Jumat, 20 November 2015

Persaudaraan Iman jangan Dihancurkan Begitu Saja


Persaudaraan Iman jangan Dihancurkan Begitu Saja

Ukhuwwah Imaniyah (Persaudaraan Keimanan) adalah nikmat yang amat mahal di sisi Alloh –ta'ala-. Saking berharganya ukhuwwah di atas minhajun nubuwah, jika dibandingkan dengan beserta isinya, maka ukhuwah (persaudaraan) imaniyah masih jauh lebih berharga.

Alloh –tabaroka wa ta'ala- mengingatkn kita akan ketinggian nilai ukhuwah itu dlm firman-Nya,
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Suroh Al Anfaal, ayat 63)

Karna mahalnya, harom bg seorg muslim memutuskannya, karna skedar urusan dunia berupa kehormatan, kekuasaan, pujian manusia, celaan mereka. Disitulah hikmah agung, dimana Nabi –Shollallohu alaihi wasallam- melarang kaum muslimin dr buruk sangka kpd saudaranya, berbisik2 di depannya tanpa mengikutsertakannya dlm pembicaraan, menjauhinya slama lbh 3 hr, menyakiti hati dan jasadnya, menggibahnya, menyebarkn aibnya.

Disitulah hikmah agung adanya upaya saling menyalami, saling menegur, saling menasihati saat saudara kita keliru, melayani dg baik saat bertamu, menebar senyum kala bertemu saudara, berbagi yg ma'ruf kpd mrk –apalagi di saat susah dan sempit-, menghibur hatinya di kala kena musibah, memaafkannya di kala ia keliru, dan sederet aturan syariat yang merupakan jalan n upaya dlm melanggengkan ukhuwah (persaudaraan) di atas iman.

Konsekwensi ukhuwah ini, seorang muslim seharusnya mencintai kebaikan bg muslim lainnya, sebagaimana ia sukai hal itu bg dirinya. Demikian pun ia benci keburukn mengenai saudaranya atau saudaranya terjatuh dlm keburukan.

Syekhul Islam Iben Taimiyah –rohimahulloh- brkata:
"Aku tdk suka untuk membalas seseorg dg sebab ia dusta atas diriku, atau karena kezolimannya dan permusuhannya. Sungguh aku tlh halalkn setiap muslim. Aku suka kebaikan bg setiap muslim. Aku inginkn kebaikan bagi setiap mu'min sbagaimana aku cintai untuk diriku." (Majmu' Fatawa 28/55)

Oleh krn itu, seorg muslim nggak boleh jadi sebab dlm menjatuhkn saudaranya dlm keburukn, dlm kondisi saudaranya msh ada jalan untuk slamat dan jd baik, misalnya: anda melihat seorg muslim dr kalangan ahlussunnah jatuh dlm penyimpangan. Bukan tindakan yg benar jika anda men-tahdzirnya secara langsung di majelis2, dan dg cara kasar, serampangan, atau tidak sopan. Apalagi sampai meng-hajr-nya. Padahal anda sendiri belum melakukan tanasuh (saling nasihat) dengan penuh kelembutan.

Mungkin niat anda baik, namun thoriqoh (tata cara anda keliru). Jika keliru, bukan kebaikan yg akan anda petik, bahkan kehancuran dunia dan akhirat, krn anda telah melakukan maksiat dg sebab cara salah seperti itu.

Diantara konsekwensi ukhuwah imaniyah, anda tetap memperlakukan seorg muslim sbg saudara sesuai apa yg ia brhak dapatkn dr ukhuwah itu; org sholih (yg baik) tergantung kadar kesholihannya dan org menyimpang sesuai apa yg slamat dr penyimpangannya. Jangan skali2 anda mencabut nikmat ukhuwah dr seorg muslim, sampai hilang keislamannya dg sebab kekafirannya.

Ukhuwah yg sempurna diberikn kpd mereka yg ittiba' (mengikuti) al-Qur'an & sunnah dg sempurna, sbagaimana halnya ukhuwah yg kurang bg mereka kurang ittiba'-nya.

Tidak halal anda merendahkn dan meremehkn ukhuwah imaniyah ini, sampai ia pun menjadi sasaran perdebatan, hajr, putusnya hubungan ahlussunnah, menghukumi mrk dg tidak bijak n adil, bahkn memfonis mrk sbg hizbi atau ahli bid'ah dg gegabah, akibat kecerobohan, ketergesa-gesaan, dan emosional yg meluap-luap bagaikan air bah tanpa kontrol, shingga mau ngomong apa saja, ringan baginya!! Padahl besar di sisi Alloh –ta'ala-.

Alloh –jalla wa'alaa- berfirman,
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16)
"(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar.
Dan mengapa kalian tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu : "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar." (Suroh an Nur, ayat 15_16)

Ayat ini turun berkenaan dg kisah kebohongan yg menimpa istri Nabi -Shollallohu alaihi wasallam- yg tercinta, yaitu Aisyah –rodhiyallohu 'anha-. Turun sbg teguran bg smua org beriman bahwa sepantasnya kalian mengingkari berita dusta itu dan tidak menceritakannya dan memindahknnya kpd yg lain, serta menghukumi berita bahwa ia adalah gosip dusta (buhtan), sdg gosip dusta itu hakekatnya adalah menyatakn sesuatu yang tdk ada diri orang lain!! (Al Jami' li Ahkamil Qur'an 12/205)

Ayat ini amat mengena dg kasus Luqman ba Abduh yg slama ini suka melaporkn berita-berita dusta atas du'at salafiyin, shingga Syekh Robi pun mengeluarkn fatwa sesuai maunya mereka atas diri org2 yg dibenci dan dimusuhi oleh Luqman ba abduh.

Parahnya lg, sbagian dr mrk tahu bhw itu dusta dan kebohongan, tapi mrk diamkan, hanya krn menjaga kemaslahatan diri dr celaan Luqman ba abduh, smisal: Ust. Askary n As Sewed. Suatu hr nanti kalian akan pertanggungjawabkn akan ketidak-adaannya pengingkaran kalian trhadap ba abduh, padahl kalian tahu!! Kalian biarkn ia merusak tatanan dakwah dan ukhuwah di atas minhajin nubuwwah.

Kepada mereka yg bergampangan merusak ukhuwah salafiyah islamiyah, apakah setiap kali ada perselisihan, kalian langsung berpecah belah, saling tahdzir, hajr, dan cela-mencela. Jika kalian lakukan hal itu, maka tdk akan trsisa dari kalian seorg pun, kcuali ia akan lari darimu di suatu hari nanti. Jika kalian lakukan hal itu, maka pasti tidak akan ada lagi 'ishmah (penjagaan) bagi bagi kehormatan, harta dan darah saudara kalian!!

Syekhul Islam Iben Taimiyah –rohimahulloh- skali lg pernah brkata,
وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ
"Andaikn setiap kali dua org muslim berselisih dlm suatu prkara, maka keduanya pun saling meng-hajr (meninggalkn), maka tdk akan tersisa diantara kaum muslimin suatu 'ishmah (penjagaan) dan tdk pula ukhuwah (persaudaraan)." (Majmu' Al Fatawa 24/173)

Andaikan setiap kali salafiyyin brselisih, lalu putuslah hubungan tanpa ada nasihat persahabatan di atas minhajun nubuwah, maka dakwah ini akan hancur dan akan dijauhi manusia.

Alloh –ta'la- brfirman,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Suroh Ali Imron, ayat 159)

Hasan Al Bashri –rohimahulloh- brkata:
هذا خلق محمد صلى الله عليه وسلم ، نعته الله عز وجل
"Ini adalah akhlak Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, Allah –azza wajalla- sifati beliau." (HR. Abusy Syekh dlm Akhlaqun Nabi -shollallohu alaihi wasallam- no. 09)

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dianugrahi sifat kelembutan dlm dakwahnya, sehingga hal itu menjadi ciri dan sifat yg melekat pd diri beliau. Andaikan beliau kasar dan buruk ucapannya atau berhati keras atas para sahabatnya, maka pasti mrk akan lari dan menjauh dr dakwah Islam. Hanya saja Allah telah mendidik dan mengarahkn beliau -shollallohu alaihi wasallam- agar slalu berlaku lembut dlm mayoritas aktifitas dakwahnya dan muamalahnya dg manusia sehingga manusia trtarik dan terpesona oleh akhlak indah dr Nabi shollallohu alaihi wasallam-.

Bahkan konon kabarnya telah disebutkn dalam kitab-kitab samawi trdahulu bahwa Nabi - shollallohu alaihi wasallam- bukan org yg buruk ucapannya dan keras hati, sera tidak pula suka teriak di pasar2, tdk membalas keburukn dg keburukn. Tp beliau suka mema'afkn. (Tafsir Iben Katsir 2/148)

Inilah akhlak manusia trbaik dan teladan kita. Patut kita contoh dalam keseharian kita –khususnya dlm dakwah-. Kelembutan hendaknya lebih dominan dlm kelakuan seorg dai ilallalloh, bukan malah sikap kasar dan keras yang melambangkn kesombongan n kedurjanaan.

Adakah manusia trtarik dg dakwah kita jika kita slaku dai illalloh hanya menampakkan permusuhan, penentangan, dan kebencian kpd manusia.

Sebagian org di zaman kita menyandang gelar dai "salafi sejati", namun sejatinya belum mengikuti para salaf dalam dakwahnya. Tidak ada kasih sayang dan sopan santun di lisan, dan raganya.

Demikiankah manhaj Nabi -Shollallohu alaihi wasallam- dlm berdakwah. Sama skali ia jauh dr manhaj yg agung ini!! Shingga disana-sini melakukan perpecahan di kalangan salafiyin dg perpecahan yang amat para dlm sejarah dakwah salafiyah di nusantara. Hanya kpd Alloh kita mengadukn makar n kerusakn manusia yg satu ini!! Hasbunallohu wa ni'mal wakil.







Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda