Minggu, 28 Desember 2014

Bimbingan Asy Syekh Rabi’ Bin Hady Al Madkhaly kepada Penuntut Ilmu Pemula dalam Menyikapi Perselisihan Masyayikh

Ini adalah tulisan dr Akhuuna Thalibul Ilmi, mengutarakan adab dan sikap yg benar bg seorg pencari ilmu dlm menyikapi perselisihan masyayikh ahlussunnah, agar kita tdk salah langkah dlm bersikap dan tdk pula ghuluw atau taqshir.

Nasehat2 seperti ini amat penting kita posting di hari2 tersebar hawa dan fitnah yg melanda ahlussunnah. Sebagian org menganggap dirinya telah berada di atas kebenaran dg membela seorg syekh, lalu merendahkan syekh yg lain. Benarkah sikap ini?
Jawabannya, bisa anda temukan dlm petikan-petikan nasehat Al Allamah Robi' bin Hadi Al Madkholy berikut ini:

سئل فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله السؤال التالي
شيخنا الكريم بماذا تنصح المبتدئ في طلب العلم إذا واجهته الاختلافات بين المشايخ؟

Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali hafizhahullah pernah ditanya tentang pertanyaan berikut ini,

Wahai Syaikh kami yang mulia, apa yang anda nasehatkan bagi seorang pemula dalam mencari ilmu jika dihadapkan pada perselisihan diantara masyayikh?
______________________


فأجاب حفظه الله

Beliau hafizhahullah menjawab,
______________________

[1]

طالب العلم إذا واجهته الاختلافات بين المشايخ فعليه أن يذهب إلى أوثقهم عنده وأكثرهم التزاما واتباعا للسنة، فيدرس عليه ويستفيد منه ويستعين بالله، ثم به على إدراك حقيقة الخلاف
"Seorang penuntut ilmu jika dihadapkan pada perselisihan di antara masyayikh, dia harus menuju ahli ilmu (diantara masyaikh) yang paling dipercaya di sisinya, yang paling berpegang dan mengikuti Sunnah. Dia belajar, mengambil faedah, dan memohon pertolongan kepada Allah... Kemudian dengan metode ini dia mengerti hakikat perselisihan yang terjadi".
______________________

Ada beberapa hal yang hendaknya kita perhatikan dari perkataan Syaikh Rabi’ hafizhahullah diatas,
(1) “Seorang penuntut ilmu jika dihadapkan pada perselisihan di antara masyayikh”, perhatikan kata “
المشايخ" adalah jamak dari "الشيخ”. Hal ini memahamkan kita bahwa ulama itu bukan hanya dua, tentunya yang berselisih itu banyak.
(2) “dia harus menuju ahli ilmu (diantara masyaikh) yang paling dipercaya di sisinya”, Perhatikan kata “
أوثقهم”, أوثق : yang paling dipercaya, هم : mereka. Kemudian beliau menyebutkan kriteria ahli ilmu tersebut,
(3) “yang paling berpegang dan mengikuti Sunnah, yang paling berpegang dan mengikuti Sunnah”. Nah... Ulama yang memiliki kriteria seperti inikan banyak,
(4) “Dia belajar, mengambil faedah, dan memohon pertolongan kepada Allah lalu kepadanya sehingga mengerti hakikat perselisihan yang terjadi”. Hal inilah yang banyak ditinggalkan penuntut ilmu, yang namanya belajar dan mengambil faedah membutuhkan waktu yang lama dan disertai “memohon pertolongan kepada Allah Jalla Tsa’nuhu”. Yang dengan ilmu itu dia “mengerti hakikat peselisihan yang terjadi”.
______________________

[2]

فيساعده هذا الشيخ العالم الثقة المتمسك بالكتاب والسنة على حل هذه المشكلة بأن يبين له الأدلة من كتاب الله وسنة رسول الله -عليه الصلاة والسلام- ومنهج السلف الصالح، أن الحق في القول الفلاني، وأن ما يقابله من الأقوال خطأ أو باطل، ويسوق الأدلة في ضوء قول الله -تبارك وتعالى-
{
فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر}
[
النساء:(59)]

Sehingga syaikh ini yang alim lagi dipercaya dan berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah membantunya dalam memecahkan permasalahan tersebut dengan menjelaskan kepadanya berdasarkan dalil Kitabullah, Sunnah Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam, dan metode yang ditempuh salaf shalih, bahwa yang benar adalah pendapat si fulan, adapun pendapat-pendapat yang lain salah atau batil. Serta dia membawakan dalil-dalil dari firman Allah Ta’ala,

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.”
[QS. An-Nisa: 59]
______________________

Syaikh Rabi’ hafizhahullah mengajarkan kepada kita tentang Ittiba’ (lawan dari Taqlid). Mengikuti ulama memiliki ketentuan dalam syari’at. Adakalanya kita boleh menerima ucapan alim secara mutlak dan adakalanya kita menerima diatas keterangan yang jelas kebenaran dan dalil-dalil yang mendasari ucapannya... yang mengharuskan adanya rincian dalam pengikutan.

Apalagi dalam masalah Al-Jarh wat-Ta'dil dan perselisihan ulama tentangnya, kita membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajarinya. Bagi yang ingin masuk kedalam pintu ini hendaknya dia sudah mempalajari jenjang demi jenjang kitab-kitab ilmu mushtholahul hadits berikut, seperti: Matan Bayquniyah, Taysir Mushthalahul Hadits, Nuzhhatun Nazhar, Dhawabidh Al-Jarhu wat-Ta’dil, Al-Ba’its wal-Hatsits, dan Tadribur Rawi.
Dan lihatlah kerusakan dalam dakwah salafiyah di negeri kita yang tercinta ini... apa sebabnya???... Karena banyaknya penuntut ilmu pemula yang masuk kedalam pintu Al-Jarh wat-Ta’dil, sedang dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Masih bau kencur... koar sana sini tanpa ilmu, dan yang lebih parah lagi menjadikan situs TPAH milik Purwito Al-Malanjy yang jahil sebagai rujukan dalam menyikapi perselisihan masyayikh.
Duhai... sekiranya mereka mengikuti bimbingan Syaikh Rabi’ hafizhahullah. Tidak akan kita dapati perdebatan dan perselisihan karena semua pada sibuk dalam menuntut ilmu.
Perhatikan perkataan Syaikh Rabi’ hafizhahullah selanjutnya,
______________________

[3]

يعني لا يضع نفسه في مهب الرياح، ويعالج المشاكل بنفسه، ويركبه الغرور لا، أولا يفعل كما قلنا، بل يلزمه قبل هذا أن يضرع إلى الله -تبارك وتعالى- ويقول
اللهم فاطر السموات والأرض عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراطك المستقيم

يا إخوتاه مطلوب أن ندعو به كل يوم، كيف بنا نحن، وكيف بنا إذا واجهنا هذه المشاكل، وكيف إذا واجهناها ونحن في غاية الضعف وفي غاية الجهل، فنحن وفي أمس الحاجة أن نضرع إلى الله ونلجأ إلى الله

Maknanya... seorang penuntut ilmu pemula, janganlah dia memosisikan dirinya diterpa angin, sendirian dalam menyelesaikan masalah, serta ditimpa penyakit ghurur (tertipu dengan dirinya sendiri).
Jangan… Pertama kali semestinya dia menempuh apa yang kami katakan bahkan harus baginya untuk tunduk kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, sambil berdoa,

“Ya Allah, Dzat Yang Menciptakan langit-langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib maupun yang nampak, Engkau yang menghukumi perkara yang diperselisihkan oleh hamba-hamba-Mu. Tunjukkan kepadaku kebenaran dari perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah orang yang Engkau kehendaki kepada jalan-Mu yang lurus.”

Wahai ikhwah sekalian, kita dituntut untuk berdoa kepada-Nya setiap hari. Bagaimana kondisi kita sekarang?... Bagaimana keadaan kita jika dihadapkan pada permasalahan-permasalahan?... BAGAIMANA JIKA KITA DIHADAPKAN DENGAN BERBAGAI PERMASALAHAN SEMENTARA KITA BERADA PADA KEADAAN YANG SANGAT LEMAH SERTA JAUH DARI ILMU?... Sesungguhnya kita sangat butuh untuk tunduk dalam beribadah serta menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
______________________

Syaikh Rabi’ hafizhahullah menjelaskan... bahwa kita sangat butuh kepada sifat TADHARRU’/tunduk dalam beribadah dan LUJU/menyerahkan segala sesuatu kepada Allah dalam menyikapi perselisihan diantara masyaikh dengan menempuh dua metode yang telah beliau sebutkan, yaitu:
1. Menyibukkan diri dengan ilmu... belajar dan mengambil faedah menuju ahli ilmu sehingga dia mengerti hakikat perselisihan yang terjadi dengan ilmu yang dia miliki. Dia bersikap dengan ilmu... bukan hanya sekedar ikut-ikutan teman, ustadz, atau ulama tanpa ilmu dan hujjah.
2. Senantiasa berdo’a kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Beliau juga mengingatkan akan kadar seorang penuntut ilmu pemula “janganlah dia memosisikan dirinya diterpa angin, sendirian dalam menyelesaikan masalah, serta ditimpa penyakit ghurur (tertipu dengan dirinya sendiri)”, lalai dari menuntut ilmu dan ibadah... dan terus sibuk dengan fitnah perselisihan...
______________________

[4]

لكن مع الأسف بعض الناس لا يسلك هذه المسالك، ويركب رأسه، ويتبع هواه، ويرجح ما يريد، ويترك ما يريد، وهذا ليس أسلوب المسلمين ولا بأسلوب الصادقين الناصحين لأنفسهم والناصحين للأمة الإسلامية

Namun sungguh disayangkan... sebagian manusia tidak menempuh metode ini. Dia mengikuti apa yang di kepala serta hawa nafsunya. Merajihkan (memilih) dan meninggalkan apa yang dia inginkan. Ini bukanlah metode kaum muslimin. Bukan jalan orang-orang yang jujur lagi menginginkan nasehat bagi dirinya serta umat islam.
______________________

Semoga Allah memudahkan diri kita semua untuk mengamalkan nasehat ini...
Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi Syaikh rabi’, memanjangkan umur beliau untuk senantiasa memberikan kemamfaatan kepada kaum muslimin...
Amin ya Mujibas Sailin

Wahai Syaikh Rabi’... Kami sangat mencintaimu karena Allah...
Semoga Allah mengumpulkan kita di Jannah-Nya kelak...
Amin
______________________
Sumber:

مجموع كتب والرسائل وفتاوى فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله
(15/ 21-22)


Label:

2 Komentar:

Pada 28 Desember 2014 14.03 , Anonymous Anonim mengatakan...

SEKALI LAGI, NASEHAT AL-‘ALLAMAH AL-‘ABBAD KEPADA PARA GHULAT

Pertanyaan diajukan kepada Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Hafidzahullah.

Seorang penanya berkata: Wahai Syaikh kami, semoga Allah menjagamu.
Di antara taufiq Allah bagi para penuntut ilmu, hadirnya (pelajaran) Muqoddimah Muslim beserta penjelasannya dari anda yang mulia. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaidah-kaidah yang disebutkan oleh Imam Muslim telah menjadi rancu atas sebagian orang, sebagian mereka menerapkannya atas sebagian saudara-saudaranya dari kalangan Ahlussunnah. Jika seorang alim berijtihad membid’ahkan seseorang dan ia diselisihi oleh (seorang alim) yang lain, mereka ini mengharuskan orang lain untuk membid’ahkan orang tersebut,kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka dan memboikot dan mentahdzirnya dengan keyakinan bahwasanya ini adalah manhaj Salaf, padahal akidah dan manhaj kedua belah pihak adalah satu. Kebanyakan negeri mereka-mereka ini telah tersebar padanya syirik, sihir dan tashawwuf. Apakah ada nasehat(dari anda) yang akan menjelaskan kebenaran dan mempersatukan kalimat?

..........

(Transkrip tanya jawab bersama Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbaad hafidzahullah, setelah pelajaran Kitab Shahih Muslim di Masjid Nabawiy, Madinah, Kerajaan Arab Saudi.

Tanggal rekaman 05 Shofar 1435/ 08 Desember 2013)

Akhukum fillah Muhammad Tamrin Abu Zakariyya At-Tawawiy.

Dinukil dari grup Telegram dan dishare kembali

Diposting via Cutepress for BB10
BlackBerry Z10

Bisa dibaca melalui http://abusalma.net/2014/11/22/sekali-lagi-nasehat-al-allamah-al-abbad-kepada-para-ghulat/

 
Pada 29 Desember 2014 01.22 , Blogger Novit Safitri mengatakan...

Nasehat yg sangat baik utk kita smua

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda