Sabtu, 14 Februari 2015

Benarkah hanya Asy-Syaikh Al-Imam yang Mencela Keras Ketersibukan dalam Bantah-Membantah?

[Silsilah Pembelaan Kehormatan Ulama’ Salafi Yaman Terhadap Kedustaan Para Pemitnah-Episode III-]

Oleh: Nuruddin bin Ali bin Abdillah As-Suda’ie Al-Wushoby,
Penulis kitab-kitab Mushthalah dan Rijalu Al-Hadits, sekaligus Pengajar bidang tersebut di Darul Hadits Ma’bar, Yaman

Waqfah (Renungan) Kedua:
Al-Akh Ali Al-Hudzaifi dalam “Malzamah”-nya berkata:
محمدالإمام يزورعدن وغيرها ويحاضر في المساجد، وربما سُئِلَ عن بعض الأشخاص فيقول: (أقبل على نفسك وانظرفي عيوبك و دعك من الآخرين) ويكررهذافي محاضراته،ويعنف الإخوة الذين ينشغلون بهذا
“Muhammad Al-Imam mengunjungi Aden dan (daerah) lainnya serta berceramah di Masjid-masjid, dan barangkali beliau ditanya mengenai sebagian orang[1], maka beliau menjawab:
‘Hadapilah dirimu (dahulu), lihatlah aib-aibmu, serta tinggalkanlah (campur tangan) dirimu terhadap orang lain’.
Dan beliau mengulang-ulangi perkataan ini dalam ceramah-ceramah beliau. Beliau juga mencela keras para saudara (Salafiyin) yang tersibukkan dengan perkara ini[2].”

Aku katakan:
Sungguh Al-Akh ‘Ali Al-Hudzaifi ini telah mengurangi -bagi kami- kesulitan dalam menuliskan bantahan terhadapnya[3]; sungguh dia telah terang menyatakan di akhir perkataannya bahwasanya Asy-Syaikh Al-Imam mencela keras para saudara (salafiyin) yang tersibukkan dengan perkara ini.

Padahal (sesungguhnya) Asy-Syaikh Al-Imam tidak mencela keras terhadap siapa saja yang melakukan bantahan terhadap para ahli bid’ah. Beliau juga tidak bersikap zuhud[4] dari bantahan-bantahan ilmiah.
Adapun sebenarnya beliau mencela keras siapa saja yang tersibukkan dengan perkara ini dari mencari ilmu, terutama secara khusus, siapa saja yang dia tidak memiliki keahlian dalam hal tersebut (-yakni hal bantah-membantah).
Karena sesungguhnya jenis manusia yang seperti ini lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Di dalam fitnah Al-Hajuri[5], terdapat pelajaran bagi kita semua.
Bagaimana bisa beliau (Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam) bersikap zuhud dari bantahan-bantahan ilmiah, sementara itu buku-buku (karya) beliau penuh dengan bantahan-bantahan terhadap ahli bid’ah dan hawa nafsu, bahkan terhadap kaum sekularis, misionaris[6], penyeru kesetaraan gender[7], dan feminis[8].

Adapun suara-suara rekaman beliau pada bab (pembahasan semisal) ini terdapat puluhan jumlahnya, menghiasi dapur-dapur rekaman (dakwah) salafiyah.
Adapun karya-karya beliau pada bab-bab (pembahasan semacam) ini lebih tersohor daripada api yang berada di puncak menara[9]. Di antara kitab-kitab karya beliau dan bantahan-bantahan ilmiah yang terhitung sebagai suatu kebanggaan bagi dakwah salafiyah di Yaman pada masa ini:
·   السم الزعاف في عقيدة السقاف“.
As-Summ Az-Zi’aaf fii ‘Aqiidati As-Saqqaaf”
(Racun Mematikan dalam Aqidah yang Diyakini As-Saqaf)[10]
·   تبصير الحيارى بمواقف القرضاوي من اليهود والنصارى“.
“Tabshiir Al-Hiyaaraa bi Mawaaqifi Al-Qaradhawi mina Al-Yahud wa An-Nashaara”
(Membuka Mata Orang-orang yang Bingung dari Posisi Diri Al-Qaradhawi terhadap kaum Yahudi dan Nasrani)[11]
·   إعانة الأماجد ببيان حال عمرو خالد“.
“I’aanatu Al-Amaajid bi Bayaani Haali ‘Amr Khaalid”
(Bantuan bagi Orang-orang yang Mulia melalui Penjelasan Kondisi ‘Amru Khalid)[12]

Ini (semua) mengenai bantahan-bantahan beliau terhadap sosok-sosok dengan penyebutan (nama) individu-individu mereka. Adapun buku-buku karya beliau dalam membantah sekte-sekte dan partai-partai secara umum, cukup banyak, di antaranya:
·   تنوير الظلمات بكشف مفاسد وشبهات الانتخابات
“Tanwir Azh-Zhulumaat bi Kasyfi Mafaasid wa Syubuhaat Al-Intikhaabaat”
(Menerangi Kegelapan yang Menggulita dengan Mengupas Kebobrokan dan Syubhat-syubhat Pemilihan Umum)

·   البيان لإيضاح ما عليه جامعة الإيمان“.
“Al-Bayaan li Iidhaah Maa ‘Alaihi Jaami’atu Al-Iimaan”
(Sebuah Penjelasan untuk Menerangkan apa saja yang Universitas Al-Iman Berada di Atasnya)[13]

·   بداية الانحراف ونهايته“.
“Bidayatu Al-Inhiraaf wa Nihaayatuh”
(Awal Penyimpangan dan Akhirnya)

·   المؤامرة الكبرى على المرأة المسلمة“.
“Al-Mu’aamarah Al-Kubra ‘alaa Al-Mar’ah Al-Muslimah”
(Konspirasi Besar terhadap Wanita Muslimah)

·   الإيضاحات الموثقة في بيان غوائل دعوة المساواة المطلقة“.
“Al-Iidhaahaat Al-Mawtsiqah fii Bayaani Ghawaa’ili Da’wah Al-Musaawah Al-Muthlaqah”
(Penjabaran-penjabaran yang Terpercaya dalam Mengungkap Malapetaka pada Seruan Menuju Kesetaraan Gender secara Mutlak)

·   الوثائق التآمرية على الدول العربية والإسلامية“.
“Al-Watsaa’iq At-Ta’aamuriyah ‘alaa Ad-Duwal Al-‘Arabiyah wa Al-Islamiyah”
Data-data Konspiratif terhadap Negara-negara Arab dan Islam)

·   تمام المنة في فقه قتال الفتنة“.
“Tamamu Al-Minnah fii Fiqhi Qitaali Al-Fitnah”
(Anugerah yang Sempurna dalam Fiqih Pemberantas Fitnah)

نقض النظريات الكونية“.
“Naqdhu An-Nazhariyaat Al-Kauniyah”
(Merobohkan Teori-teori Sains)[14]

Selain dari ini semua (yang telah disebutkan), masih ada lagi berpuluh-puluh khutbah, ceramah, dan pelajaran yang (berisikan) tentang bantahan terhadap sekte-sekte dan partai-partai yang menyimpang, baik secara umum (penjabarannya), maupun secara khusus.
Sebagai contoh, di saat Al-Qaradhawi datang ke Yaman, Asy-Syaikh Al-Imam mengkhususkan (bantahan) atasnya melalui khutbah Jum’ah untuk men-tahdzir-nya.
Juga di saat ‘Amru Khalid datang ke Yaman, beliau membantahnya dalam rekaman khusus, dan begitulahseterusnya.
Selain dari ini semua, masih ada pula bantahan-bantahan terhadap sebagian ahli hawa nafsu yang telah Asy-Syaikh Al-Imam berikan pengantar dan mengoreksinya, seperti kitab “Al-Khuthuuth Al-‘Ariidhah li Jamaa’ah Al-Ikhwaan Al-Muslimiin wa Khilaafatihim Al-Murtaqibah” (Garis-garis Petisi Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin dan Kepemimpinan mereka yang Dinanti)[15] karya Asy-Syaikh yang mulia Nu’man Al-Watr –Semoga Allah memberi Taufiq baginya-.

Kemudian risalah “Al-Inkisyaf Al-Akhir li Al-Hizbiyah Al-Mughallafah” (Tersingkapnya Belakangan Fanatisme Partai yang Terselubung) karya Asy-Syaikh ‘Ali Ar-Razihi –Semoga Allah memberi Taufiq baginya-.

Kemudian risalah “Al-Qaul Al-Amiin fii Bayaani ‘Aqidati Al-Walaa’ wa Al-Baraa’ ‘inda Al-Ikhwan Al-Muslimin” (Ucapan yang Terpercaya dalam Menjelaskan Aqidah Loyalitas dan Antipati menurut Al-Ikhwan Al-Muslimin), karya saudara kami yang mulia Manshur Al-Majidiy –Semoga Allah memberi Taufiq baginya-.

Kemudian risalah “An-Nahr Al-‘Aridh fii Adz-Dzabb ‘an Ahli As-Sunnah bi Al-Qariidh” (Sungai yang Lebar dalam Pembelaan terhadap Ahli Sunnah Melalui Sya’ir) karya Penyair Dakwah Asy-Syaikh Abu Rawaahah Al-Mawriy –Semoga Allah memberi Taufiq baginya-.

Kemudian risalah “Al-Bayaan ‘an Haali Kibaari ‘Ulamaa’ wa Zu’amaa’ Al-Ikhwan” (Penjelasan Mengenai Kondisi Ulama’ dan Petinggi Besar Al-Ikhwan Al-Muslimin) karya saudara kami yang mulia Nabil bin Shalih.
Seiring dengan ha itu, bagaimana bisa dikatakan bahwasanya Asy-Syaikh bersikap zuhud dari bantahan-bantahan terhadap para ahli bid’ah. (Padahal) sungguh beliau telah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya pelaksanaan baik dalam bentuk karya tulis, orasi, motivasi, dan penulisan pengantar bagi (karya) siapa saja yang pantas untuk melakukan (bantahan).

Adapun (sangkaan) bahwasanya Asy-Syaikh mencela keras orang-orang yang tersibukkan dengan perkara (membantah Ahli Bid’ah), ini –sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hudzaifi-, maka tidaklah pada hal ini terdapat kehinaan bagi Asy-Syaikh, justru hal ini termasuk sebagai perangai terpuji dari beliau.
إذا مَحاسِنيَ اللائي أُدِلُّ بها
كُنَّ ذنوبا قل لي كيف أعتذر
"Jika kebaikan-kebaikanku yang aku percayai ini
adalah dosa-dosa, maka katakanlah padaku bagaimana (caranya) aku mengemukakan alasan (atasnya)
."[16]
Di atas inilah para Ulama’ besar Sunnah di masa ini (berpijak), seperti Al-Albani, Ibn Baz, Al-‘Utsaimin, dan Al-Wadi’ie –Semoga Allah merahmati mereka-, serta selain mereka dari kalangan Ulama’ besar seperti Al-Fauzan, Al-‘Abbad, dan Al-Madkhali, serta selain mereka dari kalangan Ulama’ besar. Adapun perkataan mereka dalam perkara tersebut cukup banyak, dan penukilan (seluruhnya) dapat memperpanjang tulisan.

Cukup bagiku di sini, dengan menukil sesuatu dari perkataan Imam Dakwah Salafiyah di Yaman, Syaikhuna Al-Imam Al-Wadi’ie dalam teguran keras dan celaan pedas beliau terhadap sifat yang mana ia menjadikan kesibukan seseorang dan kebiasaannya berada di dalam perkara bantah-membantah, sementara itu dia (yg suka membantah) tidak memiliki kepantasan untuk hal itu, atau dia memiliki kepantasan namun ia tersibukkan dengannya daripada sesuatu yang lebih dibutuhkan daripada itu.
Al-Imam Al-Wadi’ie –Semoga Allah merahmati beliau- berkata:
الذي أنصح به إخواننا بالجد والاجتهاد في تحصيل العلم النافع وأن لا يشغلوا أنفسهم بما لا يعنيهم، فهذا الاختلاف وهذه الفُرْقَة ناشئة عن فراغ، والشيخ فلاني المصيب والشيخ الفلاني المخطئ! والشيخ فلان لا يؤخذ عنه العلم، والشيخ فلان كذا وكذا! فأنا أقول: يجب أن تحدثك نفسك أن تكون مثل الشيخ الفلاني أو أحسن
“Yang aku nasehatkan dengannya kepada saudara-saudara kami adalah agar bersungguh-sungguh dan berupaya dalam memperoleh ilmu yang bermanfa’at, serta agar tidak menyibukkan diri-diri mereka dengan sesuatu yang tidak membebani mereka. Perselisihan dan perpecahan yang ada ini (sebenarnya) muncul dari waktu senggang.
‘Asy-Syaikh Al-Fulani benar, dan Asy-Syaikh Al-Fulani salah!’’dan Asy-Syaikh Fulan tidak boleh diambil darinya ilmu, dan Asy-Syaikh Fulan begini dan begitu!’ Maka aku katakan: wajib bagimu untuk mengucapkan pada dirimu sendiri agar kamu menjadi seperti Syaikh Al-Fulani atau lebih baik darinya.”
[Simak kaset Ghaaratu Al-Asyrithah: 2/103]
Beliau –Semoga Allah merahmati beliau- juga berkata:
ثم إنني أنصح طلبة العلم بالإقبال الكلي على طلب العلم وعدم الالتفات إلى هذه الأمور التي ليست بضائرة، فلا تشغل نفسك بالتعصب لفلان ولا التعصب لفلان، بل أقبل على طلب العلم، ففي ذات مرة كتب إلي أخ من (مكة) وقال لي: إن الحزبية استفحلت عندنا فماذا أعمل؟ فنصحته وقلت له: أقبل إقبالا كليا على طلب العلم ولا تلتفت إلى هذه الأمور، وكان متألما من وضعهم ويريد أن يرد عليهم، فقلت له: لا تشغل نفسك بالردود عليهم فأنت طالب علم تحتاج إلى التزود من العلم، وإذا شغلت نفسك في هذا تُشغَلُ عن حفظ القرآن وعن تحصيل العلم النافع، فلا تشغل نفسك بهذا وأقبل إقبالا كليا على تحصيل العلم النافع
“Kemudian aku menasehatkan kepada para pencari ilmu untuk menerjunkan diri sepenuhnya dalam mencari ilmu, dan (supaya) tidak menoleh kepada perkara-perkara ini, -yang sebenarnya bukanlah perkara-perkara yang penting. Maka hendaklah jangan kamu sibukkan dirimu dengan fanatisme terhadap si Fulan, dan tidak pula fanatisme terhadap si Fulan. Namun terjunlah kepada pencarian ilmu.
Suatu kali pernah seorang Saudara dari Makkah mengirim surat kepadaku dan (di dalamnya) berkata: ‘Sesungguhnya Hizbiyah telah menjadi permasalahan gawat di sekitar kami, lantas apa yang mesti kami lakukan?’
Maka aku menasehatinya dan aku katakan padanya: ‘Terjunlah kamu sepenuhnya kepada pencarian ilmu, dan janganlah kamu menoleh kepada perkara-perkara ini’. Dan (saat itu) dia (memang) merasa tersakiti atas posisi yang mereka (para Hizbiyyin) miliki hingga dia berkeinginan untuk membantah mereka.
Kemudian aku katakan kepadanya: ‘Janganlah kamu sibukkan dirimu dengan bantahan-bantahan terhadap mereka, karena kamu adalah pencari ilmu yang masih membutuhkan pembekalan ilmu. Dan apabila kamu menyibukkan dirimu dengannya, maka kamu akan tersibukkan diri dari menghafal Al-Qur’an dan perolehan ilmu yang bermanfa’at. Jadi, janganlah kamu sibukkan dirimu dengan ini, (tapi) terjunkanlah dirimu sepenuhnya kepada perolehan ilmu yang bermanfa’at.’”
[Simak kaset Ghaaratu Al-Asyrithah : 1/74]

Beliau –Semoga Allah merahmati beliau- juga berkata:
المبتدعة لا تهتموا بهم ويشغلوكم عن طلب العلم، تكفيهم لطمة على الطريق، إذا سجلت شريطًا أو في درس أو في غيرها وإلا ركضة أو نطحة أو غير ذلك. ولا تشغل نفسك بهم جزاك الله خيرًا، نحن نُعِدُّك إلى أن تكون مرجعًا للمسلمين، إلى أن تكون مؤلفًا، إلى أن تكون داعيًا إلى الله، فهذه هي وظيفة الأنبياء، ما نُعِدُّك فقط للرد على الإخوان المسلمين وأصحاب جمعية الحكمة، ومَنْ أصحاب جمعية الحكمة؟! حتى أننا نتشاغل بهم!
“Para Ahli Bid’ah, janganlah kalian terlalu memperhatikan mereka, sehingga mereka (dapat) menyibukkan diri kalian dari mencari ilmu. Cukuplah bagi mereka itu satu tamparan di tengah perjalanan, -yakni saat kamu sedang merekam suara atau pelajaran atau selainnya, adapun jika tidak cukup (satu tamparan itu) maka dengan sebuah dorongan atau sekali tandukan atau selainnya. Dan janganlah kamu sibukkan dirimu dengan mereka –Semoga Allah membalaskan kebaikan bagimu-.
Kami ini sedang mempersiapkan dirimu untuk menjadi sebuah rujukan bagi kaum Muslimien, atau penulis, atau Da’i kepada Allah, karena ini semua adalah tugasnya para Nabi. Kami ini tidak sedang mempersiapkan dirimu hanya untuk membantah Al-Ikhwan Al-Muslimin dan para anggota Yayasan Al-Hikmah[17], dan memangnya siapa sih anggota Yayasan Al-Hikmah itu?! Sampai-sampai kita ini tersibukkan dengan mereka!”
[Tuhfatu Al-Mujib: 332]

Lantas apa yang dapat kamu ucapkan wahai Hudzaifi –Semoga Allah memberimu hidayah- dan Hani bin Buraik tentang Al-Imam Al-Wadi’ie, apakah kalian berdua akan menjadikan perkataan beliau ini sebagai kehinaan bagi beliau, dan bukti atas kelembekan beliau (terhadap ahli bid’ah), serta penolakan beliau dari perkara bantah-membantah, sebagaimana yang telah kalian berdua lakukan kepada Asy-Syaikh Al-Imam? Atau ternyata perkataan semacam ini menurut kalian berdua akan disebut sebagai sikap lembek dan zuhud dari perkara bantah-membantah jika muncul dari Al-Imam?!!!

Adapun klaim Al-Hudzaifi bahwasanya Al-Imam mengulang-ulangi perkataan (yang dinukil) tersebut di dalam ceramah-ceramah beliau, maka ini adalah tuduhan yang membutuhkan dalil dan bukti.
Karena (sebenarnya) yang banyak (adanya) dalam ceramah-ceramah Asy-Syaikh Al-Imam adalah mengenai pengobatan masalah-masalah yang ada pada masyarakat serta tahdzir kepada manusia dari kejahatan-kejahatan dan fitnah-fitnah, seperti (ideologi) demokrasi, fanatisme partai, organisasi-organisasi missionarisme yang tengah merusak negeri-negeri, sekularisme, genderisme (penyeru kesetaraan gender), da’i-da’i penyembahan kubur, sihir, ilmu nujum, fitnah-fitnah pembunuhan, peperangan, dan seruan menuju kesetaraan gender dan emansipasi wanita, serta yang semisal dengan itu.
Dengan teriakan-teriakan tersebut –yang telah memenuhi cakrawala Negeri Yaman dan jaringan-jaringan internet di sini dan di sana-, beliau menasehati negeri-negeri, bangsa-bangsa, pimpinan-pimpinan partai, petinggi-petinggi kabilah, dan seluruh personel masyarakat, serta bersumpah kepada mereka atas nama Allah, (mengajak mereka) untuk menegakkan hukum syari’at Islam dan mendeportasi fitnah-fitnah, kejahatan-kejahatan, kerusakan-kerusakan dari Negeri ini, serta hal-hal yang semisal itu, bersamaan dengan penjagaan beliau terhadap (situasi dan) kondisi yang ada.
Sebagaimana ini semua telah diketahui oleh setiap siapa saja yang telah duduk bersama Asy-Syaikh (MUqbil)atau mengikuti khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah beliau.
Dengan ini (semua), beliau telah menutup sisi besar (celah) pada medan gugat-menggugat, juga membuat bisu lidah-lidah hizbiyyin yang mencela Ahli Sunnah bahwasanya mereka tidak memahami Fiqih Waqi’[18].
Maka keluarkanlah bukti atas apa yang telah kamu tuduhkan pada beliau, wahai Abu ‘Ammar?! Atau ternyata kamu ini sedang hidup bersama akal dan pikiranmu di luar Yaman sana?!
-----------------------------------------
Terjemah bebas dan Footnote oleh:
Admin
(Cat.: Kritik dan koreksian terhadap penerjemahan selalu terbuka)
Artikel asli berjudul: [
وقفات مع الحذيفي وهاني بن بريك في قدحهما في علماء أهل السنة في اليمن]
-----------------------------------------
[1] Yakni Da’i-da’i bermasalah, baik dari kalangan Ikhwani, Sururi, anggota Yayasan Hizbiyah, dsb.
[2] Yakni bertanya tentang Da’i-da’i bermasalah tersebut
[3] Yakni Ali Al-Hudzaifi sendiri yang mempermudah orang lain untuk membantah tuduhannya tersebut
[4] Yakni menolak dan meninggalkan
[5] Sebagaimana yang sudah diketahui oleh sebagian besar pihak, berdasarkan kabar yang pernah tersiar bahwa Yahya Al-Hajuri menerjunkan murid-muridnya untuk membantah orang-orang yang berbicara mengenai dirinya. Program ‘Maktabah Dammaj Al-Ilmiyyah’ pada sistem Android adalah bukti nyata mengenai hal ini. Hasil yang terjadi dari fitnah Al-Hajuri ini antara lain; fanatisme terhadap individu tertentu, penghinaan dan pelecehan kehormatan sebagian Ulama’ Salafi, munculnya vonis ‘Mubtadi’’ dan ‘Hizbi’ secara serampangan.
[6] Pendakwah dari Kaum Kristen untuk melakukan gerakan Kristenisasi
[7] Kesetaraan antara Pria dan Wanita dalam hak-hak dan kewajiban
[8] Kaum yang menyuarakan pembebasan kaum Wanita, dsb. yang seluruhnya berkenaan dengan seruan kepada kesetaraan gender antara Pria dan Wanita
[9]“Lebih tersohor dari api yang berada di puncak menara” adalah kiasan orang-orang Arab dalam mempermisalkan sesuatu yang begitu masyhurnya di tengah-tengah manusia. Dahulu masing-masing kaum dari orang-orang Arab meletakkan api di atas puncak menara khusus, atau di puncak gunung, yang dengannya memberi tanda kepada orang-orang di sana bahwa api tersebut adalah ‘milik Bani Fulan’.
[10]Dia adalah Hasan bin Ali bin Hasyim As-Saqaaf, seorang da’i sesat yang menyeru kepada pemikiran Jahmiyah-Asy’ariyah-Mu’tazilah-Shufiyah, dia sangat memusuhi Al-‘Allamah Al-Albani, dan berusaha menjatuhkan beliau dengan berbagai macam dusta dengan karya-karyanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya, dsb. Kaum Shufi di Indonesia sangat banyak menjadikan karya-karyanya mengenai Al-Albani sebagai rujukan.
[11] Ini adalah versi penerjemahan kami, hingga saat ini kami mengharap bantuan untuk menerjemahkan kata ‘Al-Hiyaraa’
[12] ‘Amru Khalid adalah salah seorang da’i sesat yang cukup terkenal di Jazirah Arab.
[13] Universitas Al-Iman adalah salah satu Universitas milik Al-Ikhwan Al-Muslimin, rektornya adalah Abdul Majid Az-Zindaniy, dan Asy-Syaikh Muqbil telah men-tahdzir dari Universitas ini dan membabatnya habis dalam karya beliau "Al-Burkan" dan "Ta'ziz Al-Burkan". Penjelasan lebih lanjut akan ada dalam seri tulisan berikutnya.
[14] Dalam kitab ini beliau menjabarkan teori-teori Sains Barat yang bertentangan dengan keterangan-keterangan yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, juga sekaligus membantah para pembela teori-teori tersebut yang mencoba membelanya dengan berdalilkan dengan wahyu Syari’at.
[15] Dalam kitab ini, Asy-Syaikh Nu’man Al-Watr -Hafizhahullah- selain membongkar kesesatan Al-Ikhwan Al-Muslimin, beliau juga membongkar kesesatan kaum Sururi, anggota-anggota Yayasan Hizbiyah, serta Abu Al-Hasan Al-Mishriy dan kawan-kawannya, dikarenakan beliau dahulunya adalah tangan kanan dari Abu Al-Hasan Al-Mishriy itu sendiri. Maka penuliskan karya ini sekaligus sebagai bentuk taubat dan rujuk beliau dari kesalahan yang lampau.
[16] Ini adalah bait sya’ir karya Al-Bahtariy, lihat Jumhuratu Al-Amtsal karya Al-‘Askary (1/475) dan Al-Muntaqa min Minhaj Al-I’tidal (hlm. 140)
[17] Yayasan Al-Hikmah adalah sebuah Yayasan Hizbiyah yang dikelola oleh Muhammad Al-Mahdi, mantan murid Asy-Syaikh Muqbil, yang mana Asy-Syaikh Muqbil sendiri telah men-tahdzir darinya dan dari Yayasannya ini. Begitu bahayanya Yayasan ini, sampai-sampai muncul dari orang-orang pengelolanya, Majalah-majalah yang semacam Majalah “Al-Bayan” (Majalah kaum Sururi) yang berisikan bantahan dan celaan serta kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muqbil dan murid-murid beliau.
[18] Pengetahuan terhadap kondisi lapangan dan fakta yang ada. Kaum Hizbiyyin dan Ikhwaniyyin menjadikannya sebagai prioritas utama di atas Fiqih Tekstual (Nash Syar’ie) dalam lisan mereka dan perbuatan mereka.




Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda