji ada yang ditepati dan ada pula yg tidak, maka kita menunggu. Na'am. Selama tidak ada Al-Ishlah wa Tabyi (perbaikan dan penjelasan), maka tahdzir itu berlaku. Ini juga yang dinasehatkan oleh Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari hafidzahullah ketika kami bertemu beliau di Madinah setelah Shalat Jum'at bahawa dia harus bisharrihh (memperjelas dalam hal-hal apa yang dia rujuk). Dan ini juga nasehat dari Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madhakhai hafidzahullahu ta'ala. Saya kira nasehat dari ketiga-tiga masyaikh ini sudah cukup. Na'am.
[Tanya] Pasca tahdzir Syaikh Rabi' terhadap Ust. Dzul, ternyata muncul bantahan-bantahan dari orang-orang fanatik dengan beliau bahkan ada yang langsung dikirim melalui SMS ke hp-hp kami. Mohon nasehatnya.
[Jawab] Kalau g mau membaca bantahan-bantahan itu, matikan hp nya. Ya, atau ganti nomornya. Ya, daripada pusing membaca SMS yang beredar kadang-kadang tidak h sumbernya. Daripada menyibukkan, jangan dipedulikan. Ya, yang penting bagi kita mengamalkan nasehat masyaikh, mengamalkan nasehat para ulama, ya. Apabila sudah terpenuhi 3 syarat, Alhamdulillah dan itu yang diperintah oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Saya kira sampai di sini ya ikhwan, Wallahu Ta'ala A'lam Bishshawab.
"Demikian skenarionya"
FAKTA
 « Benarkah demikian ??? Rangkaian kata-kata di atas adalah skenario yang kita saksikan di depan layar.. Bagaimana dengan realita di balik layar ???
Skenario berikut ini adalah realita di balik layar dengan sanad yang "Muttashil lagi 'aali" walaupun namanya tidak disebutkan, tapi biarlah lembaran kalender yang menjadi Syawaahid (saksinya).
Begini ceritanya...Salah seorang yang mengetahui perjalanan umrah Ustadz Dzulqarnain menceritakan bahwasanya pertemuan antara beliau dengan Syaikh Rabi' terjadi pada hari Jumat ba'da maghrib tgl 23 Shafar 1435H / 27 Desember 2013 waktu setempat. Adapun Al-Ustadz Askary bertemu Syaikh Rabi' sekitar hari senin tgl 26 Shafar waktu setempat. Lalu dia pulang ke indonesia kalau tidak salah (ghalabatuzhan) hari Kamis 29 Shafar. »FAKTA« Surat Syaikh Hani dgn persetujuan Syaikh Rabi diterbitkan pada hari Sabtu 2 Rabiul Awal waktu Mekkah. Adapun Ustadz Askari berada di Madinah sebelum ke Mekkah dan setelah di Mekkah langsung pulang ke Indonesia pada tanggal sebelum diterbitkannya surat tsb. Sekarang para pembaca yang budiman bisa melihat skenario yang dibuat dengan sentuhan bahasa dengan berdalih "adab mengikuti fatwa para ulama". Namun demikianlah perkataan seorang penyair. "Hari-hari yang silih berganti akan memperlihatkan untukmu yang dahulu tak engkau ketahui... Dan ia akan membawakan untukmu berita yang engkau tidak siap menerimanya" »FAKTA« Diketahui bagaimana dia mengatur skenario di depan layar seakan ucapan yang ia nukil dari Syaikh adalah setelah surat keluar, namun ternyata fakta dibalik layarlah yang mendustakannya. Juga dia menguraikan skenario ucapan Syaikh Abdullah Al-Bukhari dan Syaikh Muhammad bin Hadi seolah-olah setelah bayan keluar (ooh Tadlis)..!! Padahal dia ketemu dua Syaikh itu di Madinah sebelum ketemu dengan Syaikh Rabi' (sungguh tragis).. »FAKTA« "Biarlah yang mengetahui sumber apinya yang akan memadamkan api fitnah di antara kita" adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib Al-Umari salah seorang Syaikh yg disebutkan oleh Syaikh Hani bin Buraik sebagai saksi bersama Syaikh Arafat ketika surat pertama keluar (ingat kan??)..
Salah seorang pelajar dari Fuyus yang menyampaikan berita itu.. Begini beritanya... Yaman -waktu setempat- Ikhwan yang bertemu Syaikh Muhammad bin Ghalib menceritakan: Tadi pertemuan dgn Syaikh Muhammad Gholib.. ba'da dzuhur.. Kesimpulannya, tahdzir terhadap Ustadz Dzulqarnain mansukh (sudah tidak berlaku) dgn terbitnya surat Syaikh Hani bin Buraik yang ke-2.. Boleh ta'lim kepada Ust. Dzulqarnain...Dikirim lewat WA oleh Ust. Firman Kendari tullab Fuyus, Yaman hari ini. Adapun ucapan Syaikh Al-Bukhori itu keluar 1 atau 2 hr sebelum keluar surat Syaikh Hani yg ke 2.
Jadi kata Syaikh Muhammad Gholib semuanya mansukh (sudah tidak berlaku) dgn keluarnya surat bayan yg k 2.... Jd masalah ini SELESAI (clear) Walhamdulillah...
WA dr Ust. Firman Kendari di Fiyus, Yaman. karena Syaikh Muhammad bin Gholib adalah orang Yaman dan sering berkunjung ke fiyus.. "Fakta di balik Fatwa" (Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum)

Renungan dan Catatan dr Pelita Sunnah:
Benar tidaknya semua berita di atas atau mansukh tidaknya fatwa Syekh Rabee', maka ada baiknya kita kembali ke hukum asal fatwa bahwa fatwa adalah ijtihad seorg alim (ulama), mgk benar atau mgk pula salah.
Namun dr hasil penelitian yang ada, fatwa itu tidaklah benar, krn tidak sesuai dengan realita yg disampaikan oleh sebagian org yg mengadu kepada syekh rabee' (dlm hal ini Lukman ba Abduh, cs.). Sumber berita adalah org2 yg tidak bertanggung jwb.
Syekh rabee' tidaklah mengetahui hakikat kejadian yg ada di Indonesia. Beliau hanya mendapatkn laporan dr sebagian org yg tidak bertanggung jawab. Beliau dlm hal ini membangun fatwa dr info tsb sebagaimana yg ada dlm fatwa dan jg melalui pemberitaan dr sebagian org yg mengetahui persis ttg keluarnya fatwa itu.
Kesalahan dlm fatwa bukanlah aib bg ulama. akan tetapi aib itu akan kembali kpd sumber berita yg mengabarkn sesuatu yg tdk benar kpd syekh.
Barangsiapa yg menyatakan bhw fatwa hrs diterima dan syekh rabee' tdk mgk salah, maka ia secara tdk langsung telah mengangkat beliau ke derajat kenabian. Tentu ini adalah sikap ghuluw!!
Bagaimana pun hati2nya seorg ulama, maka pasti ia pernah salah dlm fatwanya. Para ulama telah lama berfatwa dan kita telah menyaksikan bhw nggak ada ulama ma'shum (trjaga) dr kesalahan, siapa pun orgnya, selain Rosululloh -Shollallohu alaihi wasallam-!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar