Rabu, 01 Januari 2014

Nasihat Emas buat ust. Ayif syafruddin Terkait Sanggahannya kpd Ust. Abdul Barr


(posted on 01 Robi'ul Awwal 1435 H)
Ternyata tulisan ust abdul Barr hafizahulloh yg berjudul “Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Ba’abduh” mendapat sambutan hangat dr para salafiyyun, antara yg setuju dan itu byk dg yg tdk setuju dan tak perlu dipeduli. Diantara yg menyambutnya, al ust. Ayif syafruddin Solo dlm sebuah tulisannya yg brjudul "Kisah yang Menyimpan Tanya". Hanya disayangkan, tulisannya tidak meluruskn justru mengaburkn. Agar ust ayif mendapatkn faedah emas, perlu kiranya kami memberikan sedikit masukan kpd beliau agar lurus dlm bersikap.

Nasihat ini kami akan jelaskan dengan metode dialog sebagaimana yg ada dlm tulisan2 kami sebelumnya agar tidak membosankan pembaca dan mudah dicerna.

Ust. Ayif brkata:
"Kini, apa yang jadi dasar pijak ustadz Abdul Barr sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Mungkinkah beliau pernah mendapat kepastian berita bahwa salafiyin Indonesia bermusyawarah dan secara sepakat mengangkat nama Luqman Ba’abduh sebagai orang yang menggantikan Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Ah, rasanya kemungkinan ini musykil. Orang secerdas beliau tentu tak akan mudah percaya menerima berita seperti itu. Jadi, atas dasar apa –kalau begitu– sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Atau, penyebutan nama Luqman Ba’abduh itu cuma akal-akalan ustadz Abdul Barr saja? Nah, untuk menjawab hal itu tentu tidak sulit selama beliau masih memiliki niat yang baik dan bersikap jujur. Kita akan tunggu alasan apa yang mendasari penyebutan nama Luqman Ba’abduh. Tentunya, alasan yang tidak direkayasa dan diatas  kejujuran".

Sanggahan:
Di saat ust. abdul barr berkata: “Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami Asy-Syaikh AbdurRahman Al-Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, “Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan, “Luqman Ba’abduh ya Syaikh”.
Mengapa beliau berkata begitu? Mungkin beliau lakukan dg bbrp alasan berikut:
pertama: Perlu ust ayif pahami dg baik bhw ust. Abdul barr hafizahullah brkata begitu bukan karena nggak ada alasan. Kalo tanya alasannya sih gampang insya Allah. Alasan beliau boleh jd krn beliau telah mendengar bhw di Indonesia ust yg paling berkuasa dan paling didengar ucapannya adalah lukman ba abduh, shingga nggak ada salahnya beliau bilangnya kayak gitu.
Kedua: Kami saja kalau hari ini ditanya, siapa yg menjadi org yg paling didengar di kalangan salafiyyun di Indonesia, kami katakan ya ust. lukman ba abduh. krn kelihatannya ia paling byk didengar petuahnya di majalah asy syariah, di ponpes al anshor, di jember, di ponpes Ibnu Qoyyim balikpapan, ponpes2 lainnya di Indonesia yg berada di bawah pengaturan tangan lukman.
Contoh: ust Askari Abu Karimah sebelum munculnya fatwa syekh rabi, jg disikapi oleh lukman, krn tak mau menuruti apa yg diperintahkn lukman ba abduh.
Kejadian2 telah membuktikan demikian sebagaimana yg anda dpt lihat dlm tulisan ust. Abdul Mu'thi Al medani di : http://pelita-sunnah.blogspot.com/2013/12/fenomena-dakwah-salafiyah-di-indonesia.html
Dengan model pengaturan dan kontrol dr lukman atas ust2 tsb akan memberikan opini bhw lukman ba abduh slama ini mau mengatur dan menguasai dakwah di Indonesia. Ini lbh diperparah lg dg sikap lukman cs kpd ust2 lain bhw di saat lukman dlm dakwahnya biasa men-tahdzir sbagian org. Jika ia sdh mentahdzir, ia haruskn ust lain agar brsikap sama dg sikapnya. Contoh, di saat ia tahdzir syekh yahya, ia sdh duluan mentahdzir sebelum ada arahan dr ulama2. Ust. lain yg belum mentahdzir langsung disikapi jk tak mentahdzir, padahal mrk dlm hal msh ta'anni (hati2) dan menunggu bimbingan para ulama. Walapun perlu kami sampaikn bhw ust2 tsb yg ia sikapi alhamdulillah- jg sdh mentahdzir syekh yahya, bukan krn tekanan lukman, tp dg arahan ulama. Adapun lukman, maka ia slalu trgesa2. Syekh rabi sj blm nyikapi syekh yahya al hajuri, lukman ba abduh sdh menyikapinya dan menyikapi kita2 yg tdk mau bersikap saat itu. Katanya hrs ada bimbingan ulama? Diantara ust2 yg kena imbas dr sikap pengharusan itu, ust dzul dan lainnya yg tdk sama sikap dg lukman.
Disini jgn dipahami bhw kami membela syekh yahya. Kami sebutkn hal ini sekedar contoh.
Bukti paling terbaru, adanya fatwa syekh rabi trkait pribadi ust Dzul hafizahulloh. Lukman, cs dlm hal ini mengharuskn org untuk satu sikap dlm men-tahdzir ust. Dzul. Padahal fatwa yg ia bawakan msh memiliki kemungkinan yg perlu dipertanyakan, baik itu berupa sumber berita dr fatwa, teks tanya jawab dan prolognya. Kita dlm mendengar fatwa hrs mengetahui hal itu agar tak salah dalam memberikn hukum kpd ust Dzul.
Ketiga : opini dlm masyarakat salafiyyun di Indonesia, apalagi di jawa, hampir memastikn bhw Lukman adalah nomor wahid dan paling didengar disana. Ini di kalangan awam salafiyyun, apalagi ust2 salafi yg amat paham keadaan sejak muncul dan bubarnya laskar jihad.
Jika ust. Ayif mencari alasan dr ust abdul barr, amat aneh bg kami yg mendengar dan membacanya. Apakah pertanyaan ini dr lubuk hati ataukah hanya sekedar memalingkn opini dr isi tulisan ust abdul Barr yg berisi realita nyata yg sulit dipungkiri oleh setiap org yg jujur.

Ust. Ayif brkata:
"apa sebenarnya motif penyebutan kisah tersebut? Sungguh, satu hal yang sangat tidak baik apabila peristiwa itu –kalau benar-benar terjadi– dipolitisir untuk menghancurkan kehormatan seseorang. Apalagi kehormatan seseorang yang namanya dikenal para ulama sebagai da’i Ahlu Sunnah. Bukan nama yang para ulama memiliki “catatan kelam” terhadapnya. Nah, sekarang. Bagaimana jika peristiwa itu sendiri tidak diakui kebenarannya lantas beliau tetap bersikukuh menyebarkan pada khalayak ramai? Tentu, ini merupakan tindakan tidak bertanggungjawab, jauh dari nilai kejujuran dan hanya orang yang tidak berakal sehat yang akan melakukannya".
Sanggahan:
pertama : Sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh ayif, sebenarnya lbh layak dihadapkn kpdnya dan lukman ba abduh, jgn balik bertanya untuk menghindar.
Kedua : peristiwa yg disebutkn oleh ust abdul Barr bukanlah kisah yg dipolitisir untuk merusak kehormatan lukman ba abduh, tp beliau sebutkn sbg teguran bg lukman bhw sejak dahulu syekh dan ust abdul barr memiliki perhatian dg dakwah salafiah yg ada di Indonesia.
Ketiga: Sebenarnya kalau mau jujur bhw ust abdul Barr kala itu msh dlm barisan Lukman ba abduh, sehingga tak perlu dicurigai apa maksud dr pertanyaan beliau kpd syekh abdur rahman al-adni.
Keempat: Di saat ayif brtkata: "Apalagi kehormatan seseorang yang namanya dikenal para ulama sebagai da’i Ahlu Sunnah. Bukan nama yang para ulama memiliki “catatan kelam” terhadapnya", maka kita katakan kpd ust ayif : mengapa anda tak menyatakan hal seperti ini kaitannya dg kehormatan ust dzul yg kalian kotori dan cemarkan di majelis taklim dan dauroh2, bahkan dicari-carikan fatwa untuk menjatuhkn beliau. Ust. dzul dilaporkn ke syekh secara langsung, maupun tak langsung melalui perantara masyayikh yg dtg isi dauroh di jogja atau mgk jg via telepon, dll.
Kelima: Di kala ayif brkata: "Nah, sekarang. Bagaimana jika peristiwa itu sendiri tidak diakui kebenarannya lantas beliau tetap bersikukuh menyebarkan pada khalayak ramai? Tentu, ini merupakan tindakan tidak bertanggungjawab, jauh dari nilai kejujuran dan hanya orang yang tidak berakal sehat yang akan melakukannya",
apakah ia berpikir atau hanya trbawa perasaannya saat membaca tulisan ust abdul barr. ia amat kasihan melihat lukman dibahas oleh ust abdul barr. Kenapa pernyataan dan pertanyaan ini nggak diarahkan kpd lukman, cs yg berusaha siang dan malam menyebarkan sesuatu yg tak benar ttg diri ust. dzulqornain hafizhulloh. Kalo ayif jujur, maka ia akan menasihati lukman ba abduh dg kalimat indah seperti ini di saat ia melihatnya mentahdzir ust dzul dan lainnya disana-sini. Tapi aku yakin ayif tak akan menyampaikan nasihatnya. Takut sm lukman ba abduh? Mungkin saja, itu nggak jauh dr kemungkinan sebagaimana dlm realita yg diceritakan kpd kami oleh ust abdul Mu'thi dan ust2 lain yg tak sejalan dg lukman dlm dakwah.

Ayif berkata:
"Penyebutan kisah tersebut tentu akan memberi dampak yang tidak baik bagi dakwah salafiyah. Berbeda bila nama yang disebutkan telah dinyatakan ulama sebagai orang yang bermasalah dan umat diingatkan agar berhati-hari darinya. Maka untuk kasus semacam ini, tentu sebuah keharusan menjelaskan sepak terjang orang dimaksud agar umat tidak terpengaruh oleh dakwah dan seruannya".
Sanggahan:
1.    Jika tak ingin dsinggung, nah jangan nyinggung org sprt kata pepatah: Kalo nggak mau dicubit org, ya jgn nyubit org!
2.    Jika ada org yg dipermaslahkan oleh ulama krn laporan yg keliru, apa halal bagi ayif dan lainnya untuk menyebarkan sesuatu yg dianggapnya sbg penyimpangan org itu, padahal boleh jadi bukan penyimpangan, bahkan itu hanyalah kesalahpahaman, seperti yg trjadi pd ust Dzul dlm kejadian belakangan ini.
3.    Kalo orgnya betul menyimpang kita jg sepakat menasihatinya dlm waktu yg dipandang perlu, bahkan jika tiba saatnya kita jauhi dan tahdzir. Kami jg dan ust lainnya nggak alergi dg tahdzir. Cuma jk tahdzirnya serampangan, nah ini yg kita ingkari!

terakhir Ayif berkata :
"sungguh sangat disayangkan bila kisah tersebut dijajakan dalam rangka “membalas” terhadap orang yang dianggap telah menelanjangi teman seiringnya. Padahal kalau kita mau sedikit saja berlapang dada dan bersikap tawadhu, niscaya enggan untuk “membalas”. Bukankah Allah Ta’ala akan meninggikan kedudukan orang yang bersikap tawadhu?"
Sanggahan :
Pertama : apa yg dilakukan oleh ust. abdul Barr wajar2 sj, krn itu adalah bagian dr ghiroh (kecemburuan) dlm agama yg terpuji, di kala seorg muslim dihinakan, padahal ia mulia, maka harus ada diantara kita yg menjelaskn hakikat dirinya agar tak dijauhi dan tak dihinakan oleh manusia.
Kedua :saya kira ayif juga menulis artikelnya tersebut, karena mau membalas org yg dianggap telah menelanjangi lukman ba abduh. Padahal kalo ayif mau sedikit berlapang dada dan tawadhu', niscaya ia enggan membalas ust. abdul Baar. Bukankah demikian wahai saudaraku?
Ketiga : sikap tawadhu tidaklah menghalangi amar ma'ruf nahi munkar. Apa yg ust Abdul Barr lakukan untuk meredam sedikit apa yg slama ini dilakukan oleh lukman dlm merusak tatanan masyarakat salafiyyun dg mengotak-ngotak para dai dan mad'u. Yg bersikap sama, maka ia adalah teman, sdg yg nggak mau sama sikap, harus disikapi. Penjelasan ust abdul Barr perlu agar kita yg slama ini trlena dan nggak mengetahui hakikat keadaan yg trjadi slama ini. Byk diantara ust apalagi ikhwah yg tak mengetahui hal2 itu, shingga masih sering brbaik sangka kpd lukman, apalagi ia sdh direkomendasi oleh syekh. Padahal rekomendasi bukanlah jaminan bhw org itu nggak prnh salah! Hati2 dg rekomendasi yg sering disalahgunakan untuk melegitimasi setiap sikap, walaupun itu salah!
Keempat: Apa yg dilakukan oleh ust. Abdul Barr hanyalah secuil dr yg ada ttg lukman ba abduh. Beliau tahu bhw adh-dhorurot tubihul mahzhurot wal mahzhurot tuqoddaru bi qodariha.
Bukan seperti sikap lukman yg jauh lbh gesit dlm menceritakan sesuatu yg belum pantas diceritakan kpd semua org. Kemana-mana, pasti isi ceramahnya mengandung hal-hal yg tidak mengenakkan  di telinga. Ia melihat atau mendengar begini, maka ia langsung ekspos, tanpa nasihat dan teguran yg santun. Gimana ia bs menegur, ia sdh pasang sikap duluan. Ini adalah manhaj nasihat dan amar ma'ru nahi munkar yg keliru. Nggak smua yg kita tahu, kita boleh nyampaikannya secara langsung, tanpa pikir maslahat dan madhorotnya.
Adapun Lukman, maka ia adalah manusia yg nggak sabar dlm dakwah, smuanya serba terburu2. Sebenarnya tipe manusia sprt ini nggak layak tentunya menjadi nashihun amin (penasihat yg terpercaya). Bahkan ia sendiri perlu byk dinasihati.

Demikian yg perlu kami tanggapi pada tulisan ayif syafruddin yg berjudul "Kisah Yang Menyimpan Tanya" yg dirilis pd situs : http://tukpencarialhaq.com/2014/01/02/kisah-yang-menyimpan-tanya/

Semoga ini adalah nasihat yg brmanfaat bg ayif syafruddin dan semua pihak yg membutuhkn nasihat seperti ini. Sebenarnya kami berat menulis tanggapan seperti ini, tapi apa boleh buat ayif jg sebarkn tulisannya tsb, shingga perlu kami tanggap agar tak trjadi kerusakan.

يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ  [هود/88]

 

4 Komentar:

Pada 4 Januari 2014 08.19 , Blogger abu musa muslim alatsary mengatakan...

sebuah taggapan yang cerdas. nampak lahir dari jiwa yang tenang dan tidak emosional. baarokallahu fiik ustadz.

 
Pada 6 Januari 2014 06.29 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

wa iyyakum. Smoga Allah menuntun kita smua kpd jalan yg trbaik.

 
Pada 11 Februari 2014 22.25 , Blogger Abu Musa Pangkah mengatakan...

Bismillah. Afwan tulisan diatas kok tidak ada nama penulisnya? Jadi ibarat hadits tidak ada sanadnya. Bagaimana umat bisa percaya?

 
Pada 11 Februari 2014 23.06 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

Sengaja akh, biar nggak ada yg dendam pd pembawa kebenaran. Kebenaran tdk mesti diketahui siapa pembawanya. Kalo nggak percaya, ya itu urusan anda.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda