Selasa, 02 Desember 2014

Haddadi di Balik Topeng Syeikhul Islam Luqman Jember cs Diwakili melalui Lisan Buruk Purwito



(“Membuka Wacana Menambah Wawasan Meluruskan Paham Para Korban Doktrin”)
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما مزيدا إلى يوم الدين، أما بعد
Mengenal tanda-tanda hizbiyah yang sangat menonjol dan melekat pada diri kelompok yg dikenal dg "Qiyadah Luqmaniyah" (QL), sebuah kelompok organisasi perpolitikan dan pergerakan rebutan mad’u yang berada di bawah naungan dan qiyadah (komando) UJe (Ustadz Jember) cs, dimana kepemerintahan mereka berpusat di Jember Jawa Timur Indonesia.
Pada bagian ketiga yang lalu walhamdulillah kita telah sama-sama mengenal dan mengetahui diantara tanda dan ciri menonjol hizbiyah mereka (UJE cs) adalah gegabah dan mudah memvonis dalam skandal tahdzir serampangan mereka.
Kemudian pada pertemuan kita kali ini insya Allah kita akan mencoba kembali mentela’ah ciri-ciri kehizbiyahan mereka selanjutnya yang sangat menonjol yakni sebagai berikut :

B) Sibuk dengan Tashnif (menggelar-gelari dan mengkotak-kotak) manusia secara gegabah dan serampangan tanpa ilmu.

Terdapat sebuah nashihat dan kalam yang indah dari syeikh Bakr Abu Zaid rahimahullah :

وفي عصرنا الحاضر يأخذ الدور في هذه الفتنة دورته في مسلاخ من المنتسبين إلى السنة، متلفعين بمرط ينسبونه إلى السلفية ظلماً لها، فنصبوا أنفسهم لرمي الدعاة بالتهم الفاجرة المبنية على الحجج الواهية، واشتغلوا بضلالة التصنيف
“Di zaman kita saat ini, turut mengambil andil di dalam peredaran fitnah yang perputarannya berada di dalam kulit orang-orang yang menisbatkan diri kepada sunnah yang ditutupi dengan balutan dengan kain wool, mereka menyandarkan hal ini kepada salafiyyah untuk menzhalimi (menjajah) dakwah salafiyah ini, mereka tegakkan diri mereka dengan melemparkan tuduhan keji (termasuk gelaran-gelaran buruk) yang dibangun di atas hujjah-hujjah yang lemah, dan mereka sibukkan diri dengan kesesatan tashnif tersebut...”

Syeikh Bakr Abu Zaid rahimahullah juga berkata :

وهذا الانشقاق في صف أهل السنة لأول مرة، حسبما نعلم يوجد في المنتسبين إليهم من يشاقهم، ويجند نفسه لمثافنتهم ويتوسد ذراع الهم لإطفاء جذوتهم، والوقوف في طريق دعوتهم، وإطلاق العنان للسان يفري في أعراض الدعاة، ويلقي في طريقهم العوائق في عصبية طائشة

“Perseteruan yang terjadi di barisan ahlus sunnah pada awal mulanya, sebagaimana kita ketahui, ditemukan orang-orang yang menyandarkan diri pada ahlus sunnah terdapat orang yang memusuhinya, dia kerahkan dirinya untuk menemani mereka dan berbantal sejengkal keinginan untuk memadamkan bara apinya, berhenti di jalan dakwah mereka, dan melepaskan kendali (tidak mampu menahan) lisan untuk membuat kedustaan terhadap kehormatan para da’i, dan didapatkan di dalam jalan mereka adanya fanatisme 'ashabiyyah yang mengerikan (gegabah)...”

Lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, karya syeikh Bakr Abu Zaid, Darul Ashimah Mamlakah Su’udiyah, hal. 28-29 cetakan pertama.

Iya, sungguh benar Syaikh Bakr Abu Zaid, benar akan adanya sebagian oknum yang berpakaian dengan pakaian dakwah salafiyyah, mengaku-ngaku darinya, namun keinginannya adalah ingin merusak barisan salafiyyah dengan melemparkan tashnif dan tuduhan-tuduhan dan gelaran-gelaran dusta. Seringkali terucap dari lisan keji mereka tuduhan-tuduhan, bahkan istilah-istilah baru yang mereka adakan untuk melariskan tashnif mereka kepada manusia. Na’udzubillah.
Tatkala bangsa kafir Barat dan Eropa kian alergi terhadap seruan salafiyah ini. Tatkala kaum awam butuh terhadap pemahaman agama Ilahi Samawi yang hakiki. Tatkala kewajiban-kewajiban ini berada di atas pundak-pundak kita. Saat itu pula, mereka berusaha meruntuhkan sendi-sendi keindahan islam dan lambang kemuliaan kaum muslimin.
Lisan-lisan mereka tajam tidak mampu mereka kendalikan. Begitu mudah untuk melepas semua yang tersirat dalam hati mereka. Tidak bisa menimbang mana yang akan membawa kemuliaan dunia dan akhirat terhadap Islam dan Muslimin atau justru akan menghinakan mereka.
Tatkala syeikh ‘Ubaid hafizhahullah menyatakan dengan konteks mughaffal (مغفل) dalam ma’ani dan maqashid lughah ‘arabiyyah yang memiliki cakupan sangat luas. Maka dengan serta merta dalam hitungan detik, tersebar ke penjuru dan pelosok dunia dengan terjemah “Dungu” dan “Pandir”. Tersematkan kepada syeikh Al Adani sebagai ijma’ dari syeikul islam Luqman Ba’abduh dan para pengikutnya.

Padahal hanya satu ulama yang mengucapkannya. Itupun bisa saja Qaul tsb tertolak, sebagaimana mereka juga menolak kalam syeikh Ubaid itu sendiri thp syeikh Bazmul.
Dan tatkala mereka belum bisa mempublikasikan bukti-bukti dan nukilan yang diberikan kepada syeikh kibar mereka (Hani Buraik) sehingga muncul kalimat tahdzer keda Dzul Qarnain. Namun serentak dalam hitungan detik tersebar ke penjuru dan pelosok dunia : Dzul Qarnain cs sebagai MLM. Dan yang tidak bersama mereka pun terstempel turut serta sebagai MLM.
Terkhusus dengan nukilan syeikhul islam Luqman Ba’abduh cs yang diberikan kepada Hani Buraik tentang saudara kami fillah Dzul Qarnain. Hani Buraik tegas dan sharih menyatakan

بِمَا نَقَلْتُهُ عَنْكُمْ
"Berdasarkan apa yang aku nukil dari kalian (yakni Luqman cs)"

Wahai syeikhul islam Luqman Ba’abduh, wahai Afif Gresik, wahai Asykari, wahai Usamah Mahri, wahai Sewed, wahai Qomar, wahai Syarbini dan kawan-kawan seperjuangan kalian semua :
Kalian sesumbar dengan lantang dalam suara-suara dan tulisan kalian, bahwa kalian tidak memberikan nukilan kepada syeikh kibar kalian (Hani Buraik). Kalian menyatakan bahwa syeikh kibar kalian (Hani Buraik) sangat paham kondisi Indonesia. Kalian memerintahkan kami untuk langsung bertanya kepada syeikh kibar kalian (Hani Buraik).

Kalian ber-hilah dan mengelak serta menolak dengan lantang dan tegas bahwa syeikh kibar kalian tidak menukil dari kalian. Lalu di sisi lain syeikh kibar kalian alias Hani Buraik sendiri sadar tanpa paksaan tegas lantang dan sharih menyatakan :
بما نقلته عنكم
"Berdasarkan apa yang aku nukil dari kalian (yakni Luqman cs)"

Siapa kata “kalian” yang dimaskud oleh Hani Buraik kalau bukan kalian wahai UJE cs !? apakah mungkin Hani Buraik memiliki jin piaran !?
Kemudian kalian dengan serta merta memvonis dan menstempel dan menyebarkan gelar-gelar buruk (tashnif) MLM. Kalian sematkan kepada semua mukhalif (orang-orang yang menyelisihi) kalian.
Dan juga tatkala dendam dan kebencian kalian kepada Syekh Al Imam terpendam dan tak mampu untuk meluapkan dan melampiaskannya. Segala rasa asa dan kebencian kalian tahan dan kalian pendam dalam dada-dada panas membara kalian. Kemudian muncul angin silir nan sepoi syeikh Ubaid mengganyang Al Imam dengan berita yang bersumber dari salah satu kibar Olama kalian alias si Arafat Al Fattaan kedua setelah Hani Buraik.

Maka angin sepoi pun tersambut mesra dengan riang romantis dan gembira oleh syeikhul islam Luqman cs. Dalam hitungan detik dan menit tersebar dalam berbagai bentuk media rekaman dan tulisan : "Al Imam sebagai mubtadi’ dlallun Ikhwani"… (ila akhir min kalamikum).
Entah apa gerangan yang membuat kalian kalap gelap dan buta akan renungan terhadap sebuah ayat llahi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. سورة المائدة وآيتها الثامنة
"Wahai orang-orang yang beriman, senantiasalah kalian menjadi orang-orang yang menegakkan (kebenaran) kerana Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali (dikeranakan) kebencian kalian terhadap suatu kaum, kemudian membuat kalian bertindak mujrim (kejahatan) tidak berbuat adil (thp kaum tsb). (Namun) berlaku adillah, karena keadilan lebih mendekatkan kepada ketaqwaan. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengkhabarkan terhadap apa yang kalian perbuat".

Dan juga, betapa gemar kalian mengikuti metode langkah dan jejak orang-orang yang kalian dahulu berseteru dengan mereka (yakni, para pengikut syekh Al Hajuri). Mereka telah berhenti seakan telah tumbang dan mati dalam lelap kepunahan, namun terkesan kalianlah yang kini menjadi generasi setia penerus visi dan misi serta agen resmi penebar virus-virus kejahatan mereka.

Jika al ustadz Abu Hazim yang kondang dengan hafalan Qur’an dan ahli qira’ah dan suara merdunya. Ia menggelari syeikhul Islam Luqman Ba’abduh dengan tashnif (gelaran buruk) sebagaimana maklum pada tulisan-tulisan dan rekaman mereka.
Maka syeikhul islam Jember pun tak lupa serta merta menimba ilmu kepada al ustadz Abu Hazim. Kemudian dipraktikkan dengan gantian menggelari al ustadz Abu Hazim sebagai “Jin Penunggu Gunung Lawu”.
Kemudian syeikhul islam Sewed juga ikut mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh. Syeikhul Islam Cirebon ini menggelari kepada seorang ustadz dengan istilah “Bibir Sumbing”. Hingga kerana perbuatannya ini, akhirnya ia dilarang oleh takmir masjid tersebut untuk kembali mengisi kajian di mesjid tersebut.

Kemudian syeikhul islam Afif As Sidawi juga tak mau kalah saing untuk turut ikut mengambil jatah dan andil mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh. Syeikhul Islam Gresik ini menggelari kepada ustadz Abu Hazim dengan istilah “Hewan Katak Dalam Tempurung”. Dan menggelari syeikh Abdur Razzaq Ibn syeikh Al ‘Abbad sebagai “Syeikh Beraport Merah”.
Kemudian syeikhul islam internet yang majhul lagi jahil yang kondang dengan nama Purwito Al Malanji juga tak mau kalah saing untuk turut ikut mengambil jatah dan andil mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh. Syeikhul Islam Malang ini menggelari kepada ustadz Farhan dengan istilah “Bocah Ingusan”. Dan juga turut menggelari syeikh Abdur Razzaq Ibn syeikh Al ‘Abbad sebagai “Syeikh Beraport Merah”.
Kemudian syeikhul islam Muslim Indramayu juga tak mau kalah saing untuk turut ikut mengambil jatah dan andil mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh. Syeikhul Islam Indramayu ini menggelari kepada ustadz Farhan dengan istilah “Bocah Durhaka”.
Kemudian syeikhul islam internet yang majhul lagi jahil yang kondang dengan nama Sigit Hermawan yang katanya Penjual Rokok juga tak mau kalah saing untuk turut ikut mengambil jatah dan andil mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh.

Syeikhul Islam Banyumas ini menggelari kepada seorang rakyat jelata fesbuk dengan istilah “Pesing” dan “Pekong”. Kemudian ditrandkan oleh syaikhul islam Purwito dalam situs rujukan utama mereka.

Kemudian syeikhul islam Asykari Kalimantan juga tak mau kalah saing untuk turut ikut mengambil jatah dan andil mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Al Ustadz Abu Hazim melalui syeikhul islam Luqman Ba’abduh. Syeikhul Islam Kalimantan ini menggelari penduduk Negara Yemen dengan istilah “Sudah Tidak Ada Salafy” itu artinya penduduk negeri Yemen adalah “Hizbi”.
Itukah dan begitukah yang diajarkan oleh olama kibar kalian (Hani Buraik) ?
Itukah dan begitukah yang diajarkan oleh ostadz kibar kalian (Luqman Ba’abduh) ?

Lupakah kalian terhadap apa yang Allah ajarkan kepada kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ. سورة الحجرات
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencela atau menghina atau merendahkan suatu kaum yang lain. Bisa jadi kaum yang direndahkan itu lebih baik. Jangan pula para wanita merendahkan para wanita yang lain. Bisa jadi yang dicela lebih baik. Dan janganlah kalian mencela diri-diri kalian. Dan jangan pula memberi gelaran-gelaran yang tidak baik. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang tidak baik setelah keimanan. Barang siapa yang tidak bertaubat, maka merekalah orang-orang yang berbuat zhalim (aniaya)." Al Hujurat

Jangan pernah ada saling meng-KAGET-kan diantara kita. Sejukkan hati lisan dan perasaan ucapan dan perbuatan.

--------------------------------------------------------------------------------

Catatan Pelita Hati:

1. Tulisan ini kami revisi sedikit dari sisi judul.
2. Sebagian kalimat kami ubah, krn sesuatu dan lain hal. Misalnya: penulis brkata: "Mengenal tanda-tanda hizbiyah yang sangat menonjol dan melekat pada tubuh-tubuh berjenggot dan berjubah yang menamakan diri mereka sebagai Qiyadah Luqmaniyah (QL)".
Kami ubah seperti yg anda lihat.
# Semua perubahan itu tdk merusak makna.




Label: ,

14 Komentar:

Pada 3 Desember 2014 01.57 , Anonymous Anonim mengatakan...

Assalamu Alaikum.... sekedar saran saja dan bukan membela mereka, sebaiknya kita juga tidak memberi gelar - gelar kepada mereka seperti UJE CS atau yang lainnya. Artikel - artikel sebelumnya memakai istilah SITUS SETAN untuk situs utama mereka tentu ini juga sangat berlebihan (menurut saya yang tidak punya ilmu). Jazakumullahu Khaeran

 
Pada 3 Desember 2014 02.27 , Anonymous Anonim mengatakan...

Tolong admin pelita sunnah untuk menjelaskan sebab di coretnya *luqman badung* dari daftar murid syeikh muqbil, agar luqmaniyun tau siapa sbnrnya luqman badung...

 
Pada 3 Desember 2014 04.01 , Anonymous ABU SALMAN mengatakan...

Sungguh ana takut kpd Allah untuk menggelari mereka lukman dan semisalnya sebagai haddady karena ana pasti akan diminta pertanggung jawabanku di hadapan Allah, akan tetapi yg zohir yang nampak dari mereka bahwa mereka merendahkan Ulama yaman, ulama yg memberikan udzur kepada syekh Al imam, dan penggelaran yg jelek terhadap saudaranya yg muslim baik dari kalangan ulama,da'i dan kaum muslimin, dan hal ini sama persis seperti kelakuan para haddady.

 
Pada 3 Desember 2014 04.11 , Anonymous ABU SALMAN mengatakan...

BismIlah..Telah nampak kerusakan dari mereka, dengan merendahkan ulama yaman dgn tuduhan2 yg apabila dikaji tuduhan tsb. ad. batil, tapi kerusakan akibat tuduhan mereka sudah tersebar seantero nusantara dan dunia, diantara tuduhan mereka yg batil ad. bahwa Syekh Al imam Haffidzahullah tidak terpaksa dalam perjanjian dengan syiah hutsi dengan mengambil kalam syekh Al Imam " ketahuilah, sesungguhnya urusan saya masih berada di tangan saya bihamdillah.jadi tidak ada seorangpun yang bisa memaksa saya, kecuali dengan kebenaran" padahal kalimat ini menunjukkan Syekh al imam benar-benar terpaksa seperti halnya seorang yg kelaparan ditengah hutan, tdk ada makanan yg dia jumpai melainkan ular & babi, JADI TIDAK ADA SEORANGPUN YANG BISA MEMAKSA DIA, KECUALI DENGAN KEBENARAN untuk memakannya karna keadaan yg memaksa dia, kalau tidak kemungkinan dia akan mati.

 
Pada 3 Desember 2014 04.27 , Anonymous ABU SALMAN mengatakan...

Sungguh ana takut kepada Allah untuk menggelari mereka lukman dan semisalnya SEBAGAI HADDADY, karena ana pasti akan mempertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah,akan tetapi zohir yang Nampak dari mereka adalah merendahkan ulama yaman (padahal Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Mereka (penduduk negeri Yaman )adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan Fiqih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada yaman [HR. Imam Ahmad, disohihkan Imam Al-Albani] dan yg lainnya baik dari kalangan ulama ,da’i dan kaum muslimin yg berseberangan dengan kemauan mereka,yg hal ini sama persis dengan kelakuan haddadyyin.

 
Pada 3 Desember 2014 05.06 , Anonymous Anonim mengatakan...

Itulah mengapa Syeikh Abdul Muhsin menulis kitab Rifqoh Ahlussunnah, karena beliau Hafidzahullah telah memahami bagaimana effek yang akan terjadi jika Tahdzir serampangan ini di terapkan dimasa penuh fitnah ini, kita lihat sekarang apa yang dikhawatirkan beliau telah terjadi, bahkan murid mentahdzir gurunya, tidak seperti yang mereka ajarkan di majlis2, mengajrkan adab tapi malah yang mengajarkan ngga punya adab, bahkan di daerah kami, Ikhwan yg blom bisa baca Al Quran aja udah cerita, Ustadz fulan SURURI, Ustadz Fulan terkena Fitnah, ini nyata bukan cerita kartun. Begitulah Manhaj Ahlussunnah ????

 
Pada 3 Desember 2014 06.21 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

Jazakumulloh khoiron atas masukannya. Sebagian artikel itu berasal dr tulisan kawan2. Semoga suatu saat mrk bisa menggunakan bhs yg lbh sopan.

 
Pada 3 Desember 2014 06.57 , Anonymous Anonim mengatakan...

Merasa paling suci di dunia, tpi dhoir mereka seperti itu, belum lagi kedustaannya, ingkar janjinya......hadeuuuh.....oon sekali para kacung lugman. Apa gak mikir???

 
Pada 3 Desember 2014 18.01 , Anonymous Abu Aisyah mengatakan...

Bismillah, Lihatlah tindakan gegabah dan tergesa-gesa lagi serampangan oleh situs tukpencarialhq atau abdul ghafur didikan lukman babduh yg begitu lancang(kurang ajar) mengatakan " KEWAJIBAN UNTUK MENTAHDZIR SIAPA SAJA YANG MASIH TERUS MEMBELA & MENDUKUNGN SYAIKH AL IMAM DALAM PERJANJIAN DENGAN SYIAH HUTSI" jadi semua masyaikh yaman dan masyaikh sauidi harus di tahdzir termasuk syekh alalamah al muhaddits wasiullah abbas hafidzahullah, karna masyaikh memberikan udzur kepada syekh al imam, yg berkata Syekh As salimy bhw beliau Al imam terpaksa, dan konsekuensi dari pernyataan ini berlaku bagi syekh sholeh fauzan dan masyaikh kibar lainnya apabila memberikan udzur/mebela Syekh Al imam. Bertobatlah wahai abdul ghafur al malangi tidakkah kamu sadar dgn pernyataanmu ini bisa saja Allah Langsung membinasakan kamu dan yg semisal dengan kamu

 
Pada 3 Desember 2014 18.06 , Anonymous Abu Aisyah mengatakan...

Bismillah, Lihatlah tindakan gegabah dan tergesa-gesa lagi serampangan oleh situs tukpencarialhq atau abdul ghafur didikan lukman babduh yg begitu lancang(kurang ajar) mengatakan " KEWAJIBAN (hukumnya Wajib) UNTUK MENTAHDZIR SIAPA SAJA YANG MASIH TERUS MEMBELA & MENDUKUNGN SYAIKH AL IMAM DALAM PERJANJIAN DENGAN SYIAH HUTSI" jadi semua masyaikh yaman dan masyaikh sauidi harus di tahdzir termasuk syekh alalamah al muhaddits wasiullah abbas hafidzahullah, karna masyaikh memberikan udzur kepada syekh al imam, yg berkata Syekh As salimy bhw beliau Al imam terpaksa, dan konsekuensi dari pernyataan ini berlaku bagi syekh sholeh fauzan dan masyaikh kibar lainnya apabila memberikan udzur/mebela Syekh Al imam. Bertobatlah wahai abdul ghafur al malangi tidakkah kamu sadar dgn pernyataanmu ini bisa saja Allah Langsung membinasakan kamu dan yg semisal dengan kamu

 
Pada 5 Desember 2014 07.02 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

Anonim jangan terpancing. Lisan tetap dijaga. Jika ada penyimpangan mrk, maka dijauhi dan jelaskn disini dg hujjah. Trims atas perhatiannya.

TTD

PELITA HATI

 
Pada 7 Desember 2014 05.12 , Anonymous Anonim mengatakan...

Kedua:
Perkataan ustadz Luqman (mulai menit ke 05.57): “...Allahu Akbar, sementara para masyayikh telah menjelaskan ya Akhi ini fitnah terjadi di zaman Anda, Anda tidak berbicara tentang Jahm bin Sofwan yang sudah mati lebih dari seribu tahun yang lalu, Anda berbicara tentang seorang Ahli Bid’ah yang dikatakah oleh syaikh Sholeh Fauzan Murji’ itu ada di zaman Anda, karyanya tersebar dimana-mana, dst...”
Kalimat ini HARUS dikoreksi karena bisa jadi membawa ke makna: “fitnah Jahm bin Sofwan bahayanya lebih kecil dibanding bahaya fitnah Ali Hasan Al Halaby karena Jahm bin Sofwan sudah mati lebih dari seribu tahun yang lalu”.
Bahkan setahu kami ulama dari zaman dahulu sampai sekarang TIDAK PERNAH BOSAN untuk membahas seseorang yang sudah mati lebih dari seribu tahun yang lalu. Didalam karya-karya ulama baik dalam bentuk kitab maupun rekaman.
Kami takut bahwa ini adalah salah satu perbuatan kesesatan Sururiyah yang kita lakukan TANPA SADAR.
Al Ustadz Muhammad Umar AsSewed menjelaskan pada Dauroh di Madiun (5 Desember 2014) tentang ciri-ciri sururiyah adalah:
Menit 44.28: “...memang sunnahnya sururiyin mencerca gurunya dari dulu. Kalau gurunya tidak cocok dicerca. Karena tidak bisa diajak berbicara tentang Hizbiyyin. Maka Abdurrahman Abdul Kholiq berkata tentang gurunya bahwa dia adalah maktabah yang berjalan tapi dengan kitab-kitab lama yang perlu direvisi. Dan pada kesempatan lainnya Abdurrahman Abdul Kholik berbicara: saya tidak butuh ulama-ulama yang hanya mengerti tauhid uluhiyyah, haid-nifas, thoharoh, dan kami tidak butuh barisan para mumi (mayat yang berjalan). Ulama hanya tahu masa-masa yang telah lalu dan tidak tahu masa kekinian. Abdurrahman Abdul Kholik menyebutkan contoh: mereka (para ulama) berbicara tentang masalah Jahmiyah, Mu’tazilah, tentang AlQuran adalah makhluk padahal sudah berakhir masa-masa itu. Sekarang telah muncul kesesatan-kesesatan baru...dst”
Seharusnya ustadz Luqman tidak perlu membandingkan dengan tambahan kalimat “Jahm bin Sofwan yang telah mati lebih dari seribu tahun yang lalu” karena kalimat ini adalah jelek (bentuk bid’ahnya sururiyah).
Dan koreksi ini bukan dalam rangka membela syaikh-syaikh Yaman yang saat ini sedang di tahdzir oleh ulama-ulama kibar. Tapi kami inginkan adalah ustadz di Indonesia memberikan penilaian yang benar (tidak ditambah-tambah dan tidak dikurang-kurangi). Saya membaca juga hujjah yang dibawakan oleh yang lainnya seperti oleh Nashir az-Zaidi (sumber: http://miratsul-anbiya.net/2014/12/01/beberapa-nasehat-dan-arahan-tentang-tahdzir-7-ulama-yaman-terhadap-asy-syaikh-hani-bin-braik-hafizhahullah-1/). Maka hujjah tersebut lebih ilmiah dibandingkan dengan ustadz-ustadz di Indonesia yang kami nilai emosional. Tujuannya juga bagus adalah ketika tahdzir itu datang maka ummat lebih kokoh, lebih sedikit madlorot yang terjadi.
Terakhir kami mohon maaf jika ada kesalahan. Silakan koreksi jika ada yang salah. Keterbatasan ilmu pada kami sesuai yang para guru mengajarkannya kepada kami.
Indonesia, 07 Desember 2014
Abu ‘Umar

 
Pada 8 Desember 2014 18.02 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

Mirip2 ucapan Muhammad surur Zainul Abidin. Semakin banyak bicara, maka semakin kelihatan belangnya!

 
Pada 12 Desember 2014 07.46 , Anonymous Anonim mengatakan...

AL-‘ALLÂMAH AL-‘ABBÂD DITANYA TENTANG TAHDZÎRAN YANG BEREDAR KEPADA MASYAIKH AHLUS SUNNAH

PERTANYAAN :

“Syaikhanâ, telah di menyebar di internet dan di grup-grup whatsap dan di dalamnya terdapat saudara-saudara kita salafîyûn dari Suriah, yang berisi tahdzîr dan tabdî’ (vonis bid’ah) kepada sejumlah masyaikh dan ulama seperti :

‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis
‘Abdullâh al-‘Ubailân
Masyhûr bin Hasân Âlu Salmân
‘Alî al-Halabî
Ibrâhîm ar-Ruhaylî
‘Abdul ‘Azhîm Badawî
Sâlim ath-Thawîl
‘Abdul Mâlik Ramadhâni, dll
Dan dampak dari hal ini adalah tashnîf (pengkotak-kotakan) diantara para pemuda satu dengan lainnya, dan saling mengisolir diantara mereka, padahal salafîyîn di Suriah sedikit dan musuh-musuh kita amatlah banyak baik dari kalangan shûfiyah, takfîriyah dan hizbîyah yang selalu berbuat makar kepada kami dan keadaan ini tentulah tidak tersamar atas Anda.

Apa nasehat Anda wahai syaikh kami?

JAWABAN :

“Kalian tidak perlu heran dengan menyebarnya hal ini di Suriah, karena hal ini pun juga turut menyebar di Eropa yang kaum muslimin di dalamnya sangat minoritas. Jadi, kalian jangan sedikitpun dipalingkan oleh hal ini dan disibukkan dengannya. Berhati-hatilah dan sibukan diri dengan menuntut ilmu dan mengajar manusia. Apabila kita mentadzîr para ulama tersebut di atas, siapa lagi yang akan tersisa?!?!”

[Tanya jawab antara Saudara ‘Umaid Zarzûr dengan al-‘Allâmah al-‘Abbâd pada hari Ahad, 17 Dzulhijjah 1435 H selepas Ashar.]
sumber : http://abusalma.net/2014/11/20/al-allamah-al-abbad-ditanya-tentang-tahdziran-yang-beredar-kepada-masyaikh-ahlus-sunnah/

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda