Kamis, 13 Maret 2014

Hilangnya Rasa Keadilan, Disaat Malu Telah Tiada (Menelaah Sikap Al-Ustadz Luqman Ba'abduh dan yang bersamanya yang tidak punya rasa malu)


Malu adalah kata yang ringan untuk diucapkan dan terkesan remeh dipendengaran. Akan tetapi malu adalah sifat yang sangat mulia dan memiliki nilai yang agung di sisi Allah subhanahu wata’ala, suatu sifat yang akan menghiasi diri seorang hamba dengan keindahan akhlak dalam berperilaku.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا كَانَ الحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah ada sifat malu itu pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Sifat malu adalah suatu akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasa malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan pula. Karenanya sifat malu merupakan wasiat dari para anbiya` sejak dari zaman ke zaman kepada umat mereka, agar mereka bisa menjaga sifat malu mereka, karena hal itu akan menjaga kehormatan mereka di dunia dan jasad mereka di akhirat dari An-Nar.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

وفي رواية لمسلمٍ : (( الحياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ )) أَوْ قَالَ : الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

“Sifat malu itu baik semua akibatnya.” Atau beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Malu itu semuanya baik akibatnya.”

Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang hamba. Karena itu, manusia yang paling beriman yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling pemalu, bahkan melebihi malunya para wanita yang dalam pingitan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)
Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الحياء و الإيمان قرنا جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Al-Hakim dengan penilaian ‘shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir, no. 1603)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, maka kami dapat mengetahuinya di wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

Gadis dalam pingitan adalah gadis yang sangat pemalu, gadis yang belum pernah menikah dan tidak pernah bergaul dengan lelaki.

Apabila seseorang tidak lagi memiliki rasa malu maka dia akan berperilaku buruk, mengikuti apa saja yang sesuai dengan keinginannya. Ini dikarenakan rasa malu yang merupakan faktor penghalang dari berbagai tindakan buruk tidak lagi terdapat pada diri orang tersebut. Siapa yang sudah tidak lagi memiliki rasa malu akan tenggelam dalam berbagai perbuatan keji dan kemungkaran.

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari)

Salman al-Farisi radhiallahu’anhu mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ

“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

(Hadits mauquf (atsar shahih) kepada Salman, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar. Lihat Silsilah Dhaifah karya al Albani no. 3044).
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan,

الحياء والإيمان في قرن ، فإذا سلب أحدهما اتبعه الآخر

“Rasa malu dan iman itu satu ikatan. Jika dicabut salah satunya maka akan diikuti oleh yang lain.” (Diriwayatkan dalam Mu’jam Ausath secara marfu’ dari Ibnu Abbas no. 8548, Namun riwayat yang marfu’ ini dinilai sebagai hadits palsu oleh al Albani dalam Dhaif Jami’ no 1435 Namun yang benar hadits mauquf kepada Ibnu Abbas, Adh-Dhaiful Jami’ no 1435)

Rasa malu kepada Allah adalah di antara bentuk penghambaan dan rasa takut kepada-Nya. Rasa malu ini merupakan buah dari kekokohan seseorang di atas aqidah yang benar (dengan mengenal Allah dan kebesaran-Nya). Dengannya ia menyadari bahwa Allah itu dekat dengan hamba-hambaNya, mengawasi perilaku mereka.

Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan, alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh seseorang. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berkata,
“Hakikat sifat malu itu ialah suatu budi pekerti yang menyebabkan seorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak lengah untuk menunaikan haknya seorang yang mempunyai hak.”
Beliau melanjutkan,
“Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al Junaid rahimahullah, beliau berkata,
‘Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu’.” (Riyadhus Shalihin)

Rasa malu itu ada dua macam. Yang pertama adalah rasa malu kepada Allah. Yang kedua adalah rasa malu kepada sesama manusia.

Saudaraku…

Tidaklah kejelekan yang telah merusak tatanan persatuan Ahlus Sunnah dan da’wah salafiyyah di negri kita ini melainkan disebabkan api fitnah yang telah dikobarkan oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa malu. Merekalah Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya.

Tidakkah mereka sadar terkhusus Al-Ustadz Luqman Ba’bduh, ketika terjadi Ishlah 2005 M maka ditutuplah lembaran hitam kiprah da’wah mereka dan dibukalah lembaran baru yang putih bersih untuk memulai kembali membangun da’wah yang mulia ini diatas bimbingan para ulama. Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya tidak pernah lagi meminta ruju’ mereka dan juga tidak mempersyaratkan adanya perbaikan dan penjelasan atas fitnah yang telah mereka tebarkan, bahkan tidak pula terlontar di lisan Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya agar menangguhkan diterimanya ilmu mereka selama satu tahun. Mengapa hal ini dilakukan oleh Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya???, karena kemashlahatan untuk Salafiyyun itu lebih utama, Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya banyak memberikan udzur kepada mereka sebagai sebab terjadinya persatuan dikalangan Ahlus Sunnah. Bahkan apa yang kita liat setelah Ishlah mereka mengadakan Dauroh Ishlah, bagaimana sekiranya Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya memberlakukan syarat satu tahun untuk diterimanya ilmu mereka?.

Ternyata Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya tidak menghargai kebaikan saudaranya ini, Ishlah 2005 M dia robek kembali, saat Daurah di Slipi Al-Ustadz luqman Ba’abduh mengatakan "Masa ustadz kadzdzab, bagi yang ingin reuni dan muroja’ah, yaa silahkan dengarkan kembali kaset Al Ustadz Asykari yang berjudul “ Silsilah Al Kadzdzaabiin” (rekaman sebelum terjadi Ishlah 2005 M)), silsilah sejarah para pendusta al kadzdzaabiin, disebutkan misalnya perowi-perowi pendusta terus sampai di zaman ini adalah Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi". Inilah ucapan yang akan menyingkap kembali tabir hitam kiprah da’wahnya yang dia belum ruju’ darinya.

Saudaraku…

Perhatikanlah foto yang saya sertakan dalam catatan ini, foto tersebut saya ambil dari situs Al-Akh Purwito (Abdul Ghafur Al-Malanjy) hadahullah. (dia menyajikan bukti dusta yang menyelisihi fakta)

Perhatikan pula ucapan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed ini : “TANGAN mereka BERDARAH…”, astaghfirullah, “Siapa PIMPINAN FATWA nya ketika itu ——» komisi FATWA nya ketika itu adalah DZULQARNAIN IBNU SUNUSI…!!” Dia nggak TERLIBAT…?? Nggak BERDARAH tangannya…?? AJIIIB…!! ALLAHU YAHDIH… ALLAHU YAHDIH NA WAIYYAH.” (sudah saya beri tanggapan sedikit di status saya sebelumnya tentang ucapan beliau ini)

Data dan fakta dilapangan jauh berbeda dengan apa yang mereka tampilkan (suguhkan) kepada Ahlus Sunnah. Ketahuilah!... Saat bubarnya Laskar Jihad pada tahun 2002 M yang menjadi Dewan Fatwa (Mufti) LJ adalah Al-ustadz Asykari. Lihatlah bentuk kelicikan asatidzah mantan LJ, di saat ruju’ saja mereka masih saja menebar kedustaan. Mana nama Al-Ustadz Asykari???. Sedang fakta yang kita saksikan bahwa Al-Ustadz Dzulqarnain Keluar dari Dewan Fatwa LJ pada tahun 2001 M yang kemudian digantikan oleh Al-Ustadz Asykari.

Dan bentuk ruju’ Al-Ustadz Dzulqarnain, Al-Ustadz Khidir dan yang bersama mereka dari penyimpangan Laskar Jihad saat itu adalah (1) keluarnya mereka dari kepengurusan Laskar Jihad, (2) Al-Ustadz Dzulqarnain menyampaikan muhadharah berupa nasehat [dua kaset] yang kemudian dibalas oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan yang bersamanya dengan puluhan kaset tahdzir, (3) mereka melaporkan 10 point penyimpangan Laskar Jihad kepada para ulama, yang mereka sendiri jatuh pada beberapa point penyimpangan tersebut, dan (4) di kajian-kajian mereka, mereka menyesali kesalahan-kesalahan mereka di masa LJ, seperti demontrasi, dll bahkan mereka menjelaskan ushul Ahlus Sunnah yang mana mereka pernah menyelisihinya. Cukuplah 4 hal ini menjadi bukti ruju’nya Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya dari LJ.

Setelah bubarnya Laskar Jihad/FKAWJ bukan berarti fitnah telah berakhir, Al-Ustadz Luqman Ba’abduh bukannya bersyukur kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya dengan bubarnya LJ/FKAWJ akan tetapi mereka terus mengobarkan api fitnah dan kedustaan kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya selama kurang lebih tiga tahun berturut-turut sampai terjadinya Ishlah tahun 2005 M. Karena itulah setelah bubarnya LJ/FKAWJ al-Ustadz Luqman Ba'abduh dan yang bersamanya tetap melarang Salafiyyun belajar (mengambil ilmu) kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang besamanya sampai terjadi Ishlah 2005 M.

Permasalahan… adakah Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan yang bersamanya mengumumkan ruju’nya dari fitnah yang telah mereka kobarkan antara setelah bubarnya LJ dan Ishlah 2005 M sebagaimana yang tertulis dalam “hasil Ishlah” yang di tandatangani para asatidzah saat itu???. Fakta : ternyata hasil Ishlah tersebut mereka sembunyikan di beberapa daerah, termasuk di Balikpapan. Adakah mereka mengamalkan ayat “illalladzina tabu wa ashlihu wa bayyanu”?.

Seharusnya orang yang memiliki rasa malu, dia akan melihat aib dirinya sebelum mengurusi aib saudaranya. Rasa malu itulah yang akan menahan lisannya dari mencela dan menjatuhkan saudaranya. Rasa malu akan melahirkan sikap inshof dan adil dalam menyikapi kesalahan saudaranya dengan bertemu empat mata, bertatap muka, saling mengingatkan sebagai saudara. Apabila saudaranya menentang nasehatnya barulah dilaporkan kepada para ulama.

Akan tetapi orang yang tidak lagi memiliki rasa malu adalah (1) orang yang tidak bisa bersyukur atas kebaikan saudaranya yang telah banyak memberikan udzur kepadanya, (2) selalu menghindar saat bertemu dengan saudaranya yang ia berselisih dengannya, (3) menyerang dari belakang, (4) membuat makar kepada para ulama untuk menjatuhkan saudaranya, dan (5) orang yg memiliki sifat sombong.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : orang yang sombong akan memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan, dan terhadap orang lain ia akan memandang dengan pandangan kekurangan, (maka sikap inilah) yang mengantarkannya untuk menghina dan merendahkan orang lain, dan tidak menerima kebenaran yang datang dari orang lain. (Jami’ul ulum Wal Hikam)

Saudaraku…

Kita sepakat bahwa (Manhaj) Tahdzir kepada Ahlul Bid’ah adalah prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah. Akan tetapi belakangan ini muncul khilaf tentang “boleh tidaknya dalam sebuah muhadharah (Dauroh) atau kajian yang keseluruhan, atau ½, atau ¼-nya berisi Tahdzir!?”. Dan kita mengetahui Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya selama ini berjalan bersama para ulama dalam masalah ini.

Perhatikanlah!... Asy-Syaikh Utsman As-Salimy berkata : Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah pernah keluar berdakwah ke Shon’a dan beliau mengatakan kepada hadirin untuk tidak bertanya tentang hizbiyin, tidak pula tentang Ikhwanul Muslimin, hal itu juga demi agar tidak lebih menguatkan tuduhan hizbiyun bahwa Ahlus Sunnah kerjaannya hanya berbicara tentang fulan dan fulan. Beliau juga berkata : Dan tidak mengapa kepada para thullabul’ilm engkau ingatkan dari prinsip-prinsip hizbiyin, adapun kepada manusia secara umum hendaklah engkau tanamkan prinsip-prinsip ilmu syar’i, inilah pelajaran manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu manhaj yang dibangun di atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf, engkau ajarkan Al-Qur’an, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, kitab-kitab Sunan, Musnad Ahmad dan kitab-kitab para ulama lainnya. Tidaklah manhaj itu hanya berbicara tentang ahlul bid’ah, mentahdzir dari fulan dan fulan, bahkan yang paling utama adalah tentang agamamu, bukan tentang orang lain.

Syaikh Muqbil rahimahullâh, sering berucap, “Kami dalam membantah ahlul bid’ah hanyalah seperti orang yang berjalan sambil menampar siapa saja yang perlu diberi pelajaran.”

Yang berjalan di atas Manhaj ini bukan hanya Asy-Syaikh Muqbil, tapi juga ditempuh oleh Syaikh Rabi’ dan masyaikh (para ulama) lainnya. Adakah kita menyaksikan atau mendengarkan kaset dari para ulama yang muhadharah mereka ¾, ½, atau ¼-nya adalah berbicara tentang hizbiyyun, fulan dan allan!?. Jelas… tidak sama sekali pernah kita temukan para ulama yang menempuh cara ini termasuk Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi sendiri, kecuali mereka berbicara tentang kelompok yang sangat membahayakan seperti Syi’ah Rafidhah, dan yang semisalnya. [inilah manhaj yang ditempuh oleh para ulama salaf]

Apa yang ditempuh Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya jauh dari penauladanan terhadap para ulama. Bukti yaitu berupa rekaman dauroh-dauroh mereka terutama Al-Ustadz luqman Ba’abduh yang telah tersebar, yang isinya 3/4, atau 1/4, atau ½-nya adalah Tahdzir kepada hizbiyyun, jam'iyyah, dan fulan. Yang dengan ulahnya ini banyak orang-orang awwam menilai negatif da’wah salafiyyah yang mulia ini. Benarlah apayang dikatakan Asy-Syaikh Muqbil di atas.

Akan tetapi Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya tidak merasa bersalah bahkan mereka mencari pembenaran untuk membenarkan Manhaj tahdzir (versi baru) mereka ini. Perhatikanlah tanggapan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed berikut : “Penggembosannya (Al-Ustadz Dzulqarnain, pen) terhadap MANHAJ TAHDZIR – yang dia harus taubat. Kalau mau diulang rincian rekamannya, banyak rekamannya. Seakan-akan perkara tahdzir tidak penting, perkara remeh, perkara yang sedikit aja cukup. Padahal ketika ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Hadi ~hafidzahullah~, beliau menyatakan bahwa RUDUD (bantahan-bantahan) itu seimbang dengan Al-‘ARD (penyampaian).
*Al-‘ARD (PENYAMPAIAN KEBENARAN) ——» diiringi dengan ——» RAAD (PENJELASAN KEBATILAN)* … (Jadi) jangan diremehkan!!! Harus seimbang diantara dua perkara.
Bahkan beliau (Syaikh Muhammad bin Hadi) berkata :
*Kebanyakan kitab-kitab ushul dari pada ulama, itu (asalnya) dari bantahan-bantahan* … Prinsip-prinsip Ahlussunnah, kenapa muncul buku-buku itu…?? Sebab membantah…!! … Sedang membantah ahlul bid’ah!!! “Mereka bukan Ahlussunnah!!! Nih prinsipnya ini nih, bukan yang itu!!! Ini!!! Yang kedua, bukan seperti mereka… Ini!!!, bukan seperti mereka.” … Sehingga ikhwani fiddien a’azzakumullah, “Kalau setiap kajian membantah ahlul bid’ah, itu ngomong apa? Nggak salah? Emang nggak ada kajian lain selain TAHDZIR…!!!???” ——» itu nggak merasa salah dia (Al-Ustadz Dzulqarnain, pen). Nggak merasa kalau itu adalah RACUN YANG TELAH DIMAKAN oleh sekian banyak Salafiyyin di Jakarta, dan dari seluruh Indonesia.”

Lihatlah bagaimana mereka mencari pembenaran atas perbuatan mereka. Lagipula perhatikanlah kembali ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi di atas “Kebanyakan kitab-kitab ushul dari pada ulama, itu (asalnya) dari bantahan-bantahan”. Disini beliau menyebutkan “kitab-kitab”, maka kita pahami bahwa para ulama terdahulu dalam membantah Ahlul Bathil (secara menyeluruh atau 1/2-nya) melalui kitab-kitab, atau tulisan-tulisan, tidaklah ada di majlis-majlis mereka berbicara tentang tahdzir kecuali sedikit. Dan jalan yang mereka tempuh terwariskan secara turun-temurun kepada Ahlul ilmi di masa ini.

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed pun berkata “yang dia (Al-Ustadz Dzulqarnain) harus taubat”. Taubat dari apa ustadz? taubat dari manhaj tahdzir versi baru kalian?, apakah atas dasar ini yang mendasari keluarnya tahdzir Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah kepada al-Ustadz Dzulqarnain?, dari sini kita punya qarinah bahwa khabar yang kalian bawa kepada para ulama adalah khabar dusta, dan sampai sekarang kalian tidak juga mendatangkan tuntutan Al-Ustadz Dzulqarnain.

Adakah selama ini Asy-Syaikh Rabi' hafizhahullah (dan para ulama lainnya) mengadakan sebuah Dauroh yang keseluruhan, atau 1/2 dari materinya berbicara tentang Salman, Safar, Ali Hasan, hizbiyyun, jam'iyyah, dll?. atau judul dauroh mereka untuk mentahdzir fulan, hizbiyyah, jam'iyyah dan ahlul bathil lainnya?. Tidak kita dapati perbuatan/amalan ini dari para ulama kecuali pada diri Al-Ustadz Luqman Ba'abduh dan yang semisal dengannya. Apakah metode Tahdzir yang ditempuh para ulama adalah RACUN???. Bahkan para ulama yang ada di Timur Tengah sering mengadakan dauroh kutub dan mengkhatamkannya,inilah yang ditauladani Al-Ustadz Dzulqarnain.

Demikianlah keadaan ummat apabila urusan agama dipegang oleh orang-orang yang tidak punya rasa malu, terjadilah kerusakan dalam da’wah ini.


Sumber :

Catatan :
1.    Di saat adanya ust Dzul di Laskar Jihad, byk pelanggaran yg diredam oleh beliau. Namun ketika beliau keluar setelah melihat byk penyimpangan, maka bebaslah jafar umar tholib memerintahkan berbagai pelanggaran yg mengerikan. Di sisi lain, Luqman ba abduh saat jafar dipenjara atau di luar Maluku, jg bebas melakukan dan merencanakan byk perkara yg mengerikan.
2.    Keberadaan ust Dzul di Laskar tidaklah brjalan lama. Pasca keluarnya beliau, maka byk keajaiban dan kemungkaran yg dulu beliau larang, namun dilakukan oleh LJ, lantara nasihat dan dukungan Lukman ba abduh dan Askari, serta yg lainnya.

2 Komentar:

Pada 13 Maret 2014 09.18 , Anonymous Anonim mengatakan...

Gue jengkel dech sm smbah luqaman & the genk! Tobat dech loe! Sebelum malaikat mencabut nyawamu!!

 
Pada 13 Maret 2014 21.56 , Anonymous Anonim mengatakan...

Semoga Al-Ustadz Luqman dan yang bersamanya mau merenunginya... Amin

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda