Jumat, 06 Februari 2015

Penjelasan dan Keterangan ttg Pengelabuan Luqman Ba'abduh

Oleh:Syaikh Abdul Hadi Al ‘Umairi -hafizhahullah-

Segala puji bagi Allah, kita memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari berbagai kejelekan diri-diri kita dan berbagai keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah semata yang tak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai muslimin.” (Ali Imran: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai segenap manusia, bertakwalah kalian kepada Rab kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, lalu darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An Nisa’: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang menta’ati Allah dan rasul-Nya, sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.”(Al Ahzab: 70-71)


Kemudian sesudah itu:
Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama), dan setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, setiap yang sesat berada di neraka.”
Wahai saudara-saudara sekalian, tidak diragukan lagi bahwa agama merupakan nasehat. Nasehat itu sebagaimana yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan keumuman mereka. Maka saling menasehati dan berwasiat untuk kebaikan haruslah senantiasa ada.
Tidak diragukan lagi, kita berada pada zaman ini yang merupakan zaman berbagai fitnah. Sedangkan fitnah-fitnah yang terjadi banyak sekali. Aku wasiatkan bagi diriku sendiri dan saudara-saudaraku di tengah gejolak berbagai fitnah ini, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara shahih, bila fitnah itu menerpa maka selayaknya kita menahan diri serta berhati-hati ikut larut di dalamnya dan menampilkan diri. Kita menyaksikan beberapa penjelasan dan seolah-olah seseorang menantikan kondisi-kondisi seperti ini untuk dapat menampilkan diri. Namun selayaknya kita tunduk kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau bersabda:
“Di masa fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.”
Demikian pula, hendaknya kita tidak menerjang fitnah, karena siapa yang menerjang fitnah niscaya fitnah itu akan menungganginya, kita berlindung kepada Allah. Selayaknya kita berhati-hati dan menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting daripada ikut larut dalam urusan-urusan seperti ini.
Kita butuh untuk selalu menuntut ilmu, supaya dalam fitnah ini bisa terbedakan antara penuntut ilmu secara jujur dan penuntut ilmu secara tidak jujur. Betapa banyak orang yang menisbatkan dirinya sebagai penuntut ilmu padahal mereka bukanlah dari kalangan para penuntut ilmu.
Saudara-saudaraku sekalian, fitnah-fitnah yang seperti ini selayaknya kita jauhi dan kita menyibukkan diri dengan menggali ilmu yang akan memberi kemanfaatan kepada kita. Kewajiban kita untuk bersatu, hendaknya kalimat kita satu dan pemikiran kita juga satu, karena kebaikan itu bersama jama’ah. Tidaklah suatu kelemahan terjadi melainkan karena perselisihan dan perpecahan. Ini merupakan perkara yang pertama.
Perkara yang kedua, aku tidak menginginkan dengan pembicaraan ini untuk membantah Luqman. Karena bagiku Luqman, kondisinya sudah jelas, gamblang, dan selesai, alhamdulillah.
Akan tetapi aku yakin bahwa di belakang Luqman ada orang-orang yang dikelabui. Karena orang ini punya sebuah keahlian yang sangat dikuasainya, yaitu keahlian mengubah-ubah dan berkelit.
Aku tidak mengatakan ini tanpa sandaran argumentasi dan bukti nyata. Bahkan aku mengatakan ini berdasarkan berbagai argumentasi yang jelas dan nyata, insyaallah nanti akan kita sebutkan. Aku hanya ingin mengajak bicara para pengikut orang ini, sehingga aku katakan: “Adakah di antara kalian seorang yang masih berpikiran jernih?”
Aku yakin bahwa di antara mereka masih ada orang yang berpikiran jernih tetapi dia dikelabui. Aku juga ingin mengingatkan mereka dengan firman Allah Ta’ala:
وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذاقربى
“Bila kalian berucap berlaku adillah meskipun kepada karib kerabat dekat.” (Al An’am: 152)

Maka aku mengajak bicara orang orang yang berakal itu. Dan aku yakin bahwa mereka mau berpikir dan mengenal kondisi orang ini (Luqman).
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala orang-orang khawarij memberontak kepada beliau, jumlah mereka sebanyak enam ribu orang. Di antara mereka terdapat orang-orang yang dikelabui. Maka Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu keluar untuk berdikusi dan berdialog dengan mereka.
Lalu apa yang terjadi? Kembali dari mereka sebanyak dua ribu orang. Karena mereka itu sudah dikelabui. Tatkala Ibnu ‘Abbas datang lalu menjelaskan dan menampakkan hakekat yang sebenarnya.
Sebagian mereka merasa puas dan cukup, karena tak ada yang sanggup menentang hakekat yang sebenarnya, melainkan hanya seorang pengikut hawa nafsu.
Namun bila hakekat itu telah tampak, maka engkau akan menyaksikan masalahnya dengan sangat jelas. Orang yang mencari hakekat yang sebenarnya, dia tak akan bisa menolaknya, bahkan dia akan menerimanya bagaimana pun kondisinya, karena kebenaran itu adalah barang hilangnya seorang mukmin, (di mana dia mendapatkannya, maka di sanalah dia akan memungutnya).
Aku yakin bahwa di antara mereka ada orang yang masih mencari hakekat yang sebenarnya. Oleh karena itu, kita akan menjelaskan kondisi Luqman ini dengan bukti-bukti nyata yang sudah kita janjikan:
Yang pertama, jalan pemikiran Al Hajuri tampak jelas sekali pada manhajnya. Di antara jalan pemikirannya terhadap ahli sunnah, bila mereka mengadakan sebuah acara ceramah, maka para pengikut Al Hajuri juga akan mengadakan hal yang sama di sekitar (tempat) acara ahli sunnah untuk memecah barisan ahli sunnah.
Jalan pemikiran ini tampak jelas sekali pada manhaj Luqman, yang mana dia menyengaja mengadakan acara ceramah pada waktu yang sama dan lingkup wilayah yang sama (yaitu, daerah Solo dan sekitarnya, Pent.).
Yang kedua, mengenai point-point yang dia jadikan sebagai letak bantahan kepada kami, dia gunakan untuk mengelabui orang-orang, dia pakai untuk membodohi akal mereka, dan dia menyebarkan di kalangan mereka hal-hal yang tak bisa diterima akal logika.
Orang ini mulai bersikukuh, berkelit, dan membawa hal-hal yang dia pakai untuk membangkitkan perasaan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Saudara-saudara sekalian, yang mesti diketahui bahwa (di sini) aku tidak menyinggung semua yang dikatakan Luqman, tetapi ada beberapa hal yang aku haruskan dia mengambilnya dan aku menanti jawabannya, lalu aku ingin para pengikut Luqman mau berpikir (secara jernih). Mereka harus menanyainya dan tidak diam.

Mereka harus mengetahui sikapnya jika memang dia jujur dalam dakwahnya. Maka hendaklah dia jangan bersikap basa-basi kepada siapa pun dan mau mengatakan kebenaran.
Luqman mengatakan tentang permasalahan Indonesia bahwa aku berbicara mengenai perkara yang aku tidak tahu, aku tidak mengerti kondisi-kondisi Indonesia, dan juga lembaran yang mengandung tulisan rujuk Al Akh Dzulqarnain.

Kami jawab: kami sudah anggap selesai masalah ini. Kami sudah menuliskannya, kami membawakan realita-reliata yang tercatat atas dirinya, dan kami tidak membawakan sesuatu yang datang dari luar.

Tak ada yang membalas Luqman melainkan perbuatan-perbuatannya sendiri. Kami tidak membawakan sesuatu yang datang dari luar. Kami hanya membawakan ucapan-ucapannya dan perbuatan-perbuatannya sendiri, yang semuanya tercatat atas dirinya dan ada buktinya.
Di antaranya adalah masalah sekolah (formal) dan kurikulumnya. Ketetapan pandangan mereka yang terakhir, sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Syarbini setelah pertemuan mereka di Tawang Mangu, bahwa yang menjadi problem menurut mereka bukanlah di kurikulumnya, tetapi di lembaran LKS (lembaran kerja siswa), padahal yang menjadi ketetapan di Syaikh Robi’ bahwa yang menjadi problem di kurikulumnya, dan beliau memintaku untuk mengeluarkan semua kurikulum pemerintah dari sistem-sistem pendidikan (sekolah Al Madinah) untuk menyelesaikan problem kurikulum.
Masalah Dzulqarnain dan lembaran yang dia katakan bahwa di dalamnya mengandung pernyataan rujuk Dzulqarnain. (Sebenarnya) aku tidak menyinggung (masalah) lembaran yang ditulis dan diatur dari pihak Luqman beserta temannya (yang bernama) Usamah ‘Athaya.
Masalah ini akan dijawab oleh Akh Dzulqarnain sendiri. Namun aku akan membuat Luqman mengerti satu hal. Lembaran yang telah diatur oleh temanmu yang tukang fitnah Usamah ‘Athaya ini –semoga Allah memberinya hidayah-, dialah yang telah disingkap oleh Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullah, dan beliau mengatakannya sebagai tukang fitnah dan pendusta. Beliau mengetahuinya sebagai tukang fitnah.
Sekarang kita bertanya kepada Luqman: “Apa sikapmu terhadap Usamah ‘Athaya padahal Syaikh ‘Ubaid sudah mencacatnya dengan cacat yang sangat keras dan juga mentahdzirnya?”
Coba terangkan kepada kami dan para pengikutmu. Kenapa engkau berbicara mengenai si fulan dan si fulan, sementara engkau membiarkan Usamah ‘Athaya, seolah-olah tak ada pembicaraan sama sekali tentangnya.
Padahal engkau mengharuskan manusia untuk mengikuti ucapan Syaikh ‘Ubaid, dan barangsiapa yang tidak mengikuti ucapan Syaikh ‘Ubaid, berarti tidak menghormati ulama dan mencela ulama.
Sekarang yang kami inginkan adalah engkau menerangkan sikapmu saja. Kami ingin para pengikutnya mau mengharuskannya memberikan jawaban dan tidak diam.
Kata “pendusta” merupakan cacat yang sangat keras dan termasuk level cacat yang sangat keras menurut para ulama. Apa yang masih engkau tunggu mengenai Usamah ‘Athaya setelah ada cacat ini, kenapa engkau diam?
Sampai sekarang, apakah kalian pernah mendengar Luqman berbicara mengenai Usamah ‘Athaya? Kenapa engkau diam, hai Luqman?
Engkau mengaku bahwa engkau mengatakan kebenaran, dan memang engkau lancang. Kenapa engkau tidak mau berbicara?
Lalu apa sikapmu mengenai celaan Usamah ‘Athaya terhadap Syaikh ‘Ubaid ketika Syaikh ‘ubaid mentahdzirnya, dia mengatakan: “Mencela syaikh salafi yang teguh di atas sunnah merupakan sebuah kerendahan dan kesedihan bukan sebuah sanjungan dan kebahagian.”

Seharusnya engkau membela Syaikh ‘Ubaid. Masalah ini, kita biarkan Luqman dan para pengikutnya memberikan jawaban.

Di sana ada beberapa perkara yang perlu sedikit lebih kita perinci:
Luqman menetapkan beberapa hal dan membangun ucapannya diatas beberapa hal itu.
Jika aku berbaik sangka kepadanya, aku memberinya udzur, karena dia tidak paham bahasa arab. Jika aku berbaik sangka kepadanya, aku katakan bahwa orang ini tidak paham bahasa arab dan tidak paham ucapanku, karena lisannya bukan (lisan) arab.
Namun terkadang tidak mungkin untuk berbaik sangka, karena memang inilah jalan pemikiran Luqman dan siapa saja yang semacamnya, yaitu mengaburkan dan mengelabui.
Luqman mengatakan tentang masalah surat perjanjian (antara Syaikh Al Imam dengan syi’ah), bahwa aku mengucapkan: Para masyayikh yang berbicara mengenai Syaikh Al Imam telah tergesa-gesa dalam masalah ini.
Luqman berkata, ini seperti ucapanku yang tergesa-gesa mengenai permasalahan Indonesia.

Dia berkata: "Padahal syaikh berbicara dengan penuh ketelitian, kejelian, dan kesabaran, sampai datang waktunya untuk berbicara secara terang-terangan, karena beliau adalah seorang imam Al Jarh Wat ta’dil", yang dia maksud adalah Syaikh Robi’.

Aku nyatakan: Apa masalah yang dibicarakan Syaikh Robi’ atas Syaikh Muhammad Al Imam dan beliau sabar kepadanya?
Kita tidak mengetahui dari Syaikh Robi’, kecuali hanya pembicaraan mengenai surat perjanjian itu. Ketika surat perjanjian itu muncul, maka muncul pula keterangan (dari Syaikh Robi’).
Apa yang dia maksudkan dengan ucapan tadi? Apakah dia maksudkan bahwa Syaikh Robi’ bersabar terhadap Syaikh Al Imam sejak bertahun-tahun?
Sedangkan kita tahu bahwa tak ada perselisihan antara Syaikh Robi’ dengan Syaikh Al Imam, kecuali sesudah kemunculan surat perjanjian tersebut.
Yang kita tahu bersabar terhadap Syaikh Al Imam sejak bertahun-tahun adalah Hani Buraik yang mengatakan bahwa dia punya catatan-catatan sejak dua puluh lima tahun yang lalu.
Kemudian datanglah waktu yang membuatnya mengeluarkan semua yang pernah ada di hatinya. Yang juga kita tahu bahwa tak ada pembicaraan dari Syaikh Robi’ atas Syaikh Al Imam, baik dari dekat maupun dari jauh, kecuali sesudah kemunculan surat perjanjian tersebut. Ini adalah pengelabuan.
Adapun jika memang ada sesuatu atas Syaikh Al Imam sementara Syaikh Robi’ mengetahuinya sejak lama, bagaimana mungkin beliau menerima Syaikh Al Imam di rumahnya dan duduk bersamanya, dahulu hubungan antara keduanya termasuk hubungan paling baik yang pernah kita dengar. Kalau begitu, bersabar dalam masalah apa?
Luqman mengambil dari ucapanku  dalam rekaman tentang surat perjanjian itu, lalu dia jadikan sebagai bukti yang pasti, seolah-olah perkaranya hanya sebatas itu.
Dia meninggalkan ucapan Syaikh ‘Ubaid tentang beberapa orang yang mempunyai hubungan dengan dirinya. Dia tidak menyinggung mereka sama sekali.
Maka kita katakan kepadanya, demikian pula Syaikh ‘Ubaid tidak berbicara tentang mereka, kecuali dengan penuh ketelitian bukan dengan kesia-sian. Lantas kenapa engkau tidak menampakkan sikapmu?

Luqman berkata: "Apakah engkau sudah bertanya kepada Syaikh Robi’ sebelum engkau menulis mengenai surat perjanjian itu?"
Saudara-saudara sekalian, perlu diketahui bahwa Syaikh ‘Ubaid, Syaikh Robi’, beserta segenap masyayikh ahli sunnah selalu menasehati kita dan para penuntut ilmu untuk tidak taqlid.

Janganlah kalian taqlid kepada seorang pun dan ucapkanlah kebenaran. Maka kita tidak taqlid kepada seorang pun, meskipun orang itu adalah Syaikh Robi’.
Adapun luqman, dia boleh untuk taqlid karena dia seorang yang jahil, dan seorang yang jahil berhak untuk taqlid. Namun jika engkau mengharuskan aku untuk taqlid kepada seseorang, ini merupakan perkara yang aku tidak menyetujuimu dalam hal yang khusus berkaitan denganku.
Sedangkan dalam hal yang khusus berkaitan denganmu, engkau boleh untuk taqlid, karena seorang yang jahil tak ada haknya kecuali taqlid.
Seorang penuntut ilmu hendaklah mencari dalil. Jika perkaranya telah tampak jelas di hadapannya, maka janganlah dia taqlid kepada seorang pun. Inilah yang selalu dinasehatkan oleh para masyayikh ahli sunnah kepada kita yaitu untuk tidak taqlid.
Bagaimana engkau ingin aku pergi dan melihat apa pendapat Syaikh Robi’, lalu aku harus berpendapat sepertinya. Syaikh Robi’ sudah menjelaskan pendapatnya dan aku juga sudah mengetahuinya dari muqaddimah yang dibuatnya untuk ‘Arafat.

Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa aku sudah meminta pandangan guruku Syaikh Washiyullah ‘Abbas.

Luqman mengatakan bahwa aku berkata: Aku meminta dari para penuntut ilmu untuk tidak masuk ke dalam masalah (surat perjanjian Syaikh Al Imam dengan syi’ah, pent.) karena ucapan sebagian ulama.
Luqman berkata: "Ini adalah (ucapan) yang membuat manusia lari dari para ulama besar."

Aku nyatakan: Ini bukanlah ucapanku, hai saudara-saudara kalian. Ini adalah ucapan para ulama: “Janganlah kalian masuk ke dalam perkara-perkara ini”.
Silakan kalian pergi bertanya kepada Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah. Silakan kalian dengar sendiri apa yang akan beliau katakan kepada kalian.
Demikian pula para ulama yang lainnya, seperti Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah. Niscaya mereka akan mengatakan: "Janganlah kalian masuk ke dalam perkara-perkara ini."
Apakah maksud ucapan mereka untuk membuat manusia lari dari para ulama?
Dengan semua ini, berarti engkau mengharuskan kami untuk taqlid kepada apa yang mereka katakan. Kami tetap menghormati dan memuliakan mereka tetapi tidak harus kami taqlid kepada mereka.

Dia mengatakan bahwa aku berkata: Selayaknya para masyayikh melihat kondisi Syaikh Muhammad Al Imam.

Luqman memberi komentar: "Seolah-olah para ulama itu,dengan semata-mata berita yang sampai kepada mereka, mereka langsung berfatwa tanpa mau melihat berbagai kondisi."
Kemudian dia menyebutkan ayat (yang artinya): “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hambanya hanyalah para ulama.” (Faathir: 28)
Tatkala aku mengatakan ucapan ini, bahwa seseorang hendaknya melihat kondisi Syaikh Muhammad Al Imam, karena situasi Syaikh Al Imam sangatlah berbeda sepenuhnya.
Apakah kalian tahu apa yang sudah terjadi di negeri Yaman? Kelompok (syi’ah) hutsi merajalela dan situasi sangat tidak memungkinkan. Situasi Yaman tidak lagi rahasia bagi setiap orang.

Tatkala aku mengatakan: Hendaknya dilihat kondisi Syaikh, dan surat perjanjian yang ditandatanganinya, bukanlah disebabkan kemauannya, (namun) karena situasi yang ada di hadapannya. Justru mereka memaknai ucapan beliau bahwa beliau tidak dalam kondisi terpaksa.
Syaikh Al Imam mengatakan: "Aku menandatanganinya dalam kondisi aku bisa memilih dan tak ada seorang pun yang memaksaku untuk menandatangani."
Akan tetapi karena situasi di Yaman tampak jelas oleh beliau, dan juga berbagai fitnah yang terjadi di Yaman ada di hadapan beliau, beliau terpaksa menandatangani dan bukan karena arahan dari seorang pun.
Sedangkan surat perjanjian itu, orang-orang syi’ah yang menulisnya dan Syaikh Al Imam (hanya) menyepakati mereka (untuk menandatanganinya).
Aku sudah menyebutkan di dalam (tulisan) “Al ‘Udzrus Sadiid” bahwa Syaikh Robi’ sendiri yang mengatakan: "Bila dia menampakkan dan menyepakati mereka, maka orang ini diberi udzur. Bila dia takut bahwa mereka akan memukulnya, mengambil hartanya, atau memenjarakannya, dia boleh menyepakati mereka."
Ini adalah ucapan Syaikh Robi’. Lalu sekarang bagaimana kita mengatakan tentang ucapan Syaikh Al Imam dan kesepakatannya dengan mereka, merupakan sebuah pengakuan terhadap keyakinan mereka, dan kita lupakan ucapan yang dikatakan Syaikh Robi’.

Aku menuntut sebuah jawaban yang bisa menjawab hal ini. Namun tak seorang pun bisa menjawabnya sampai saat ini.

Ucapanku: Dia mencela para ulama kibar. Seolah-olah mereka tidak peduli dengan rekomendasi yang diberikan kepada Syaikh Muhammad Al Imam.

Luqman berkomentar: "Aku bertanya, siapa yang merekomendasinya? Al ‘Umairi akan menjawab: Syaikh Muqbil dan para ulama Yaman. Apakah rekomendasi akan menjamin seorang hamba tetap istiqamah? Jawabannya tentu tidak."

Aku nyatakan: Tidak diragukan lagi bahwa hati seseorang berada di antara dua jari jemari Allah yang Maha Pengasih. Betapa banyak orang yang direkomendasi kemudian berubah.
Ini merupakan perkara yang jelas dan tidak butuh engkau mengajari kami tentang hal itu. Akan tetapi apakah engkau tidak mau menerima rekomendasi para masyayikh yang terus berlangsung sampai hari ini untuk Syaikh Muhammad Al Imam?

Apakah ulama itu hanya terbatas pada Syaikh Robi’ dan Syaikh ‘Ubaid saja, dan di sana tidak ada ulama lain yang merekomendasi Syaikh Muhammad Al Imam sampai hari ini?

Jika memang Luqman tidak tahu, maka hendaklah dia bertanya. Maksudnya, apakah di sana tidak ada rekomendasi untuk Syaikh Al Imam kecuali hanya dari Syaikh Muqbil?
Maka kita katakan kepadanya: Silakan engkau pergi bertanya kepada Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad , As Syaikh Al ‘Allamah Shalih As Suhaimi, Asy Syaikh Al ‘Allamah Washiyullah ‘Abbas hafizhahumullah, bila engkau memang menganggap mereka adalah ulama, apa pendapat mereka tentang beliau?!

Ucapanku: "Aku ingatkan kepada setiap orang yang berbicara tentang orang lain, tanpa kehati-hatian dan ketelitian terhadap berbagai hal, untuk takut kepada Allah, karena dampak lisan sangatlah besar di kalangan para ulama."

Luqman berkomentar: "Siapa yang engkau maksud dengan ucapan ini?"

Aku nyatakan: Ini adalah realita pada setiap orang. Bila engkau ingin berbicara tentang seseorang, hendaklah engkau berbicara dengan penuh ketelitian dan jangan tergesa-gesa untuk segera berbicara.
Dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberi lawannya tenggang waktu selama tiga tahun sebelum beliau membicarakannya.
Bagaimana dia mengatakan: tidak. Jangan engkau mengatakan bahwa seseorang diberi tenggang waktu namun perkaranya tidak perlu diteliti.
Ucapan ini tak seorang pun dapat mendebatnya. Berbicara tentang seseorang bukan dengan ketergesa-gesaan, tetapi dengan penuh ketelitian, kehati-hatian, dan kesabaran, sehingga jika engkau berbicara, engkau berbicara dengan ilmu. Ini adalah nasehat para ulama untuk seluruh penuntut ilmu.

Luqman mengatakan bahwa aku berkata: sikap diam menurut para ulama dalam bab “Al Jarh Wat Ta’dil” berlaku pada satu pemasalahan (saja), yaitu pembicaraan terhadap sesama teman.
Perhatikan pengelabuan ini! Ini adalah pengelabuan.

Aku nyatakan: Rekamanku (dalam hal ini) ada dan terekam. Aku nasehatkan kepada para pengikut Luqman untuk merujuknya supaya mereka bisa mendengarkan pembicaraan (secara langsung) dan dapat memahami apa yang aku ucapkan dan apa yang aku maksudkan.
Luqman mengatakan pada ucapanku bahwa pembicaraan terhadap sesama teman disimpan dan tidak perlu disampaikan: “Ini adalah kaedah pada (diri)nya.”
Aku nyatakan: aku tidaklah mendatangkannya dari diriku sendiri. Kaedah ini ada di dalam ucapan para ulama. Silakan merujuk kepada “Siyar A’laamin Nubalaa`” karya Adz Dzahabi rahimahullah.
Hendaklan dia membacanya dan mengambil pelajaran darinya. Niscaya dia akan mendapatkan ucapan ini dengan teksnya dari Al Imam Adz Dzahabi “disimpan dan tidak disampaikan”.
Namun kapan aku katakan ucapan ini? Dan tentang siapa aku katakan?

Luqman berkata: "Adapun disimpan dan tidak disampaikan, maksudnya tahdzir Syaikh ‘Ubaid terhadap Muhammad Al Imam.

Aku nyatakan: Kalau kalian merujuk dan mendengarkan ucapanku ini, kalian akan mendapat kejelasan bahwa ucapanku ini bukan mengenai pembicaraan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Muhammad Al Imam. Akan tetapi (sebenarnya) ucapanku ini untuk pembicaraan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Ahmad Bazmul dan Usamah ‘Athaya.
Silakan kalian merujuk kepada rekaman(nya) dan cermati. Inilah teks ucapanku. Aku tidaklah menjadikan Syaikh Muhammad Al Imam termasuk teman sepanteran Syaikh ‘Ubaid dan ucapan Syaikh ‘Ubaid (hendaknya) disimpan dan tidak diriwayatkan.
Hal ini tidak ada hubungannya dengan ucapanku sama sekali. Bahkan ini termasuk pengelabuan.
Namun dia perlu diberi udzur, karena dia tidak memahami ucapanku, karena lisannya bukan lisan arab, jika kita mau berbaik sangka kepdanya.
Akan tetapi aku nyatakan bahwa orang ini adalah seorang yang (suka) mengelabui. Dia mengelabui para pengikutnya dan siapa saja mendengarkannya. Rekamanku ada dan terekam. Silakan merujuk dan mendengarkannya.
Apakah ucapanku mengenai pembicaraan terhadap sesama teman hendaknya disimpan dan tidak disampaikan terkait dengan ucapan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Al Imam? Jawabannya tentu tidak.
Ucapanku sepenuhnya tertuang pada ucapan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Ahmad Bazmul dan Usamah ‘Athaya. Dan aku pun mengatakan ucapan ini dalam rangka mengalah.
Artinya, jangan sampai ada yang menyangka bahwa aku tidak paham, sesungguhnya pembicaraan terhadap sesama teman tidak diterima secara muthlaq.
Aku mengerti bahwa pembicaraan terhadap sesama teman bila dia membawakan keterangan nyata dan hujjah maka diterima.

Kenapa aku mengatakan hendaknya disimpan dan tidak disampaikan?
Karena Syaikh Robi’ berkata: Hendaklah kalian diam. Aku menjawab: Kenapa kami diam? Sikap diam menurut para ulama (hanya) dalam satu masalah, yaitu pembicaraan terhadap sesama teman.
Dia dan temannya Al Jazairi tidak memahami ucapanku, karena mereka menggiring ucapanku kepada kemungkinan-kemungkinan yang mereka inginkan dan tidak mau melihat, mencermati, dan meneliti ucapan (terlebih dahulu).
Tatkala Syaikh Robi’ berkata: Hendaklah kalian diam dan jangan bicara. Aku menjawab bahwa sikap diam menurut para ulama, tak lain kecuali dalam pembicaraan terhadap sesama teman, hendaknya disimpan dan tidak disampaikan. Apa maksud disimpan dan tidak disampaikan? (maksudnya) diam ketika tidak ada hujjah dan keterangan yang nyata. Jadi ucapanku tertuang pada perkara ini. Bukan makna ucapanku bahwa aku menetapkan kaedah baru, yaitu pembicaraan terhadap sesama teman tidak diterima secara muthlaq. Silakan merujuk kepada rekamanku dan cermati.
Tatkala aku mengatakan bahwa pembicaraan terhadap sesama teman hendaknya disimpan dan tidak disampaikan, merupakan jawaban untuk ucapan Syaikh Robi’ yang mengatakan: "Hendaklah kalian diam dan jangan bicara."
Maka aku jawab: "Sampai kapan kami diam?"
Harus ada penjelasan. Kita menerima ucapan Syaikh ‘Ubaid atau kita menolaknya.
Para ulama ketika mengatakan: Hendaklah kalian diam, yang mereka maksudkan hanyalah pembicaraan terhadap sesama teman bila tidak mempunyai keterangan yang nyata.
Para ulama mengatakan hendaknya disimpan dan tidak disampaikan. Inilah yang dicakup oleh ucapnku. Maka tampak jelaslah bahwa aku berada di satu lembah, sedangkan dia berada di lembah yang lain.
Adapun aku meyakini bahwa pembicaraan terhadap sesama teman tidaklah diterima secara muthlaq, aku sama sekali tidak menyinggung hal ini.
Ucapanku hanyalah merupakan jawaban untuk sebuah ucapan yang mengatakan bahwa kita diam terhadap jarh (pencacatan yang dilakukan) Syaikh ‘Ubaid.
Ini seharusnya dipahami. Ucapanku ini juga terkait permasalahan Usamah ‘Athaya dan Ahmad bazmul. Sedangkan Luqman tidak pernah sama sekali menyinggung dua orang ini.
Maka apa sikapmu, hai Luqman, terhadap pembicaraan Syaikh ‘Ubaid? Sekarang dia menggiring kepada ucapan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Muhammad Al Imam.

Luqman berkata: "Kita ingin mengetahui sejauh mana kebenaran kaedah “Pembicaraan terhadap sesama teman hendaknya disimpan dan tidak disampaikan” menurut ahli sunnah."
Aku mengetahui pendapat ahli sunnah mengenai kaedah ini, tetapi aku tidak mengatakannya kecuali ketika Syaikh Robi’ berkata: "Hendaklah kalian diam."
Kenapa kita diam? Apakah mereka ini termasuk teman sepanteran Syaikh ‘Ubaid sehingga kita diam? Inilah yang kita pahami.
Aku mengatakan: Sampai kapan kita diam? Harus ada penjelasan. Adapaun diam secara muthlaq, inilah yang tidak kita terima.
Inilah pembicaraan yang tidak dipahami Luqman dan temannya.

Aku mengatakan: Sampai kapan kita diam? Bila sikap diam itu berlangsung sampai tanpa ada batas akhir. Hal ini tidak terjadi, kecuali pada pembicaraan terhadap sesama teman.
Para ulama (ketika) mengatakan: Hendaklah kalian diam. Yang dimaksudkan adalah pembicaraan terhadap sesama teman yang tidak mempunyai keterangan nyata dan hujjah.
Apakah ucapan Syaikh ‘Ubaid sesuai dengan keadaan ini? Tidak. Kemudian kita katakan kepadanya: Apa pendapatmu mengenai ucapan Syaikh ‘Ubaid terhadap Syaikh Ahmad Bazmul dan Usamah ‘Athaya?
Ucapanku ini ada dalam rekaman dan (di situ) aku bertanya dengan pertanyaan ini. Tetapi dia (Luqman) tidak menyinggungnya (sama sekali).
Wahai Luqman! Coba letakkan Syaikh Muhammad Al Imam di sampingmu, dan jadikan Syaikh Ahmad Bazmul dan Usamah ‘Athaya berada di posisinya, apakah pendapatmu akan tetap (sama) atau akan berubah?
Karena dia (Luqman) mengharuskan untuk menerima ucapan Syaikh ‘Ubaid. Dia memahami dari ucapanku bahwa aku memaksudkan Syaikh Muhammad Al Imam dan Syaikh ‘Ubaid. Inilah yang membutuhkan jawaban.

Dia mengatakan: Jika engkau berkata, Syaikh ‘Ubaid berbicara mengenai Syaikh Al Imam dan menyifatinya sebagai ahli bid’ah dan orang sesat, merupakan ucapan yang keras.
Ucapan ini sudah tersebar luas. Mereka mentahdzir dari Syaikh Muhammad Al Imam, mereka tidak memperhatikan rekomendasi para ulama terhadap Syaikh Al Imam, dan mereka tidak mempedulikan berbagai hasil kerja keras Syaikh Muhammad Al Imam.
Yang semestinya diketahui bahwa pembicaraan terhadap Syaikh Muhammad Al Imam terkait surat perjanjian (dengan syi’ah), apakah Luqman dan orang-orang yang semacamnya berpendapat bahwa siapa yang memberi udzur kepada Syaikh Al Imam berarti mencela ulama, sehingga mereka akan mencacatnya dan membicarakannya dengan keburukan, bahwa orang itu tidak beradab terhadap ulama?!
Aku telah menjawab sebelum ini, aku mengatakan: Aku tidak sendirian dalam membela Syaikh Muhammad Al Imam. Syaikh Washiyullah punya pembicaraan yang terekam untuk para penuntut ilmu di Ma’bar.
Silakan engkau merujuknya, hai Luqman, dan dengarkan!  Syaikh Shalih Suhaimi  juga memberi Udzur kepada Syaikh Al Imam dan menyebutkan peristiwa perjanjian Hudaibiyah sebagaimana yang aku sebutkan, karena permasalahannya sama.
Syaikh Al ‘Abbad mengatakan ketika Syaikh Al ‘Adani menziarahi beliau: “Penduduk Yaman lebih mengetahui tentang perkara yang terkait dengan permasalahan ini.”
Apakah Luqman berpendapat bahwa mereka bukan ulama? Lalu apa pendapatnya tentang mereka? Mereka memberi udzur kepada Syaikh Muhammad Al Imam terkait perkara yang sudah ditandatanganinya.
Apa jawaban Luqman tentang mereka ini? Kenapa dia diam dan meninggalkan pembicaraan tentang mereka? Seolah-olah tak ada yang berbicara mengenai surat perjanjian itu, kecuali hanya aku dan seolah-olah tak ada yang menentang pendapat Syaikh Robi’ dan Syaikh ‘Ubaid, kecuali hanya aku. Kita menunggu jawaban dari Luqman.

Luqman berkata tentang aku: "Dahulu orang ini majhul dan sekarang sudah majruh (dicacat) karena Syaikh Robi’ mentahdzirnya."

Apakah kalian sudah mendengar tahdzir Syaikh Robi’ terhadapku? Apakah Syaikh Robi’ mentahdzirku karena dia tahu bahwa pada diriku terdapat hizbiyyah (kefanatikan kepada golongan tertentu)?

Aku sudah pergi menemui beliau dan aku bertanya: “Bila pada diriku terdapat sebuah perkara hizbiyyah, coba perlihatkan kepadaku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, niscaya aku akan kembali (dari kesalahanku).”
Akan tetapi tahdzir Syaikh Robi’ karena aku membela orang-orang yang menyelisihi manhaj Salaf.
Seharusnya si penanya yang pernah bertanya (kepada beliau tentang aku), kembali bertanya kepada Syaikh Robi’: "Siapakah mereka (yang menyelisihi manhaj salaf) itu?"
Coba sebutkan nama mereka yang menyelisihi manhaj salaf itu namun dia bela? Apakah beliau mengatakan bahwa aku membela Al Ikhwanul Muslimun atau sebuah lembaga hizbiyyah?
Bila aku yang membelanya saja ditahdzir, lantas bagaimana dengan mereka? Tentunya mereka lebih patut untuk ditahdzir. Namun kita ingin mengetahui siapa mereka sehingga kita bisa berhati-hati dari mereka dan nasehatnya menjadi jelas.
Sebutkan namanya dan katakan si fulan, si fulan, dan si fulan. Kita ingin hal ini secara jelas. Kenapa si penanya tidak mencari tahu? Ini adalah bukti bahwa mereka tidak ingin, kecuali mencelaku.
Bila mereka telah sampai pada tujuan mereka, maka mereka merasa cukup lalu berhenti. Bahkan sampai si penanya pun tidak tahu namaku (dengan benar) dan Syaikh Robi’ yang membenarkannya.
Bila dia sudah memperoleh jawaban yang diinginkannya, dia merasa cukup dan tidak lagi punya keinginan mencari tahu dari Syaikh Robi’: siapa orang-orang yang dia (Syaikh Abdul Hadi) bela? Coba sebutkan nama orang-orang yang menyelisihi manhaj salaf tersebut.
Aku akan mengatakan kepada kalian siapa mereka itu. Inilah yang dikatakan Syaikh Robi’ kepadaku dengan jelas ketika aku menziarahinya.
Mereka itu adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushabi, Syaikh Abdul Aziz Al Bura’i, Syaikh Muhammad Al Imam, Syaikh Utsman As Salimi, dan Dzulqarnain.
Beliau mengatakan bahwa aku membela mereka. Jika memang mereka menyelisihi manhaj Salaf, di mana letak penyelisihannya?
Apa bentuk penyelisihan yang mereka punya sehingga mereka menyelisihi manhaj Salaf?
Bukankah kita punya hak untuk bertanya? Atau semua ini karena surat perjanjian yang sudah muncul dan mereka memberi udzur kepada Syaikh Muhammad Al Imam atas perkara yang sudah ditandatanganinya dalam surat perjanjian itu?!
Yang aku tahu dan aku beragama kepada allah dengan hal itu, bahwa mereka berada di atas manhaj salaf, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushabi, Syaikh Abdul Aziz Al Bura’i, Syaikh Muhammad Al Imam, Syaikh Utsman As Salimi, dan juga Dzulqarnain.
Adapun Al Akh Dzulqarnain, sekarang dia berada di sisi Syaikh Al Fauzan. Aku katakan kepada Syaikh Robi’: “Tulislah kritikan-kritikanmu terhadap Dzulqarnain kepada Syaikh Al Fauzan. Syaikh (Al Fauzan) akan mendiskusikannya dan akan memperosesnya jika kritikan-kritikanmu memang benar.” Inilah yang benar.
Wahai saudara-saudara sekalian, perkara-perkara yang dibicarakan Luqman ini, aku menuntut Luqman dengan beberapa hal, jika memang dia benar sesuai pengakuannya.
·   Yang pertama, dia terangkan kepada kita sikapnya terhadap pembicaraan Syaikh ‘Ubaid tentang Syaikh Ahmad Bazmul dan Usamah ‘Athaya. Dan perlu diketahui bahwa Syaikh Robi’ belakangan telah mengeluarkan sebuah penjelasan yang mengandung pujian kepada Syaikh Ahmad Bazmul, sesudah sebelumnya beliau mengatakan: Hendaklah kalian diam.
·   Yang kedua, dia jelaskan kepada kita pendapatnya tentang ucapan Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syaikh Shalih Suhaimi, dan Syaikh Washiyullah ‘Abbas yang memberi udzur kepada Syaikh Muhammad Al Imam terkait surat perjanjian itu. Dan sikap ini benar bersumber dari mereka. 

Inilah yang kita inginkan. Adapun dia mengelabui para pengikutnya dan menggiring ucapanku yang berada di sebuah lembah, sementara dia berada di lembah yang lain.
Ini tidaklah disenangi oleh para penuntut ilmu. Bahkan orang-orang awam pun tidak akan menyenanginya. Karena orang-orang awam tidak menyukai kezhaliman, tindakan aniaya, pengaburan, dan pengelabuan.

Terakhir kita katakan kepadanya: Bertaqwalah kepada Allah terhadap dirimu dan orang-orang yang berada di sekitarmu.

Demikianlah, aku memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada sebaik-baik makhluq-Nya Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh para sahabat beliau.

Disampaikan oleh: Abu Abdirrahman Abdul Hadi bin Mahji Al ‘Umairi.


Label:

2 Komentar:

Pada 7 Februari 2015 00.12 , Anonymous Anonim mengatakan...

Semoga Allah Menjaga anda dan seluruh Ahlu Sunnah.

 
Pada 8 Februari 2015 08.23 , Blogger Pelita Hati mengatakan...

Jazakumullohu khoiron ya akhi. Semoga Allah memberi taufiq bagi kita semua.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda