Minggu, 15 Juni 2014

Betulkah Syekh Abdul Hadi Majhul sehingga Nggak Boleh Hadiri Daurohnya? (seri 02)


(Klarifikasi dan Bantahan bg Syubhat Luqman ba Abduh, cs.)
Syekh Abdul Hadi Al Umary hafizohulloh berkata sesudah membawakan bukti berupa beberapa rekomendasi dr para ulama kibar dr kalangan guru2 beliau:

"Apakah kemajhulan telah hilang ataukah belum? Apakah masih ada yang tersisa?
Mereka (yang disebutkan ini) adalah guru-guruku dan saya (bacakan ini) adalah ucapan mereka sebagaimana yang telah kalian dengar. “Lalu apa dosaku kalau seandainya dia (Luqman) tidak mengenalku”. Tidak penting bagiku apakah dia mengenalku ataukah tidak. Adapun kalau dia bersikap lancang terhadap ucapan para ulama ini dan tidak perduli dengannya. Mungkin saja dia akan mengatakan “Sebelumnya saya tidak mengetahui hal ini”. Kita katakan kepadanya “Bertanyalah terlebih dahulu sebelum engkau berbicara!” apabila engkau tidak mengetahui, bertanyalah!. Akan tetapi, engkau bertanya tentangku kepada siapa? Tanyakan tentangku kepada para ulama, dan bukan kepada para penuntut ilmu. Engkau pergi bertanya tentangku kepada para penuntut ilmu? Kemudian mereka menjawab “Kami tidak mengenal orang ini” setelah itu engkau mengambil kesimpulan dan menulis dengan tanganmu kalimat yang engkau akan dimintai pertanggung jwaban darinya di hari kiamat kelak “Dia (Abdul Hadi) adalah seorang yang Majhul”.

Kalau seandainya saya membalas sikapnya sebagaimana yang dia lakukan kepadaku, niscaya semua guru-guruku yang saya sebutkan tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang mengenal siapa Luqman.
Kalau seandainya saya membalas sikapnya sebagaimana yang dia lakukan, maka kita katakan “Anda Majhul”, dan bukan sekedar Majhul akan tetapi Majhul ‘ain(benar-benar majhul dari semua sisi). Akan tetapi kami tidak menyikapinya dengan manhaj yang dia menyikapi kami dengannya. Kalau seandainya saya tidak mengenalnya, maka hal tersebut tidak berkonsekuensi (bahwasanya dia Majhul), karena mungkin saja dia dikenal oleh ulama lain yang telah memberikan rekomendasi untuknya.
Akan tetapi sikapnya yang lancang dan memposisikan dirinya sebagai ahli dalam “Al-Jarhu Wat-Ta’dil”(baca: yang menjelaskan diterima atau ditolaknya seseorang), serta menjadikan dirinya sebagai satu-satunya rujukan di Indonesia?! (ambil ilmu dari orang ini dan jangan ambil dari orang ini!, orang ini Majhul). Siapa yang memvonisnya Majhul? Apakah engkau yang memvonis seseorang sebagai Majhul? Siapa engkau?! Memposisikan dirinya pada posisi para ulama.
Hal semacam ini (wahai saudara-saudaraku) adalah bentuk kedurhakaan yang dilakukan oleh anak-anak salafiyyin terhadap manhaj Salaf. Orang -orang Hizbiyyun dan Ahul Bid’ah mereka tidak mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang Majhul. Demi Allah mereka tidak mengatakan hal demikian. Lalu datang seorang anak yang mengaku “Saya Salafi” kemudian dia memvonis orang yang dipersaksikan oleh ulama-ulama yang kokoh bagaikan gunung bahwasanya orang tersebut adalah Majhul, Lihat (sikapnya ini) dengan sangat ringan (dia mengatakannya). Tidakkah dia bertakwa (takut) kepada Allah?! Saya katakan kepadanya “Bertakwalah (takutlah) engkau kepada Allah terhadap saudara-saudaramu)!” tanpa memandang pribadi saya. Demi Allah, hal tersebut tidaklah berpengaruh bagiku, apapun yang diucapkannya aku tidak perduli. Demi Allah, aku tidak perduli dengan ucapannya. Akan tetapi yang saya inginkan agar dia bertakwa (takut) kepada Allah dan mengatahui kadar dirinya.
Hendaknya dia berjalan di atas kaidah.
Ulama bukanlah yang hanya dikenal olehnya. Ulama-ulama yang berjalan di atas manhaj Salaf (alhamdulillah) sangat banyak, baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup. Dan ulama-ulama yang baru saja kalian dengarkan ucapannya semuanya masih hidup dan diberi usia panjang hingga saat ini. Silakan seseorang pergi menemui mereka, apakah dia melihat bahwasanya dia (Abdul Hadi) telah merubah-rubah (manhaj) dan menggantinya?! Kalian lihat sendiri (ucapan mereka) telah datang kepada kalian.
Sebagain orang, mereka tidaklah menginginkan kebenaran. Demi Allah, mereka sama sekali tidaklah menginginkan kebenaran. Kenapa? Karena setiap kali engkau datang kepadanya dengan membawa hujah dan realita yang sebenarnya, dia langsung lari. Pertama yang diucapkannya “Orang itu (Abdul Hadi) Majhul”. Baik, (kita sepakat) orang tersebut Majhul. akan tetapi, siapa mereka ini (yang menulis rekomendasi)? Apakah engkau tidak mengenal mereka?. Mereka ini adalah para ulama yang telah kalian dengarkan sendiri ucapannya dengan jelas dan gamblang serta tidak mengandung takwil.
Ucapan mereka sangat jelas. Orang-orang semacam ini (Luqman) apabila ulama yang berbicara ini telah meninggal, mereka akan mengatakan “Ucapan ini adalah ucapan yang dahulu” bukankah demikian?. Mereka mengatakan demikian “Ucapan (para ulama) ini adalah ucapan lama dan dia telah berubah”. Akan tetapi, (dalam kasus ini) tidak demikian. Mereka semua masih hidup. Silakan berkunjung ke kota Mekah dan saya akan pertemukan engkau dengan mereka satu persatu.
Agar engkau dengar sendiri apakah dia (Abdul Hadi) telah berubah ataukah dia kokoh berjalan di atas manhaj Salaf?!. Akan tetapi bukan seperti manhaj salaf yang engkau praktekkan. Manhaj Salaf (yang dimaksud) adalah manhaj Salaf yang dicontohkan oleh para ulama dan kami berjalan di atasnya.
Demikianlah kebiasan mereka (orang-orang seperti Luqman), tidak ada seorang pun yang selamat dari (celaan) mereka walaupun dia berjalan di atas manhaj Salaf.
(Syubhat) apa lagi yang dikatakannya?
(Salah seorang ustadz) : Dia menisbatkan ucapannya bahwasanya “dia (Abdul Hadi) Majhul” kepada Syaikh Rabi’ (semoga Allah senantiasa menjaganya).
Syaikh Rabi’ adalah guru dan imam kami. Kami mencintai, menghormati, dan memuliakannya (demikian kami meyakininya dalam beragama kepada Allah). Tidak ada hubungan nasab antara kami dengannya dan tidak pula hubungan kekeluargaan, namun antara kami dengan beliau adalah (berjalan di atas) satu manhaj. Kami mencintai, memuliakan, dan menghormatinya. Akan tetapi kalau Syaikh Rabi’ tidak mengenal kami, masih ada syaikh lain yang mengenal kami.
Apabila Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, maka hal tersebut tidak berkonsekuensi bahwasanya saya telah jatuh (dalam manhaj). Hal ini wajib untuk dipahami oleh Luqman dan selainnya. Bahkan Syaikh Rabi’ sendiri pun tidak akan menyelisihi apa yang telah saya katakan. Apakah Syaikh Rabi’ mengenal semua orang?.
Apabila Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, apakah hal tersebut berkonsekuensi bahwasanya ulama lain pun juga tidak mengenalku?!
(lihatlah) kisah antara Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Imam Yahya bin Ma’in (pernah) berbicara miring tentang Imam Syafi’i (kisah ini tertulis di buku-buku biografi ulama), lalu Imam Ahmad berkata “Tidaklah ucapan Yahya (bin Ma’in) menurunkan kredibilitas Imam Syafi’i”. Apakah kalian memahami ucapan ini?
Syaikh Rabi’ tidaklah mengenalku. Akan tetapi, apakah hal tersebut memiliki konsekuensi bahwasanya beliau memandangku sebagai orang yang Majruh (rusak dalam manhajnya)?!, sementara ucapan para ulama ada (telah kalian dengarkan).
“Dan orang yang mengetahui (memiliki ilmu) adalah Hujjah(wajib diterima) oleh orang yang tidak mengetahui (tidak memiliki ilmu)”
Mereka ini adalah guru-guruku. Saya telah mengikuti majelis-majelis mereka berpuluh-puluh tahun hingga saat ini. Dan semua ulama yang memberikan rekomendasi kepadaku dikenal oleh Syaikh Rabi. Beliau sangat mengenal mereka.
Bahkan guruku Syaikh Yahya Utsman, antara dia dengan Syaikh Rabi’ saling memberi Ijazah. Beliau memberi Ijazah ke Syaikh Rabi’ dan Syaikh Rabi’ sebaliknya.
Beliau adalah guruku dan masih hidup sampai sekarang dikaruniai umur yang panjang. Dan kalian telah mendengarkan rekomendasi yang dia peruntukkan khusus untukku.
Syubhat apa lagi yang tersisa setelah ucapan ini?!.
Mungkin saja Syaikh Rabi’ tidak mengenalku. Akan tetapi, apakah hal itu memiliki konsekuensi jika beliau tidak mengenalku maka saya telah jatuh (dalam manhaj)?!. Apakah Syaikh Rabi’ mengatakan ucapan semacam ini. Saya yakin beliau tidak akan mengatakan ucapan yang semacam ini.
Beliau hanya ditanya “Siapa Abdul Hadi?” kemudian beliau menjawab “Saya tidak mengenalnya”. Betul, beliau tidak mengenalku.
Akan tetapi jika Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, saya dikenal oleh ulama lain selainnya yang beliau akui kemuliaan ilmu dan kedudukan mereka.
Kalian telah dengarkan rekomendasi para ulama secara khusus (untukku) dan semua tertulis. Syaikh Washiyullah Abbas, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Yahya Utsman, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Muhammad Ali Adam, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Dr. Muhammad Umar Bazmul, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Kalian telah dengarkan ucapan beliau yang disertai dengan stempel dan tulisan tangannya.
Saat ini, saya mengajak kalian untuk berbicara dengan pembicaran sesama penuntut ilmu, dan bukan dengan pembicaraan antara orang-orang awam.
“Saya Majhul, kapan vonis tersebut terangkat dariku?” silakan dijawab!..
“Kapan vonis tersebut terangkat?”
“Apabila seorang ulama terpandang telah memberikan rekomendasi untuknya”. Berapa jumlah rekomendasi yang telah kalian dengarkan?. Empat, dan selain mereka masih banyak. Saya sengaja hanya memperlihatkan yang empat ini, karena mereka inilah yang terdepan dan hampir tidak ada orang yang tidak mengenal mereka. Dan mereka ini adalah imam-imam dalam manhaj salaf. Apa lagi yang tersisa setelah ini?! Apakah dia masih belum menerima setelah apa yang diucapkan para ulama ini?!
Saya sangat yakin bahwasanya ucapan Syaikh Rabi’ tidaklah jauh dari apa yang telah diucapkan para ulama ini, kecuali jika dia (Luqman) bisa membuktikan bahwasanya saya telah merubah dan mengganti (dari apa yang telah direkomendasikan). Bukankah demikian?!. Kalau memang realitanya demikian, maka hendaknya dia datang dengan membawa bukti tersebut, baik Luqman maupun selainnya bahwasanya saya telah merubah dan menngganti (dari apa yang telah direkomendasikan). Apakah ucapan ini benar (sesuai kaidah) ataukah tidak?!
Baik.. Syubhat apalagi setelahnya?
Ada ucapan lain yang dikatakannya?
Bacakan (syubhatnya)! Dan kita akan menjawabnya.
Wajib baginya untuk tahu diri..!!
Jujur saja, demi Allah sebenarnya saya tidak ingin membuat klarifikasi ini padahal sebagian ustadz telah memberitahukan kepadaku tentang berita (baca: syubhat) ini dari awal daurah, namun saya menolak dan memerintahkan kepada untuk tidak menghiraukannya.
Akan tetapi, setelah saya pertimbangkan kembali hal ini bukanlah semata-mata berdampak kepadaku, bukan semata-mata ini. Akan tetapi, agar saudara (Luqman) mau berpikir sejenak, dan saya katakan kepadanya “Bertakwalah (takutlah) engkau kepada Allah”. Saat ini engkau lancang kepadaku, besok akan berdampak kepada selainku. Bukankah demikian?!.
Saya hanya bermaksud untuk mengajakmu berpikir sejenak dengan mengatakan “Hati-hati engkau!, hendaknya engkau tahu diri, Abdul Hadi Al-Umairi bukanlah orang gampangan yang seenaknya engkau jatuhkan kredibilitasnya!!!”
Saya memiliki rekomendasi dari para ulama yang kokoh di atas keilmuannya. Sebagian kalian ada yang tidak mengenal syaikh. Apakah kalian mengenal syaikh sebelumnya? Tentu saja kalian tidak mengenalnya, dan mungkin saja kalian merasakan ada yang mengganjal dari ucapan ini. Akan tetapi wahai saudara-saudaraku, demi Allah saya mengatakan ini bukan semata-mata untuk (membela) kehormatanku. Akan tetapi dikarenakan untuk melindungi saudara-saudara yang lain.
(Dia mengatakan) “Syaikh Ahmad Syamlan Majhul”. Kenapa karena beliau tidak dikenal oleh Syaikh Rabi’?. Akan tetapi beliau dikenal oleh Syaikh Muqbil, beliau adalah salah seorang murid Syaikh Muqbil di Dammaj. Apakah Syaikh Rabi’ harus mengetahui semua pelajar yang ada di Dammaj?. Wahai saudara-saudaraku, orang yang semacam (Luqman) ini, mereka mendatangi Syaikh dengan sebuah ucapan dan hal-hal yang tidak disukai oleh Syaikh.
Saya katakan kepada kalian ucapan ini (ucapan ini terekam dan akan tersebar). Dahulu saya memiliki seorang teman yang turut hadir di majelis Syaikh Washiyullah Abbas. Ketika itu dia menukil ucapan Syaikh Rabi’ bahwasanya beliau membid’ahkan Syaikh Bakar Abu Zaid. Lalu saya pun menghubungi beberapa pelajar yang selalu hadir di majelis Syaikh Muqbil dan saya katakan “Sampaikan keapada Syaikh bahwasanya Si Fulan bin Fulan berbicara (miring) dengan mengatasnamakan Syaikh Rabi’. Peristiwa ini ikut terekam dalam kumpulan rekaman-rekaman Syaikh Rabi’. Tatkala orang tersebut datang ke rumah Syaik Rabi’, beliau langsung memanggilnya (apakah kalian pernah mendengar rekaman tersebut?),beliau mengatakan “Berdiri engkau!, siapa yang menyampaikan kepadamu tentang Syaikh Bakar Abu Zaid?!, wahai anakku sesungguhnya engkau sedang sakit, pergi dan berobatlah!”. Syaikh mengusirnya. Syaikh bukanlah orang yang gampang untuk disandarkan kepadanya sembarang ucapan. Beliau adalah orang yang mulia, berilmu, dan memiliki kedudukan yang tinggi. Namun dengan cara semacam ini, seseorang datang seolah-olah ingin membenturkan Syaikh (Rabi’) dengan ulama yang lain.

Bersambung Insya Allah…

sumber artikel : http://www.daurahnasional.info/?p=163  
Catatan : 
* Judul kami ubah sedikit demi memahamkan pembaca ttg isi artikel ini yg terambil dr ceramah  syekh Abdul Hadi di Masjid Al Madinah, Solo.

1 Komentar:

Pada 16 Juni 2014 03.30 , Anonymous Anonim mengatakan...

Bismillah..disitu tertulis "majlis Syaikh Muqbil" pda bagian2 akhir
.mkin yg benar "majlis Syaikh Robi'"...wallahu a'lam

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda