Selasa, 08 September 2015

Purwito Larang Facebook, Ulama Membolehkan

 
Purwito alias Abdul Ghofur Al Malanji, admin dari situs fitnah yang menamai diri dengan "tukpencarialhaq.com". Orang ini –sebagaimana berita dari banyak informan-, bukanlah seorang ustadz dan penuntut ilmu yang dikenal keilmuan dan keuletannya dalam belajar dan menyebarkan ilmu yg bermanfaat. 

Ia dengan situsnya itu malah banyak menyebarkan fitnah di kalangan ahlus sunnah berupa tahdzir serampangan, tanpa didasari qowa'id ilmiyah (kaedah-kaedah ilmiah), sehingga lisan dan pena yg ada di tangannya tak pernah berhenti dan ia terus melakukan tahdzir batil kepada sejumlah dai salafi, seperti Ust Dzul, Muhammad Naim, Jauhari, Hanan, Khidhir, dll. 

Bukan cuman ustadz2 yg ia tahdzir dan sikapi, bahkan ikhwah2 yg bukan ustadz pun mendapatkan bagian dr tahdzir batilnya. Ini semakin menguatkan kekeliruan dia dalam tahdzir yg tdk memperhatikan maslahat dan madhorot yg timbul darinya. Inikah hikmah di balik dakwah salafiah. Tidak, ini bukan hikmah, bahkan ia adalah sikap ghuluw dan ta'addi (melampaui batas).

Diantara kejahilannya, ia melarang facebook, sementara para ulama dalam situs-situsnya memiliki akses ke dunia facebook. Karena itu, di halaman depan dr situsnya tertulis kalimat ringkas yg berisi tahdzir : "PERHATIAN TUKPENCARIALHAQ.COM TIDAK MEMILIKI AKUN FACEBOOK".

Hati anda mungkin berbisik sembari bertanya: "Dengan kalimat ini, Purwito nggak melarang FB kok? Mana bukti ia melarang FB?"
Betul kalimat ini mengandung dua kemungkinan:
1.     Ia merupakan pernyataan berlepas diri dari adanya kepemilikan facebook baginya.
2.     Mungkin juga itu adalah larangan tersirat, bukan pernyataan berlepas diri.
3. Terpampang jelas di halaman utama situs Purwito gambar berikut:

Kemungkinan kedua lebih kuat, sebab Pimpinan tertinggi Purwito yg bernama Ust Luqman ba Abduh telah melarang facebook dan memerintahkan menjauhinya. (Buktinya lihat disini)

Telah menjadi manhaj bagi Purwito dan teman2nya bahwa jika Ust Luqman ba Abduh telah mengeluarkan pernyataan berupa perintah menjauhi facebook (FB), maka yg lain (trmasuk Purwito dan ust2 lain) hrs ikut pernyataan itu!! Kalau tdk, maka siap ditahdzir! Tidak ada diantara mereka yg berani menyalahi pernyataan itu, walapun jelas kekeliruannya.

Hal ini dikuatkan oleh bukti lain, yaitu masalah "fitnah pengharaman yayasan" yg pernah diserukan oleh Syaikh Yahya Al Hajuri - hafizohulloh- beserta dai2 lain.

Di saat munculnya fitnah ini, maka Ust Luqman ba Abduh menabuh genderang dalam men-tahdzir Syekh Yahya Al-Hajuri - hafizohulloh -, tanpa memperhatikan maslahat dan madhorot. Sementara para ulama –termasuk Syekh Robi' dan lainnya- belum mengeluarkan pernyataan sikap dalam men-tahdzir Syekh Yahya Al Hajuri -hafizohulloh-.

Inikah sikap kembali kepada ulama, ataukah ia adalah sikap ta'alum 'sok pinter'? Perkara haram tidaknya yayasan dan disikapi-tidaknya Syekh Yahya Al Hajuri -hafizohulloh- masih dalam ranah perbincangan ulama di kala itu. 

Namun Ust Luqman dengan "gagah berani" menyatakan dg lantang sebuah "fatwa" yg belum pernah dirilis dari para masyayikh dlm sebuah fatwa dan nasihat resmi. Ust Luqman ba Abduh mengeluarkan fatwanya dlm men-tahdzir Syekh Yahya dan pengikutnya. 

Ada apa dg keberanian seperti ini? Jika sekedar berani, maka yg lain pun bisa. Tapi apakah di balik sikap berani itu ada maslahat yg bs dicapai, ataukah malah madhorot yg trtuai?

Disini kami tdk ingin membahas haram-tidaknya yayasan, tp kami ingin menyoroti sikap ketergesa-gesaan dr Ust Luqman, cs., agar smua kalangan mengerti siapa sebenarnya yg tidak mau kembali kepada ulama?

Parahnya lagi, Ust Luqman, cs., menjulurkan lidah tahdzirnya kpd ust2 ahlussunnah yg masih belum mengambil sikap dlm mentahdzir syekh yahya Al Hajuri.

Prinsipnya, siapa yg tidak mentahdzir org yg kami tahdzir, maka kami pun akan mentahdzirnya.

Akhirnya, para asatidzah ahlussunnah (seperti, ust dzul, naim, jauhari, dll), mereka sikapi dan tahdzir, baik terang-terangan, maupun sembunyi2. Padahal para asatidzah yg mrk tahdzir tidak bersikap dlm hal itu, krn mereka selalu ta'anni (hati2 dan pelan) dan menunggu bimbingan ulama dlm bersikap. Sebab, syekh robi' sj yg paling tanggap dlm kasus ini, jg blm komentar. Nah, kita ini kenapa berani berkomentar bahkan mentahdzir syekh Yahya serta yg ikuti beliau, atau yg tidak bersikap?! Inikah kembali kpd ulama?

Nah, kita kembali kpd pembahasan facebook. Jadi Purwito itu melarang facebook, sementara ulama memiliki akses ke FB.

Sekarang ada baiknya kami bawakan beberapa buah screenshot dr beberapa situs ulama ternama untuk menunjukkan bhw menggunakan fb dlm dakwah adalah boleh.

Situs Syekh Robi'
 
Situs Syekh Fauzan
 

Situs Syekh Ahmad Bazimul
 

Situs Syekh Al-Bukhoriy

 




0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda