Selasa, 22 April 2014

Melerai Bungkaman dan Menyahut Tantangan, siapa takut?



Pemilik Situs "tukpencarialhaq" (Purwito) Antara Mutajassis dan Tukang Sampah (Bagian: 1)

MaasyaAllah, ternyata status ane telah mengusik kebrutalan pemilik situs setan "tukpencarialhaq" dan apa yang telah Ane prediksikan benar-benar terjadi, lihat di sini:
http://tukpencarialhaq.com/2014/04/11/jawaban-tantangan-untuk-membungkam-tuduhan-tedo-mlm-khabits-hartono/

Sebelum Ane menjawab syubhat Purwito, mungkin ada baiknya Ane menjelaskan tentang ungkapan "situs iblis atau situs setan" juga ungkapan "pencurialhaq".

Ane katakan sebagai situs setan atau situs iblis karena memang situs "tukpencarialhaq" memiliki sifat iblis yang suka mengadu domba.

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; Sesunguhnya Setan telah berputus asa agar disembah oleh orang-orang yang melaksanakan shalat di Jazirah Arab, akan tetapi dengan mengadu domba di antara kalian." (HR: Muslim: 8/138)

Kemudian ane plesetkan "pencurialhaq" dengan merubah satu huruf vokal "a" dengan huruf vokal "u", karena meminjam gaya dan manhaj Purwito dalam banyak tulisan yang juga sering memplesetkan atau menambah gelar-gelar buruk pada nama orang yang ia benci dalam banyak tulisan-tulisannya seperti "MLM, KHOBITS, BUNGLON, PENDUSTA" dll,
Tapi anehnya, Kalau Purwito berbuat seperti itu fine-fine aja?, namun jika orang lain yang berbuat demikian terhadap dirinya, maka ia akan kerepotan membela diri walaupun terkesan dipaksa-paksakan!.

Bagi orang yang jeli dan kritis, sebenarnya status ana tentang bukti-bukti kebohongan Purwito itu memiliki ihtimaal/kemungkinan, dan ane sengaja untuk tidak menyebutkan ihtimaal yang lain agar terbukti bahwasanya Purwito memang melakukan tajassus melaui perantara "tangan kiri"-nya di Facebook, diantara ihtimal/kemungkinan tersebut adalah:

1) Berdusta tidak punya akun FB.

2) Memang tidak punya akun Facebook, tapi punya "tangan kiri" yang siap memberikan informasi dari Faebook (alias tajassus), ternyata Purwito memilih ihtimal point ke-2 ini, dan akan datang bantahannya insyaAllah.

3) Tidak punya akun Facebook tapi log in ke Facebook pakai akun orang lain.

4) Screenshoot melalui mesin pencari google tanpa harus log in ke Facebook. (Point ke-3 ini adalah kemungkinan yang paling lemah dan sudah ane sebutkan sisi tidak logisnya pada status sebelumnya).

Dari ihtimaal yang ada, ane sengaja menempuh manhaj Purwito (pinjam manhaj) dengan mengambil ihtimaal yang paling buruk; yaitu point-1, karena memang Purwito sering memotong-motong ucapan dan mengambil ihtimal paling buruk demi menjatuhkan orang-orang yang ia benci, contohnya; kasus Al-Ustadz Al-Mukarrom Dzulqornain tentang "hukum karma", Al-Ustadz Jafar Shalih tentang "daging babi" dan Al-Ustadz Sofyan Kholid Ruray tentang "Syaikh Robi", Abu Hanifah dll, semua kasus itu memiliki ihtimal agar kita berbaik sangka, dan sangat disayangkan Purwito memang tidak mengenal "husnudzdzaan" dan langsung memilih ihtimal yang paling buruk untuk menjatuhkan tanpa rasa kasihan dan tak berperikemanusiaan terhadap person yang ia benci tersebut.

Ketika Purwito diperlakukan semisal itu, maka ia segera marah bagaikan "orang yang kebakaran kumis" dan sibuk membela diri, walaupun terkesan lucu dan dipaksakan. Ia memainkan jari-jarinya di atas keyboard-nya dengan gaya bahasa Ahli Filsafat untuk mengelabui para pembaca dan berusaha meyakinkan kalau dirinya bukan pendusta, licik ga? Ya licik donk!....

Sekarang mari kita simak jawaban Purwito.....!

Syubhat Pertama

Purwito berkata:

"Kami jawab,Mari sejenak kita belajar bahasa Indonesia, bukankah yang tertulis adalah “PERHATIAN TUKPENCARIALHAQ.COM TIDAK MEMILIKI AKUN FACEBOOK” dan bukannya “PERHATIAN ABDUL GHAFUR TIDAK MEMILIKI AKUN FACEBOOK”???Apakah anda wahai Tedo dan barisan MLM mengalami gangguan penglihatan yang sedemikian hebat sehingga terbaca pada mata-mata kalian tulisan: ABDUL GHAFUR TIDAK MEMILIKI AKUN FACEBOOK?? Yang dengan itu anda merasa memiliki “hujjah” untuk memaki-maki pemilik situs setan dan iblis tukpencurialhaq? Menuding kami (Abdul Ghafur) telah melakukan kedustaan dan penipuan karena menampilkan bukti-bukti screenshot-screnshot murahan???? Duhai sungguh kami yakin bahwa anda adalah orang Indonesia yang bisa membaca bahasa Indonesia tetapi….KOK BISA terjadi hubungan arus pendek sedemikian dahsyat??????Sekali lagi dimana kami telah melakukan kedustaan dengan menyatakan bahwa Abdul Ghafur tidak akun facebook?? Ataukah....

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah:8)

Bahkan bukan hanya bukti screenshot murahan (yang merupakan cerminan wajah-wajah murahan kalian dan teman-teman hizbi murahan kalian sendiri) wahai saudara Tedo MLM, sebagiannya adalah screenshot-screenshot sampah (cerminan wajah kalian) yang berserakan mengganggu mata memandang dan menebarkan bau kerusakan dan kesesatan sehingga datanglah tukang sampah yang berikhtiar mengumpulkannya dan memasukkannya dalam bak sampah khusus agar orang tidak terganggu kebusukannya dan tersesat karena kelicinan syubhatnya. Tentu saja si tukang sampah tersebut berbau, banyak yang mencibirnya, menghinanya, mencacinya tetapi…betapa tidak itulah resikonya karena mengumpulkan sampah-sampah bau murahan dan bukan sedang berjualan minyak wangi bukan?"

Bantahan dari beberapa sisi:

1. Terima kasih karena anda telah meyakini kami adalah orang Indonesia yang bisa membaca Bahasa Indonesia, ana tambahkan; "bahkan Bahasa Arab!", makanya kami memiliki akal (walhamdulillah) untuk bisa mencerna bahwasanya sebuah situs tidak akan mungkin beroperasi sendiri tanpa ada pengelola, dan ini merupakan aksioma yang tidak dapat dibantah oleh setiap orang yang berakal kecuali jika akalnya terjadi arus pendek seperti Anda wahai Purwito!
Jika Purwito tidak punya akun Facebook bagaimana dengan "tangan kiri"-nya? Bukankah seseorang itu dihukumi sama dengan teman-temannya? Sebagaimana manhaj Tahdzir MLM Made In Jember itu? Ataukah hanya kelompok kalian yang bisa menimbang seperti itu dan yang lain tidak boleh?

Jika ternyata Purwito bisa membuktikan dirinya nggak punya akun FB dan ia jujur, maka ia nggak bisa mengelak dr adanya teman2 yg menyukseskan keinginannya yg tertuang dlm tulisannya. Merekalah yg membantunya dlm melacak, mencari, membongkar, mengintai dll. Siapa lagi kalau bukan mereka? Bukankah al mar'u ala diini kholilihi???

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah:8)

2. Pengakuan Purwito sebagai tukang sampah yang berbau dan dihinakan demikian pula situs sampahnya yang bernama "tukpencarialhaq" sudah tidak perlu lagi digembar-gemborkan, karena masyarakat khususnya Salafiyyun sudah tahu perkara itu sejak dulu, karena memang Purwito hanyalah orang biasa yang hanya mengedepankan semangat dan kecemburuan belaka(cemburu buta) dan dia bukanlah seorang Ustadz atau penuntut ilmu yang dikenal di kalangan penuntut ilmu.
Akan ttapi, bisa jadi pengakuan Purwito ini sangat bermanfaat bagi mereka-mereka yang belum mengetahui hakikat diri Purwito dan situsnya. Oleh karena itu, layak bagi Purwito untuk mendapatkan jempol, karena walaupun tukang sampah yang bau lagi hina, dia juga mampu merangkap sebagai tukang ghibah dan berbuat dzalim terhadap kaum muslimin khususnya para duat Salafiyyun, menyelam sambil minum air.

3. Jika Purwito tidak mau dimaki-maki yah jangan maki-maki orang dong!

لا تَنهَ عَن خُلُقٍ وَتَأتيَ مِثلَهُ
عار عليك إذا فعلت عظيم

ابدأ بِنَفسِكَ وَانَها عَن غِيِّها
فَإِذا انتَهَت عَنهُ فَأَنتَ حَكيمُ

"Janganlah engkau melarang sebuah akhlak sedangkan engkau mengerjakannya...
Sungguh aib yang sangat besar atas mu jika engkau melakukannya...
Mulailah dari dirimu sendiri dan laranglah kesesatannya...
Jika sudah selesai darinya maka engkau adalah seorang yang bijaksana..."

Syubhat Kedua

Purwito berkata lagi:
"Jika jawaban-jawaban terang benderang di atas tetap saja kalian bersikeras bergaya badui yang tidak bisa memahami tulisan dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar dan tetap saja ngotot untuk menuding kami telah terbongkar kedustaannya maka kami jawab untuk memuaskan hawa-hawan nafsu kalian dan ini adalah jawaban sejenis yang ketiga, mengingatkan kami dengan jawaban sumpah atas nama Allah terhadap tuduhan busuk Dzulqarnain Al Makasari ketika dirinya membela dedengkot Irsyadiyun Surkatiyun Mubarok Bamu’alim yang kuliah di IAIN"

Bantahan:

1. Purwito mulai kumat, penyakitnya yang suka memikulkan akibat perbuatan seesorang kepada orang lain kembali muncul. Kalau kehabisan bahan yah jangan bawa-bawa orang lain dong!

2. Apa parameter Purwito menghukumi seorang itu "bergaya badui"??? Ataukah Purwito sudah mulai depresi karena banyak manusia yang mencelanya? Atau jangan-jangan ia tertimpa doa orang yang telah ia dzalimi selama ini? Semoga saja demikian, agar kaum muslmin khususnya Salafiyyun bisa istirahat dari kebodohannya. Aamiin.

Syubhat Ketiga

Purwito berkata:

"Dan ini adalah jawaban sumpah ketiga terhadap Tedo MLM Hartono sebagai pemenuhan hak secara syar’i

:
البينة على المدعى, واليمين على من انكر

“Penuduh harus mengajukan bukti-bukti DAN ORANG YANG INGKAR BOLEH BERSUMPAH” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2661).
Kami katakan Wallahi Abdul Ghafur tidak punya akun facebook!!!!!

Bantahan dari beberapa sisi:

1. Sungguh lucu dan aneh, pemenuhan hak secara syar'iy??? Ga usah ngawur lah bro! Sejak kapan "Al-Mudda'iy diterjemahkan muthlak sebagai "penuduh"??? Ente belajar bahasa Arab dari siapa? Atau jangan-jangan ente ora ngerti bahasa Arab to? Kata "Al-Bayyinah" adalah bentuk tunggal(mufrod) kenapa terjemahannya menjadi plural(jamak)??? Iki Piye? ....ra ngerti Aku!
Belajar bahasa Arab mendingan bro daripada loe sibuk sok jadi Ahli Jarah wa Tahdzir!

Apakah dengan sumpahnya itu Purwito serta merta bebas dari bukti-bukti yang Ane bawakan? Sehingga dia bisa bebas bergentayangan mengghibahi dan menjatuhkan harga diri duat Salafiyyun yang tidak mencocoki kelompok dan hawa nafsunya???, tunggu sebentar!

Hadits di atas memiliki konteks sebelumnya entah kenapa tidak disebutkan oleh Purwito, apakah Purwito sengaja atau memang tidak tahu? Wallahu a'lam, namun sebagaimana yang sudah dimaklumi, memang saudara Purwito ahli dalam memotong ucapan agar cocok dengan hawa nafsunya.

Apa dan siapa yang dimaksud dengan"Al-Mudda'iy"???, dalam hadits di atas siapa sebenarnya yang disebut sebagai "Al-Mudda'iy? Dan siapa yang disebut sebagai Al-Muda'a 'alaihi? Apa itu "Al-Bayyinah"? Dan apa yang dimaksud dengan "Al-Yamin"(sumpah)? Siapa yang berhak melakukan sumpah? Kapan sumpah itu dilakukan? Pada kondisi apa sumpah itu dibutuhkan? Mari kita simak dengan baik konteks lengkap hadits tersebut dan bagaimana para ulama menjelaskannya, semoga penjelasan ini menjadi obat atas kebodohan Purwito dan sebagian Salafiyyun yang sudah terlanjur dibodoh-bodohi oleh Purwito si jongos yang jahil murokkab ini, ikutilah pembahasannya berikut ini;

، عن ابن عباس، أن النبي– صلى الله عليه وسلم - قال: "لو يعطى الناس بدعواهم، لادّعى رجال دماء قوم وأموالهم، لكن البينة على المدّعي، واليمين على من أنكر"

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seandainya manusia diberikan tuntutannya, maka pasti manusia akan menuntut darah laki-laki (orang lain -pent) dan harta-harta mereka, akan tetapi Al-Bayyinah(bukti)atas sang penuntut/penggugat dan al-yamin(sumpah) bagi orang yang mengingkari (terdakwa/tergugat)".
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy: 10/252, dan selainnya dengan sanad yang shahihkan oleh Ibnu Hajar dan dihasankan oleh An-Nawawy, Ibnu Sholah, Ibnu Rojab dan Al-Munawy)

Dalam hadits Riwayat Al-Bukhariy (4552)dan Muslim (1711):
لو يعطى الناس بدعواهم، لادّعى ناس دماء رجال وأموالهم، ولكن اليمين على المدّعى عليه
"Seandainya manusia diberikan tuntutannya, maka pasti manusia akan menuntut darah laki-laki (orang lain -pent) dan harta-harta mereka, akan tetapi Al-Yamin (sumpah) bagi orang yang mengingkari (terdakwa)", (redaksi hadits milik Muslim)

Ibnu Daqiiq Al-'Ied rahimahullah berkata tentang hadits tersebut:

أصل من أصول الأحكام، وأعظم مرجع عند التنازع والخصام، ويقتضي أن لا يُحكم لأحد بدعواه

"Asal dari pokok-pokok hukum dan referensi terbesar ketika (terjadi) perselisihan dan perseteruan, dan berkonsekwensi agar seseorang tidak dihukumi dengan (sekedar adanya) tuntutannya." (Syarah Arbain Nawawiy, halaman : 116 cetakan Daar Ibnu Hazm)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:

هذا الحديث أصل عظيم في القضاء، وهو قاعدة عظيمة في القضاء ينتفع بها القاضي وينتفع بها المصلح بين اثنين وما إلى ذلك

"Hadits ini adalah pondasi agung dalam Al-Qodho (hukum pengadilan), dan ia merupakan kaidah yang agung dalam pengadilan yang seorang Qodhiy (hakim) mengambil manfaat darinya dan bermanfaat bagi seorang yang mendamaikan antara dua orang (yang bertikai-pent) dan seterusnya" (lihat Syarah Arbain Nawawiy beliau)

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassaam rahimahullah berkata:

 
هذا حديث عظيم القدر؛ فهو أصل من أصول القضاء والأحكام

"Ini merupakan hadits yang besar kedudukannya, ia merupakan pokok dari pokok Al-Qodho(pengadilan) dan hukum-hukum" (Taudhiih Al-Ahkaam: 7/242).

Hadits ini tidaklah serampangan dipakai untuk melegalkan segala macam tuduhan atau untuk berlepas diri begitu saja setelah membuat kerusakan di muka bumi dengan menghiasinya dengan sumpah, akan tetapi harus ada seorang Qodhiy(hakim) yang mengadili alias menyelesaikan perkaranya di pengadilan. Bukan di dunia maya alias internet sebagaimana yang dipahami oleh Purwito.

2. Makna Al-Mudda'iy (penuntut/penggugat) dan Al-Mudda'aa 'alaihi (terdakwa/tergugat)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

(المدعي من إذا سكت ترك، والمدعى عليه من إذا سكت لم يترك) مثال ذلك: ادعيت عليك مائة ريال، فأنا إذا سكت عن الدعوى تتركني أنت، ولكن أنت إذا سكت هل أتركك؟ لا أتركك، هكذا يقول المؤلف، والمسألة فيها شيء من النظر؛ لأن المدعى عليه قد يترك لزهادة المدعى به، كعشرة ريالات، فلا تستحق أن يطالبه ويذهب إلى المحكمة، وإلى الشرطة، وما أشبه ذلك.لكن أضاف بعض العلماء إلى هذا قيداً وقالوا: المدعى عليه إذا سكت لم يترك بعد المطالبة؛ لأن المدعى عليه إذا كان المدعى به شيئاً زهيداً يمكن أن يتركه ولا يطالبه.وقال بعضهم: المدعي من يضيف الشيء إلى نفسه، والمدعى عليه من ينكره، سواء ترك أم لم يترك، فإذا أضفت شيئاً لنفسك على غيرك وأنكر، فأنت المدعي وهو المدعى عليه، وهذا هو الذي يوافق الحديث: (البينة على المدعي، واليمين على من أنكر)

"Al-Mudda'iy(penuntut/penggugat) adalah orang yang jika ia diam maka ditinggalkan, dan Al-Mudda'a 'alaihi(terdakwa/tergugat) adalah orang yang jika ia diam maka tidak ditinggalkan", contohnya: aku menuntut atasmu seratus reyal, maka jika aku diam dari tuntutan maka engkau akan meninggalkanku, akan tetapi jika engkau diam, apakah aku akan meninggalkanmu? Aku tidak akan meninggalkanmu, demkian yang diucapkan oleh pengarang (maksud beliau pengarang kitab Zaad Al-Mustaqni' -pent), masalah ini ada sesuatu yang perlu diperhatikan, karena bisa jadi si terdakwa ditinggalkan karena remehnya sesuatu yang dituntut(hak) seperti sepuluh reyal, maka tidak pantas ia menagihnya dan berangkat ke mahkamah dan (kantor) polisi dan yang semisal dengannya. Akan tetapi sebagian ulama menambahkan sebuah batasan pada (definisi) ini dan mereka mengatakan; "Si terdakwa (tergugat) jika ia diam maka ia tidak ditinggalkan setelah digugat, karena si terdakwa jika sesuatu yang dituntut(hak) adalah sesuatu yang remeh mungkin (saja) ia meninggalkannya dan ia tidak menggugatnya", sebagian mereka mengatakan "Penuntut/penggugat adalah orang yang menyandarkan sesuatu kepada dirinya (klaim), dan si Terdakwa/ Tergugat adalah orang yang mengingkarinya, baik ia ditingalkan atau tidak ditinggalkan", jika engkau menyandafkan sesuatu kepada dirimu atas selainmu dan orang itu mengingkarimu, maka engkau adalah penuntut/penggugat dan dia adalah terdakwa/tergugat, dan inilah yang mencocoki hadit "Al-Bayyinah(bukti)atas sang penuntut/penggugat dan al-yamin(sumpah) bagi orang yang mengingkari (terdakwa/tergugat)". (Asy-Syarhu Al-Mumti': 15/237)

Jika kita mengikuti cara berfikir Purwito, maka yang dia maksudkan dengan Al-Mudda'iy adalah Ane (Tedo Hartono) dan Al-Mudda'a 'alaihi adalah dirinya (Purwito), yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah; siapa hakimnya??? Masa si Purwito yang jadi hakimnya? Ataukah para pembaca??? Purwito pasti akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan ini, soalnya dia belum pernah belajar materi "Al-Qodho fil Islam" (hukum
Peradilan dalam Islam), jangankan peradilan dalam Islam, bahasa Arab saja belum tentu ia kuasai, bahkan Luqman Ba'abduh saja belum tentu pernah belajar hukum peradilan dalam Islam!

3. Makna "Al-Baiyinah"

Definisi Al-Bayyinah secara etimologi:
كل ما يبين الدعوى ويظهر المقصود ، وهي حجة المدعي التي يثبت بها دعواه

"Segala sesuatu yang menjelaskan tuntutan dan menampakkan maksud, dan ia merupakan hujjah bagi penggugat/penuntut yang menguatkan tuntutannya." (An-Nihaayah fii Ghoriibil Hadits wal Atsar karya Ibnul Atsiir: 1/174, Al-Mufrodaat fiiGhoriibil Quraan karya Al-Ashfahaaniy, halaman 68-69, Lisaanul Arob: 16/214)

Adapun definisi secara terminologi syariat, terjadi silang pendapat di kalangan ulama, dan yang rojih adalah apa yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah:
Secara umum, Al-Baiyinah adalah sebuah kata untuk segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran dan menampakkannya....." -kemudian beliau menjelaskan panjang lebar bahwasanya Al-Baiyinah itu tidak terbatas pada dua orang saksi saja- (Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah karya Al-Imam Ibnul Qoyyim, halaman 15, ini merupakan pendapat Ibnu Taimiyyah, Ibnu Farhuun, Ibnu Hajar Al-'Asqolaaniy rahimahumullah, untuk memperluas wawasan tentang pembahasan ini, Ane persilakan untuk membaca kitab-kitab berikut ini; Kasysyaaful Qinaa':6/378, Fathul Wahhaab bi Syarhi Minhajith Thullaab: 4/393, Fathul Baary Syarah Shahih Al-Bukhariy: 13/160, Matholib Uliyn Nuhaa fii Syarhi Ghooyatul Muntahaa: 6/566, Ar-Roudhul Murbi' wa Hasyiyatihi: 3/412, I'laamul Muwaqqi'iin: 1/90, Nihaayatul Muhtaaj: 8/314, Mughnil Muhtaaj: 4/461, Tabshirotul Hukkaam: 1/161)

4. Makna "Al-Yamiin"
Secara etimologi Al-Yamiin memiliki beberapa makna, "diantaranya adalah Al-Halif & Al-Qosam (sumpah), Al-Halif dan Al-Qosam disebut sebagai Yamiin (sumpah), karena dahulu bangsa Arab di zaman Jahiliyyah jika mereka saling bersumpah setiap diantara mereka meletakkan tangannya pada tangan yamin (kanan) temannya, atau disebabkan seorang yang bersumpah menjadi kuat dengan sumpahnya sebagaimana tangan kanan lebih kuat daripada tangan kiri." (Lisaan Al-'Arob: 13/463, Al-Mishbaah Al-Muniir: 2/938)

Adapun definisi secara terminologi:
"Sumpah yang disyariatkan dalam hak-hak yang dengannya sebuah tuntutan terbebas, dengan bersumpah dengan nama Allah Ta'aala, atau dengan nama dari nama-nama-Nya, atau sifat dari sifat-sifat-Nya.
Dan sumpah ini disyariatkan pada hal setiap terdakwa/tergugat baik ia seorang muslim atau kafir, jujur atau fasik, wanita atau laki-laki".
(Al-Mughniy karya Ibnu Qudamah: 9/226-227, dengan sedikit perubahan)

Kapan Al-Yamiin (sumpah) itu dibutuhkan?

Al-Yamiin (sumpah) yang disyariatkan dalam hukum pengadilan itu pada beberapa keadaan:
A) Sumpah yang digunakan untuk menolak tuntutan, seperti seorang yang Terdakwa/Tergugat dengan sebuah harta kemudian ia mengingkarinya, sedangkan si Penuntut/Penggugat tidak memiliki bayyinah, maka dalam kondisi ini sumpah terarah kepada si Terdakwa/Tergugat untuk menolak tuntutan si Penuntut/penggugat
Model sumpah seperti inilah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam " Al-Bayyinah(bukti)atas sang Penuntut/Penggugat dan al-yamin(sumpah) bagi orang yang mengingkari (terdakwa/tergugat)", oleh karena itu para ahli fikih tidak berselisih tentsng disyariatkannya berhukum dengannya.

B) Sumpah yang digunakan untuk membenarkan tuntutan, seperti sumpah yang digandengkan dengan saksi.

C) Sumpahnya si Penuntut/Penggugat, sebagian ahli fikih menamakannya dengan "Al-Yamiin Al-Munqolibah" (sumpah balik), atau "Al-Yamiin Al-Mardudah"(sumpah tertolak), atau"Al-Yamiin Al-Jaalibah", dan yang dimaksudkan dengannya di sini adalah; sumpah yang kembali kepada si Pununtut/Penggugat setelah si Terdakwa/Tergugat enggan bersumpah.

D) Sumpah yang digunakan untuk menyempurnakan hukum seperti sumpah lepas setelah bukti yang sempurna. (Lihat pembahasan ini dalam kitab Tabshirotul Hukkaam karya Ibnu Farhuun Al-Maalikiy rahimahullah: 1/147)

Dari keterangan di atas, sangat jelas bagi para pembaca tentang kekeliruan si Purwito dalam memahami hadits yang ia bawakan. Jika Ane dianggap sebagai Penuntut/Penggugat, maka si Purwito yang menganggap dirinya sebagai si Terdakwa/Tergugat tidak layak untuk bersumpah kecuali jika Ane tidak membawakan bayyinah (bukti), hal itu pun harus dihadapan seorang Hakim, tapi karena kejahilan dan khawatir makarnya terbongkar, maka Purwito pun segera bersumpah.

Apa yang Ane jelaskan di atas dikuatkan oleh ucapan Al-Haafidz Ibnu Hajar rahimahullah ketika menjelaskan hadits dalam shahih Al-Bukhariy(no: 2667) tentang kisah Al-'Asy-ats bin Qois radhoyallahu 'anhu yang berselisih dengan seorang Yahudi, beliau (Al-Hafidz Ibnu Hajar) mengatakan:

وفي الحديث حجة لمن قال: لا تعرض اليمين على المدعى عليه إذا اعترف المدعي أن له بينة

"Dalam hadits ini (terdapat) hujjah bagi orang yang mengatakan; sumpah itu tidak dipersilakan bagi si Terdakwah/Tergugat jika si Penuntut/Penggugat mengakui ia memiliki baiyyinah (bukti)". (Fathul Baary: 5/396)

Dan sebagaimana yang tertera dalam Majalah Al-Buhuuts Al-Islaamiyyah dari Komite Umum Pembahasan Ilmiyyahdan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, jilid: 17, halaman: 244:

لا يلجأ القاضي إلى تحليف المدعى عليه إلا عند عجز المدعي عن إقامة البينة . فإذا حلف المدعى عليه اليمين قضى الحاكم بإبرائه ، فإن أحضر المدعي بينة بعد ذلك حكم بها القاضي لقول عمر بن الخطاب - رضي الله تعالى عنه - : " البينة الصادقة أحب إلي من اليمين الفاجرة " .



"Sang Hakim tidak boleh bersandar kepada sumpah si Terdakwa/Tergugat, kecuali ketika si Penuntut/Penggugat tidak mampu menegakkan baiyyinah(bukti), jika si Terdakwa/Tergugat bersumpah maka Hakim menghukuminya terbebas tuntutan, dan jika si Penuntut/Penggugat menghadirkan baiyyinah (bukti) setelah itu maka sang Hakim berhukum dengannya berdasarkan ucapan Umar bin Al-Khottob radhiyallahu 'anhu "Al-Baiyyinah yang jujur lebih Aku sukai dsripafa sumpah yang fajir" -selesai-

Ketika menjelaskan ucapan pengarang Kitab Zaad Al-Mustaqni yang berbunyi:
"
ولا يعتدُّ بيمينه قبل مسألة المدّعي"
"Dan tidak dianggap sumpahnya(si Terdakwa/Tergugat) sebelum (adanya) permintaan (dari) si Penuntut/Penggugat"

Asy-Syaikh Ibnu Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

"
أي: لا يعتد بيمين المنكر قبل سؤال المدّعي الحاكمَ أن يحلفه، فلو أنّ الحاكم تعجّل لما رأى المدعى عليه أنكر، قال: احلف، قبل أن يقول خصمه: حلّفه، فإن اليمين هنا لا يعتدُّ بها، لأن هذه اليمين صارت قبل وجود السبب، وتقدم الشيء على سببه لا يعتدُّ به، كما قرره ابن رجب – رحمه الله -في القواعد، فالحق للمدعي، فإذا حلّفه قبل سؤاله، فقد حلفه قبل وجود السبب، فلا يعتد بهذه اليمين" [الشرح الممتع (15/320)]

"Maksudnya; sumpah orang yang mengingkari (Terdakwa/Tergugat) tidak dianggap sebelum (adanya) permintaan (dari) si Penuntut/Penggugat kepada sang Hakim agar ia (memerintahkan si Terdakwa/Tergugat) untuk bersumpah, jika seandainya sang Hakim terburu-buru karena melihat si Terdakwa/Tergugat yang telah mengingkari, ia (sang Hakim) mengatakan "bersumpahlah", sebelum seterunya (yaitu si Penuntut/Penggugat) mengatakan "suruhlah dia bersumpah", maka sesungguhnya sumpah di sini tidak teranggap, karena sumpah ini terjadi sebelum adanya sebab, dan pendahuluan sesuatu di atas sebabnya tidaklah teranggap, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ibnu Rajab-rahimahullah- dalam (kitabnya) Al-Qowaaidh, maka kebenaran milik si Penuntut/ Penggugat, jika sang Hakim menyuruh si Terdakwa/Tergugat untuk bersumpah, maka sungguh ia telah menyuruhnua bersumpah sebelum adanya sebab, maka sumpah ini tidak teranggap". (Asy-Syarh Al-Mumti': 15/320)

Kesimpulan dari penjelasan para ulama di atas, kita bisa mengetahui bahwasanya kasus yang seperti itu terjadi di hadapan sang Hakim dan syaratnya setelah adanya persetujuan dari si Penuntut/Penggugat untuk meminta Hakim agar si Terdakwa/Tergugat untuk bersumpah.

Berdasarkan keterangan para ulama di atas, wajar jika Ane katakan si Purwito ini lucu dan aneh, dia kalang kabut bersumpah untuk menutupi makarnya dan berusaha setengah mati untuk membela dirinya dengan embel-embel "sebagai pemenuhan hak secara Syar'i", walaupun belum ada persetujuan dari Ane yang dia anggap sebagai Penuntut/Penggugat, Wong Hakim aja ga ada! Kenapa si Purwito buruan bersumpah???....Aneh kan?
ternyata ia hanyalah memamerkan kebodohannya dengan gaya bahasa liciknya untuk mengelabui kaum muslimin khususnya Salafiyyun.

Terlepas dari semua itu, dalam At-Taqodhiy (hukum peradilan) tidak semua kasus dibutuhkan sumpah didalamnya, sumpah dibutuhkan dalam kasus hak-hak manusia seperti harta, adapun kasus selain harta, maka terjadi perselisihan di kalangan para ulama, dan yang rojih adalah tidak disyariatkannya "sumpah" sebagaimana pendapat Al-Imam Abu Hanifah (Badaa-i' Ash-Shonaa-i': 6/222), Al-Imam Malik(Tabshirotjl Hukkaam: 1/157), dan Al-Imam Ahmad dalam sebuah riwayat (Al-Mughniy karya Ibnu Qudamah: 9/238, Kasyaaf Al-Qonaa': 4/285, Al-Muharror fi Al-Fiqh: 2/226, Muntahal Iroodaat: 4/33), kesimpulan ini juga bisa dilihat dalam kitab Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah karya Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, halaman 150.)

Maka dengan ini gugurlah syubhat Purwito dan semoga dia segera sembuh dan diberikan hidayah oleh Allah untuk tidak berbicara tanpa ilmu.

5. Harusnya saudara Purwito bisa membaca tulisan-tulisan Ane yang menyinggung tentang "log in", karena seorang bisa saja tidak punya akun Facebook, akan tetapi ia "log in" menggunakan akun Facebook orang lain.
Sehingga jika Purwito mengatakan:

" Kami katakan Wallahi Abdul Ghafur tidak punya akun facebook!!!!!"

Kami katakan:
Coba diganti seperti ini:
"Kami katakan wallahi Saya Purwito alias Abdul Ghafur tidak pernah log in ke Facebook".....kira-kira saudara Purwito berani ga?

'Ala kulli haal, walaupun ia berani bersumpah dengan konteks yang Ane sebutin diatas, toh tetap saja saudara Purwito mengambil dari teman-temannya yang memiliki akun Facebook, kalau begitu kita hukumin Purwito sama dengan teman-temannya (pinjam manhaj Purwito).

Bersambung insyaAllah...



5 Komentar:

Pada 22 April 2014 13.55 , Anonymous Anonim mengatakan...

tapi ada ustad yang merekomendasi , bahkan mengatakan sangat bermanfaat buat salafiyin ,, ironis memang , pak purwi## yang sudah jelas2 merusak dipuji2 dan disanjung bahkan dikatakan sangat bermanfaat buat dakwah salafiyah sementara asatidzah salafiyin yang ga cocok di hina dan dijatuhkan kehormatannya. dalam hati ku bertanya INIKAH DAKWAH SALAFIYAH ????

 
Pada 22 April 2014 16.47 , Anonymous Anonim mengatakan...

ternyata ustdz lukman memuji situs purwito..ana jelas jelas mendengarkn rekamannya......

 
Pada 22 April 2014 17.43 , Anonymous Burhanuddin - Mks mengatakan...

Barokallohu fik admin Pelita Sunnah. Ana semakin tahu siapa yg di belakang "tukpencarialhaq" itu. Alhamdulillah ana dari dulu sampai sekarang nggak minat masuk ke situs itu. Lanjutkan akhi....

 
Pada 23 April 2014 23.00 , Blogger bukan luqman ba'abduh mengatakan...

Yang mengajarkan disebarkannya aib-aib pada da'i dengan beralasan sesuai syariat Islam adalah abdul ghofur al malanji alias purwito dan didukung penuh oleh luqman ba'abduh. semoga ALLAH membalas amalan mereka...

 
Pada 23 April 2014 23.04 , Blogger bukan luqman ba'abduh mengatakan...

bayangkan luqman ba'abduh, seorang mengaku da'i diatas al haq bisa membela situs sampah seperti ini (tukpencurialhaq eh tukpencarialhaq)... tolong beri contoh satu situs saja yang demikian rendah ucapannya.. yang dibimbing oleh asatidz ahlussunnah ataupun ulama...

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda