Minggu, 26 Oktober 2014

“Dilema Fadlilatul Ustadz Mukhtar Dalam Romantika Thalabul Ilmi” (seri 01)

(Kado Berharga buat Adinda Iben Rifa'i La Firlaz 01)
(Tulisan ini merupakan muqaddimah N sekapur sirih dari kakak sebelum masuk pada tinjauan ilmiyah terhadap audio or rekaman yang berjdul “Romantika Muda N Mudi Dalam Thalabul ‘Ilmi”. N tak terlupa juga kakak maksudkan tulisan ini sebagai nashihat untuk Islam N muslimin. N teriring doa semoga nafi’ N mabruk. Amin) 

JUDUL TULISAN : 


“Dilema Fadlilatul Ustadz Mukhtar Dalam Romantika Thalabul Ilmi”


بسم الله الرحمن الحيم

الحمد لله و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أ ن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا إلى يوم الدين؛ أما بعد

Telah sampai kepada kakak tiga buah audio or rekaman, yang mana bertema N bertajuk tentang : 


“Romantika Muda N Mudi Dalam Thalabul ‘Ilmi”.


Konon berdasarkan data yang disampaikan kepada kakak, audio tersebut adalah sebuah kajian ilmiyah yang diadakan oleh fihak Ma’had Ibnu Taimiyyah yang beralamatkan di daerah Kebo Kura Sumpyuh Banyumas Jawa-Tengah. N konon pematerinya adalah salah seorang alumnus Timur-Tengah Yemen. N berdasarkan apa yang tertera pada audio, nama pemateri tersebut bernama fadlilatul ustadz Abu Nashim Mukhtar. 


Walhamdulillah kakak juga mengenal siapa beliau. Beliau adalah mantan salah seorang staf pengajar di Ma’had Ibnu Taimiyyah N Darus Salaf Solo Jawa-Tengah. N kemudian berpindah ke daerah Parang Tritis Jogja. Beliau ini dahulu menyempatkan diri untuk belajar, tepatnya di daerah Dammaj provinsi Sa’da Yemen. Beliau tidak bertemu dengan syeikh Muqbil –rahimahullah-. Namun beliau bertemu N belajar di hadapan syeikh Yahya -Allohu yaushlih ahwalah- kurang lebih dua tahun.


N berita terakhir juga mengkhabarkan bahwa beliau menyempatkan kembali menimba ilmu kurang lebih hampir satu tahun ke negeri tersebut. Tepatnya beliau belajar di daerah Dzammar di hadapan syeikh Utsman As Salimi -hafidzahullah-. 


N ada sedikit yang adek-adek sekalian perlu ketahui N cermati baek-baek sebagai tanbih N tanda kutip bahwa fadlilatul ustadz Abu Nashim Mukhtar ini pada keberangkatan menimba ilmu sesi pertama yakni di hadapan syeikh Yahya –Allahu yushlih ahwalah-, fadlilatul ustadz Mukhtar ini keadaan-nya sebagaimana yang telah sedikit kakak singgung N ceritakan pada judul :


“Visa Tour N Belajar di Yemen” 


Yakni berada pada posisi peng-aplikasian N praktik nyata di lapangan yang penuh kebohongan, kucing-kucingan N kedustaan. N tentunya ini lebih fatal dari dongeng-dongeng yang hanya cerita kosong belaka tanpa nyata. 


Tanya kenapa? Yang demikian karena kebohongan demi kebohongan N kedustaan demi kedustaan yang dilakukan oleh fadlilatul ustadz Mukhtar, demikian juga dilakukan oleh Sultan Jember, demikian juga kang mas Afif gresik, demikian juga kang mas Idral Harits dLL adalah fakta data nyata kongkrit N tanpa manipulasi bahwa mereka telah mempraktik-kan N memperagakan bagaimana cara berbohong N kucing-kucingan yang baik N profesional N bagaimana cara memainkan tifu-tifuan agar selamat dari intaian KBRI n Jawazat. (kebohongan level internasional) kakap mbak yu!!!.


Baiklah adek-adek sekalian yang kakak chinta N kakak hormati, kakak yakin adek-adek sekalian sudah ngebet N tidak sabar untuk langsung to the point pada sub masail jawaban tuntas atas tuduhan-tuduhan yang fadlilatul ustadz Mukhtar muntahkan terhadap al Madinah Solo. 


Namun lain halnya dengan kakak. Kakak ingin sebelum kita masuk pada sub inti N poin masail yang ada, ada baiknya kita melihat N kita merenung sejenak bagaimana yang lebih ashlah N lebih hikmah N lebih menjaga ukhuwah N kebaikan bersama terlebih dalam urusan dakwah yang agung nan mulya ini dalam menghadapi dilema, problematika N romantika bersama yang ada?!.

_____________________

TIDAK DIRAGUKAN LAGI BAHWA AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR ADALAH PERKARA YANG WAJIB.


Tidak pelak N tidak diragukan bahwa memerintahkan kepada setiap perkara yang baik N mencegah dari setiap perkara yang munkar adalah merupakan prinsip diantara prinsip-prinsip agama kita islam yang tercinta. N hal ini adalah merupakan sesuatu yang disepakati oleh kaum muslimin tanpa ada yang menyelishi. 


Adapun adillah atau dalil-dalil yang bercerita tentang wajib-nya perkara ini walhamdulillah adalah perkara yang sangat maklum bagi kita semua. Namun yang menjadi poin N inti yang sangat penting yang terkadang banyak diantara kita lalai N lupa adalah :

_____________

A). “Mengilmui tentang masail amar ma’ruf N nahi munkar”


Amar ma’ruf N nahi mungkar adalah merupakan ibadah yang sangat mulia. N sebagaimana yang dimaklumi bahwa suatu ibadah tidak akan diterima oleh Allah kecuali apabila ikhlas kepada-Nya. N sebagai amal yang saleh, suatu amalan tidak akan mungkin menjadi amal saleh kecuali apabila berlandaskan ilmu yang benar. Karena seseorang yang beribadah tanpa ilmu maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena ilmu adalah imam amalan, N amalan mengikutinya.


Syaikhul Islam berkata :


“Jika ini merupakan definisi amal saleh (yang memenuhi persyaratan ikhlas N ittiba’) maka seseorang yang beramar ma’ruf N nahi mungkar wajib menjadi seperti ini juga terhadap dirinya. N tidak akan mungkin amalannya menjadi amal saleh jika ia tidak berilmu N faham. 


Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz : “Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang diperbaikinya.” N dalam hadits Mu’adz Bin Jabal : “Ilmu adalah imam amalan, N amalan mengikutinya.” N ini sangat jelas, karena sesungguhnya niat N amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka ia adalah kebodohan, penyimpangan N mengikuti hawa nafsu. N inilah perbedaan antara orang-orang jahiliyah N orang-orang Islam.” 


(Lihat : Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Mungkar, hal. 19. cet. Wizarah Syuun al Islamiyah Mamlakah Su’udiyah Al ‘Arobiyah) 


Ilmu di sini mencakup ilmu tentang kebaikan N kemungkaran itu sendiri, bisa membedakan antara keduanya N berilmu tentang keadaan yang diperintah N yang dilarang.

___________________

B). “Mempertimbangkan antara maslahah N mafsadah yang ada”


Mempertimbangkan antara maslahah N mafsadah or madlarrah yang ada adalah merupakan suatu kaidah yang sangat penting dalam Syari’ah Islam secara umum, N dalam beramar ma’ruf N nahi mungkar secara khusus. 


Maksudnya ialah : seseorang yang beramar ma’ruf N nahi mungkar harus memperhatikan N mempertimbangkan antara maslahah N mafsadah dari perbuatan tersebut. Jika maslahah yang ditimbulkan lebih besar dari mafsadahnya maka ia boleh melakukannya, tetapi jika menyebabkan kerusakan N kemungkaran yang lebih besar maka tidak diperbolehkan. 


N ketidak bolehan tersebut disesuaikan dengan kadar mafsadah-nya yang terkadang bisa sampai pada derajat haram. Sebab yang demikian itu (yakni jika menimbulkan mafsadah yang lebih besar) bukanlah sesuatu yang di perintahkan oleh Allah Ta’ala, sekalipun kemungkaran tersebut berbentuk suatu perbuatan meninggalkan kewajiban N melakukan yang haram. 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :


“Jika amar ma’ruf N nahi mungkar merupakan kewajiban N amalan sunah yang sangat agung (mulia). Maka sesuatu yang wajib N sunah hendaklah maslahat di dalamnya lebih kuat atau lebih besar dari mafsadahnya. Karena para rasul diutus N kitab-kitab diturunkan dengan membawa hal ini, N Allah tidak menyukai kerusakan, bahkan setiap apa yang diperintahkan Allah adalah kebaikan, N Dia telah memuji kebaikan N orang-orang yang berbuat baik N orang-orang yang beriman serta beramal saleh, serta mencela orang-orang yang berbuat kerusakan dalam beberapa tempat, apabila mafsadah amar ma’ruf N nahi mungkar lebih besar dari maslahahnya maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, sekalipun telah ditinggalkan kewajiban N dilakukan yang haram. Sebab seorang mukmin hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menghadapi hamba-Nya, karena ia tidak memiliki petunjuk untuk mereka, N inilah makna firman Allah :


يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم 

“Wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah jiwa-jiwa kalian. Orang yang menyimpang tidak akan membahayakan kalian, jika kalian di atas hidayah.” (QS. Al-Maa’idah: 105)


N hidayah hanya-lah didapatkan dengan melakukan kewajiban.” 


N beliau rahimahullah juga menambahkan :


“Sesungguhnya perintah N larangan jika menimbulkan maslahah N menghilangkan mafsadah maka harus dilihat sesuatu yang berlawanan dengannya, jika maslahah yang hilang atau kerusakan yang muncul lebih besar maka bukanlah sesuatu yang diperintahkan, bahkan sesuatu yang diharamkan apabila kerusakannya lebih banyak dari maslahatnya, akan tetapi ukuran dari maslahah N mafsadah adalah kacamata syari’ah.”


(Lihat : Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 10. cet. Wizarah Syuun al Islamiyah Mamlakah Su’udiyah Al ‘Arabiyah)

_____________

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah juga berkata :


“Jika mengingkari kemungkaran menimbulkan sesuatu yang lebih mungkar N di benci oleh Allah N Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan, sekalipun Allah membenci pelaku kemungkaran N mengutuknya.” (Lihat : I’laamul Muwaqqi’iin, 3/4)


Oleh karena itu perlu difahami N diperhatikan empat tingkatan kemungkaran dalam bernahi mungkar berikut ini:


1. Hilangnya kemungkaran secara total N digantikan oleh kebaikan.


2. Berkurangnya kemungkaran, sekalipun tidak tuntas secara keseluruhan.


3. Digantikan oleh kemungkaran yang serupa.


4. Digantikan oleh kemungkaran yang lebih besar.


Pada tingkatan pertama N kedua disyari’atkan untuk bernahi mungkar. N pada tingkatan ketiga butuh ijtihad. Sedangkan yang keempat terlarang N haram melakukannya. 


(Lihat Syarh Arba’in Nawawiyah, Syaikh Al Utsaimin, hal : 255)

_________________

C). “Gunakanlah kelemah-lembutan N sopan- santun” 


Seorang yang beramar ma’ruf N nahi mungkar hendaklah mempunyai sifat lemah lembut N penyantun, sebab segala sesuatu yang disertai lemah lembut akan bertambah indah N baik. N sebaliknya jika kekerasan menyertai sesuatu maka akan menjadi jelek, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam :


إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا يترع من شيء إلا شانه

“Sesungguhnya tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, N tidaklah dicabut (hilang) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.” (HR. Muslim no. 2594)


Lalu apakah termasuk lemah lembut N santun jika kakak mengumpulkan banyak orang dengan alasan daurah dengan judul “Romantika bla bla bla”. Kemudian ternyata kakak membicarakan kekurangan-kekurangan or penyimpangan-penyimpangan fadlilatul ustadz Mukhtar di hadapan mereka. Sebelum kakak bertabayyun N bertatap muka langsung dengan fadlilatul ustadz, tanpa tedeng aling-aling setelah terkumpul-kan data sebanyak tiga kardus satu tas plus satu kresek (plastik) yang sudah bertahun-tahun terkumpulkan?!. 


Yang kebetulan data-data penyimpangan-penyimpangan fadlilatuil ustadz tersebut kakak dapatkan bukan dari hasil mengintai, tetapi kebetulan masing-masing murid fadlilatul ustadz Mukhtar sendiri yang memberikan-nya kepada kakak yang betul-betul konkrit tanpa manipulasi. Kemudian kakak muntahkan semua penyimpangan-penyimpangan tersebut dihadapan manusia yang sudah kakak kumpulkan. Dibenarkan-kah perbuatan kakak?! (itupun penyimpangan versi kakak bukan versi fadlilatul ustadz)


NB : Padahal semua masih bisa dibicarakan dengan baik-baik secara damai N kekeluargaan N kerukunan N kebersamaan. Terlebih ini adalah perkara dakwah N agama. Lalu apakah perbuatan kakak terhadap fadlilatul ustadz Mukhtar sesuai S&K syari’ah Islam yang memerintahkan lemah lembut N santun?! (kakak yakin fadlilatul ustadz paling tahu jawaban-nya)


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga kembali menasihatkan :


إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله، ويعطي على الرفق ما لا يعطى على العنف وما لا يعطي على ما سواه

“Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Ia menyukai sifat penyantun (lemah lembut) dalam segala urusan. N memberikan dalam lemah lembut apa yang tidak diberikan dalam kekerasan N apa yang tidak diberikan dalam selainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Imam Ahmad rahimahullahu juga berkata :


والناس يحتاجون إلى مداراة ورفق في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بلا غلظة، إلا رجلا معلنا بالفسق، فقد وجب عليك نهيه وإعلامه، لأنه يقال: ليس لفاسق حرمة، فهؤلاء لا حرمة لهم

“Manusia butuh kepada mudaaraah (sikap dengan lembut) N lemah lembut dalam amar ma’ruf N nahi mungkar tanpa kekerasan. Kecuali seseorang yang terang-terangan melakukan dosa (Yakni yang sudah tidak bisa lagi melalui jalur lemah lembut N santun). Maka wajib atasmu melarang N memberitahunya, karena dikatakan : “Orang fasik tidak memiliki kehormatan” maka mereka tidak ada kehormatannya.” (dikarenakan tidak lagi berpengaruh baginya lemah lembut N santun)


(Ibnu Muflih menukilnya di dalam al-Adab asy-Syar’iyyah (1/212) N Ibnu Rojab di dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/272).


Lalu apakah lemah lembut N santun sudah tidak bermanfaat N tidak lagi berfungsi bagi Al Madinah N bagi Na’im N Jauhari ?! (barang kali fadlilatul ustadz Mukhtar bisa jawab!!!)


Jika di zaman Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, zaman di mana ilmu N sunnah lebih dominan dalam kehidupan manusia N mewarnai perilaku mereka, tentu manusia di zaman kita sekarang ini lebih membutuhkan lemah lembut N santun dalam menghadapi N menyikapi kesalahan yang mereka lakukan, apalagi dengan berkembangnya kebodohan N kejahilan dikalangan kaum muslimin N semakin jauhnya mereka dari bimbingan Al-Qur’an N Sunnah kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan kaum muslimin kepada al haq N kebenaran, amiin.


Imam Ahmad rahimahullah kembali berkata :


ينبغي أن يأمر بالرفق والخضوع، فإن اسمعوه ما يكره لا يغضب فيكون يريد أن ينتصر لنفسه 

“Seseorang itu hendak-nya menyeru dengan lemah lembut N tawadlu’ (merendahkan diri). N jika manusia memperdengarkan (memperlihatkan) kepada-nya apa yang ia benci janganlah ia marah. Karena (jika marah) berarti ia ingin membalas untuk dirinya sendiri.”


(Ibnu Muflih menyebutkannya di dalam al-Adab asy-Syar’iyyah (1/213) dan Ibnu Rojab di dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/272).

________________

D). Kemudian yang terakhir pada Muqaddimah N sekapur sirih ini yang tak kalah penting-nya yang ingin kakak sampaikan adalah :


“MULAAZAMATUSH SHOBR” (terus menerus berada dalam keshabaran).


Hendaklah seseorang yang beramar ma’ruf N nahi mungkar itu senantiasa bersifat sabar, sebab sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebenaran N kebaikan serta mencegah dari kemungkaran pasti akan menghadapi bermacam bentuk cobaan, jika ia tidak bersabar dalam menghadapinya maka kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak dari kebaikannya. 


Janganlah ketika merasa terdzolimi or teraniaya (itu-pun hanya MERASA yang belum jelas hakikat-nya apakah BENAR tedzolimi or teraniaya atau TIDAK) kemudian serta merta langsung membawakan hadits sabagai siratan vonis bahwa teman diskusi kita telah berbuat fajir (idza khoshoma fajar). Sungguh ucapan seperti ini tidak mencerminkan sifat kesabaran, terlebih yang mengucapkan adalah seorang ustadz sekaliber Abu Nashim Mukhtar. 


فأين الصبر و أين ملازمة الصبر ؟؟؟!!!

Lalu dimanakah keshabaran N dimana usaha mencoba untuk terus N selalu bershabar???!!!


Padahal Allah menceritakan tentang wasiat Luqman Al Hakim terhadap anaknya :


وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور

“N suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik N cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar N bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)


Oleh karena itu Allah ta’ala memerintahkan para rasul –di mana mereka adalah panutan orang-orang yang beramar ma’ruf N nahi mungkar- untuk bersabar, sebagaimana firman Allah kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terdapat pada awal surat Muddatstsir, surat yang pertama turun setelah “Iqra”:


يا أيها المدثر، قم فأنذر، وربك فكبر، وثيابك فطهر، والرجز فاهجر، ولا تمنن تستكثر، ولربك فاصبر

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu beri peringatan. N Rabbmu agungkanlah. N pakaianmu bersihkanlah. N perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. N janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) lebih banyak. N untuk (memenuhi perintah) Rabbmu bersabarlah.”


N sangat banyak ayat-ayat N ahadits yang memerintahkan untuk bersabar dalam menghadapi segala cobaan N problematika hidup secara umum, N dalam berdakwah N beramar ma’ruf N nahi munkar secara khusus. 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : 


“Sabar terhadap cobaan dari manusia dalam beramar ma’ruf N nahi mungkar jika tidak dipergunakan niscaya akan menimbulkan salah satu dari dua permasalahan (kerusakan) :


1). Boleh jadi ia akan meninggalkan amar ma’ruf N nahi mungkar. Atau 


2). Akan menimbulkan fitnah N kerusakan yang lebih besar dari kerusakan meninggalkan amar ma’ruf N nahi mungkar, atau semisalnya, atau mendekatinya, kedua hal ini adalah maksiat N kerusakan.


Kemudian beliau rahimahullah membawakan ayat :


وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور

“N suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik N cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar N bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”


Maka barang siapa yang menyeru tetapi tidak memiliki shifat sabar, atau memiliki shifat sabar tetapi tidak menyeru, atau tidak menyeru N tidak bersabar, maka akan timbul dari ketiga macam ini kerusakan. 


N kebaikan itu hanya diperoleh dengan menyeru (kepada kebaikan) N mencegah dari kemunkaran N bersabar.” 


(Lihat : Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/181)


Maka, hendaknya ilmu, lemah lembut, sabar, ilmu sebelum menyeru N melarang, N lemah lembut bersamanya, N sabar sesudahnya, masing-masing dari karakter tersebut harus selalu N senantiasa ada pada setiap waktu N situasi N kondisi N keadaan, hal ini sebagaimana yang dinukilkan dari sebagian salaf :


لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فقيها فيما أمر به، وفقيها فيما ينهى عنه، ورفيقا فيما يأمر به، ورفيقا فيما ينهى عنه، حليما فيما يأمر به، وحليما فيما ينهى عنه

“Tidaklah menyeru kepada kebaikan N mencegah dari kemungkaran kecuali :


1). Orang yang berilmu (memahami) apa yang ia serukan. N 


2). Memahami apa yang dia larang. N 


3). Berlemah lembut di dalam apa yang ia serukan. N 


4). Berlemah lembut dalam apa yang ia larang. N 


5). Santun dalam apa yang ia serukan. N 


6). Santun dalam apa yang ia larang.” 


(Syaikhul Islam menukilkannya di dalam Majmu’ al-Fatawa (28/137) N Ibnu Muflih di dalam al-Adab asy-Syar’iyyah (1/213)

__________________

Demikian ini adalah sekapur sirih N muqaddimah sekaligus nashihat dari kakak sebelum kita masuk pada inti N poin masail sebagai jawaban-jawaban N nashihat permata nan berharga untuk fihak yang bersangkutan secara khusus N untuk Islam N Muslimin secara umum. Semoga nafi’ N mabruk. amin 

________________

N tak lupa kembali kakak washiatkan kepada semua hadlirin mari budayakan bertaqwa kepada Alloh sopan santun N ramah tamah N kelemah lembutan sesama muslim. S & K berlaku. Baarokallohu fikum ajma’in.


Ditulis oleh al faqir ila rahmati Rabbih kakak 
Pedagang Singkong.

# Sebenarnya sumber artikel ada di FB. Hanya sj kami kesusahan membuka link yg disebutkn oleh pemilik blog tsb, yaitu: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=551811238251958&id=100002692610871&comment_id=552155111550904&offset=0&total_comments=26&_rdr

1 Komentar:

Pada 26 Oktober 2014 11.35 , Anonymous Anonim mengatakan...

bagian ke-2

http://news-screenshoot.blogspot.com/2014/10/dilema-fadlilatul-ustadz-mukhtar.html

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda