Jumat, 12 Desember 2014

SEGORES PENA TENTANG KRONOLOGIS SEPUTAR KEPUTUSAN PEMULANGAN PARA THULLAB ASING DI MARKIZ AL-FIYUSY (semoga Allah mengembalikan kejayaannya) DAN KLARIFIKASI ATAS TUDUHAN DUSTA SERTA KASUS PEMENJARAAN BEBERAPA THULLAB ASING

~~~~~~~~~~~~~~~
BAGIAN PERTAMA ©

~~~~~~~~~~~~~~~


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، و أشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله، أما بعد :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته،

Berikut ini adalah penjelasan tentang hakekat apa yang sebenarnya terjadi di markiz darul hadits Al-Fiyusy.
Apa yang saya tulis berikut ini merupakan hasil pengamatan langsung maupun tidak langsung yang dibangun dari beberapa saksi dari dhahir kronologis kejadian seputar keluarnya keputusan tarhil (pemulangan) thullab asing.
Adapun permasalahan tahdzir terhadap Syaikh Abdurrahman Al-Adeni, maka permasalahannya di sisi para ulama kibar, dan di atas bimbingan mereka pula lah saya berpijak.

-InsyaAllah akan saya paparkan sedikit penjelasan terkait mauqif dalam menyikapi bentuk tahdzir tersebut yang seharusnya ditempuh oleh seorang penuntut ilmu yang memahami nilai-nilai beretika, pada kesempatan yang berikutnya-


Nafas terhela panjang, sebelum saya memutuskan untuk menulis risalah penjelasan ini, muncul kekhawatiran kalau sampai tulisan ini disalah duga oleh orang-orang yang dangkal pemahamannya atau dimanfaatkan oleh para pemulung puntung fitnah untuk mencampur adukkan permasalahan tahdzir terhadap seorang da'i bernama ustadz Dzulqarnain dengan permasalahan yang terjadi di Yaman. Karena mau tidak mau pembahasan dalam risalah ini sedikit banyak akan melibatkan penyebutan sosok Syaikh Hani bin Buraik yang menjadi tokoh sentral dalam lembaran kasus yang terjadi terkait fitnah di Indonesia maupun di Yaman.
Sebagian kaum yang ingin mencampur adukkan permasalahan yang terjadi di Indonesia dengan yang terjadi di Yaman seolah mendapat angin segar dengan munculnya tahdzir atas Syaikh Hani oleh sebagian masyayikh ahlus sunnah di Yaman dengan menggalakkan berbagai upaya dalam rangka...
" إسقاط الناقل لرد المنقول "
"Menjatuhkan sosok pembawa berita dalam rangka untuk menolak kabar yang dibawa"

Dan telah diketahui bersama bahwa secara kebetulan sampainya vonis tahdzir terhadap ustadz Dzulqarnain tersebut ke indonesia melalui perantara Syaikh Hani.
Dan saya tekankan bahwa permasalahan yang terjadi terkait tahdzir atas ustadz Dzulqarnain, maka permasalahannya telah ditangani oleh syaikh Rabi' hafidzahullah dan di atas itu pula saya berpijak.
Pun begitu, saya pribadi berlepas diri dari beberapa tindakan serampangan, ngawur dan gegabah yang dilakukan oleh beberapa oknum thullab Indonesia yang menisbahkan diri mereka kepada ustadz Luqman Ba'abduh, sehingga menyebabkan keluarnya keputusan tarhil (pemulangan) thulab asing dan dari situlah meletus fitnah.
💥 Sehingga kemudian muncul lah sebuah kaidah salah kaprah yaitu :
"Timbangan atau tolak ukur bahwa yang berpihak kepada ustadz Luqman dalam permasalah tahdzir Syaikh Rabi', maka dia ada di pihak Syaikh Hani dalam fitnah Yaman.
Begitu pula sebaliknya; yang berpihak kepada ustadz Dzulqarnain, maka dia adalah orang-orang yang berpihak kepada masyayikh Yaman dalam tahdzir terhadap syaikh Hani."
Kaidah di atas seketika menjadi tolak ukur utama pada sebagian besar ikhwah salafiyyin di markiz dalam menyikapi thullab Indonesia.
Pertanyaan semodel: "Kamu bersama Luqman atau Dzulqarnain?" kerap menjadi bumbu di sela perbincangan dengan para ikhwah ahlu yaman baik itu para mustafid pengajar maupun ikhwah secara umum.
Pun sebelumnya tak lupa saya mengingatkan diri saya pribadi dengan firman Allah ta'ala:

(( ياأيها الذين ءامنوا كونوا قو'مين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم))

إلى قوله:
((فلا تتبعوا الهوى أن تعدلوا، وإن تلوا أو تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا))

 
((ياأيها الذين ءامنوا كونوا قو'مين لله شهداء بالقسط، ولا يجرمنكم شنئان قوم على ألا تعدلوا، اعدلوا هو أقرب للتقوى واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون ((

((وما شهدنا إلا بما علمنا وما كنا للغيب حافظين ((

 Al-Imam Waki' ibnul Jarroh rahimahullah berkata:
" أهل السنة يكتبون ما لهم وما عليهم و أهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم "
"Ahlus Sunnah menulis apa yang menjadi hujjah bagi mereka dan apa yang menjadi hujjah atas mereka adapun ahlul ahwa tidaklah menulis melainkan apa yang menjadi hujjah bagi mereka."
----------------

📚 Semuanya berawal dari muhadharah yang diadakan di kota Aden oleh Syaikh Hani bin Buraik yang dilaksanakan pada tanggal 4 Muharram 1436 H.
Sebelumnya di markiz Al-Fiyusy semuanya tampak berjalan normal walaupun terdapat beberapa gesekan kecil di tingkat atas terkait perbedaan pandang dalam beberapa permasalahan ijtihadiyah maupun muamalah namun hal tersebut dapat terkondisikan dengan baik, sampai kedatangan Syaikh Hani bin Buraik di Aden dan kemudian diselenggarakan sebuah daurah selama 4 hari berturut-turut terhitung sejak tanggal 4 s/d 7 Muharram 1436 H kemudian dilanjutkan dengan muhadharah mingguan yang diadakan setiap hari Jum'at, 14 dan 21 Muharram 1436 H.
Telah diketahui bersama bahwa Syaikh Hani bin Buraik sebelumnya telah memberikan kritikan secara umum kepada masyayikh Yaman pada daurah di Indonesia. Hasil rekaman kritikan tersebut kemudian sampai kepada para salafiyyin di Yaman dan itu menimbulkan efek pro dan kontra pada barisan salafiyyin terkhusus ahlu Yaman, di tingkat bawah hingga tingkat atas. Kemudian sampailah rekaman tersebut kepada masyayikh Yaman di ataranya: Syaikh Al-Bura'i dan Syaikh Al-Wushabi. Dan dari situlah kemudian muncul tahdzir dari Syaikh Al-Bura'i kepada salafiyyin di yaman untuk tidak menghadiri daurah yang akan diisi oleh Syaikh Hani bin Buraik.
Kemudian terjadilah penelfonan oleh Abdul Hakam kepada Syaikh Arafat, mempertanyakan tentang tahdzir Syaikh Al-Bura'i, yang kesimpulannya adalah boleh menghadiri daurah Syaikh Hani. Hasil rekaman tersebut kemudian disebar oleh Abdul Hakam dan tersebar begitu cepat ke sebagian besar ikhwah baik ghuraba maupun ahlu Yaman di markiz Al-Fiyusy. Dan terjadilah kegaduhan (walaupun tidak begitu tampak, namun beberapa thullab di markiz mulai membahas dan memperbincangkan tentang permasalahan yang sedang terjadi).
Sebagian ada yang pro terhadap Syaikh Hani dan sebagian kontra dengan Syaikh Hani (efek dari daurah di Indonesia, dan tahdzir dari syaikh Al-Bura'i).
Pada hari Selasa tanggal 4 Muharram 1436 H, berangkatlah rombongan thullab ghuraba dalam jumlah besar menuju muhadharah di Aden, khusus untuk thullab dari Indonesia mereka mengadakan pengkoordiniran yang begitu rapi dengan menyewa tiga bis yang fasilitas transportasi tersebut seluruhnya gratis dan juga mendapat snack.
Thullab Indonesia keluar dalam jumlah lebih dari 100 orang sebagaimana hal tersebut terlaporkan dengan rapi di blog tukpencarialhaq.com yang kemudian beritanya terhapus raib entah kemana. Saya kemudian mengirim pesan pribadi kepada admin tukpencarialhaq.com Abdul Ghofur Al-Malanji menanyakan penghapusan laporan tersebut; namun, sampai ditulisnya risalah ini sang admin belum memberikan balasan.
Keberadaan laporan tersebut sebenarnya cukup begitu berarti karena terdapat dugaan keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam penyediaan dana terkait upaya penggalangan massa secara terselubung…
-----------
Di awal-awal daurah Syaikh Abdurrahman tidak melarang untuk berangkat menghadiri daurah Syaikh Hani. Namun kemudian Syaikh mendapat masukan dari beberapa ikhwah terkait bentuk penggalangan massa dan fasilitas transportasi gratis yang memang terkesan sengaja ditampak-tampakkan juga kebanyakan yang berangkat menghadiri daurah adalah ghuraba (warga asing) dan itu berpotensi timbulnya peringatan atau sorotan dari pemerintah (dikarenakan kondisi politik Yaman yang tidak kondusif).
Kemudian yang dikhawatirkan pun akhirnya terjadi, pihak markiz mendapat teguran melalui telefon dari pemerintah atas keluarnya yang besar.
Maka di hari berikutnya syaikh Abdurrahman memanggil Abdul Hakam yang teranggap sebagai penanggung jawab penggalangan massa dengan pengadaan bis bagi thulab indonesia, kemudian Syaikh memberikan nasehat dan teguran untuk menghindari bentuk-bentuk yang dapat menimbulkan madharat bagi markiz.
Oleh karena itu di hari kedua beberapa penanggung jawab thullab Indonesia memutuskan untuk tidak menyewa bis, namun penghasungan untuk berangkat tetap dilakukan dengan memberi uang sebesar 400 real Yaman bagi siapa saja yang ingin berangkat daurah.
« bersambung InsyaAllah »
Penulis:

Abu Usamah Adam bin Sholih bin Ubaid Al-Bajani
Darul Hadits Al-Fiyusy -semoga Allah mengembalikan kejayaannya-
16 Shafar 1436


Catatan Pelita Sunnah
1.    Kami ucapkn: jazakumulloh khoiron bagi penulis risalah di atas, yakni Al Akh fillah Abu Usamah Adam bin Sholih Al Bajani, seorang tholib (santri) di  Fuyusy.
2.    Namun ada satu hal yg perlu kita luruskn pd beliau dlm hal ini, yaitu ucapannya yg brbunyi: "Dan saya tekankan bahwa permasalahan yang terjadi terkait tahdzir atas ustadz Dzulqarnain, maka permasalahannya telah ditangani oleh syaikh Rabi' hafidzahullah dan di atas itu pula saya berpijak."
3.    Sikap penulis dlm hal ini –menurut pengakuannya- adalah mengikuti Syekh Robi'. Tapi tahukah dia bahwa para naqil (penukil) adalah Syekh Hani dan lainnya dr seorg yg fattan (tukang fitnah) yg bernama Luqman ba'Abduh dg menyodorkn laporan2 dusta kpd Syekh Robi', shingga keluarlah fatwa ttg diri akhuna Dzulqornain al Makasary -hafizohulloh min makri aduwwih-.
Istilah org: "Out put tergantung input."
4.    Syekh Robi' dlm fatwa itu beliau tdk menanggung dosa dan tdk bersalah, sebab beliau telah berfatwa sesuai dg ilmu dan kadar beliau. Namun yg keliru adalah Luqman ba'Abduh yg memberikn info dusta dan salah dlm prkara tsb!
5.    Jadi, kalau dikatakan oleh Penulis bhw ia mengikuti Syekh Robi, maka kami katakan bhw hakekatnya anda tdk mengikuti beliau, sebab Syekh Robi' tdk pernah mengajarkan kpd kita untuk mengikuti zallah (kesalahan yg muncul secara tdk sengaja) dr beliau.

6.    Alaa kulli haal, kami ucapkn terima kasih kpd Penulis. Namun kami ingatkn kpd beliau bhw anda jgn termakan dg fitnah Luqman ba'Abduh kaitannya dg akhuna Ust Dzulqornain. Lihatlah hasil dr perbuatan Luqman skrg ini yg mempraktikkan tahdzir serampangan di Indonesia, tanpa ada nasehat kpd yg mardud (yg dibantah), padahal si mardud adalah ahlussunnah! Langsung aja main tahdzir!! Tanpa memperhatikan syuruth, mawani' dan awdho' bagi penegakan hukum atas seseorg.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda