Minggu, 24 Januari 2016

Mengajarkan Kitab-kitab Rudud (Bantahan), Salahkah?!


Mengajarkan Kitab-kitab Rudud (Bantahan), Salahkah?!

Sebuah fenomena yang muncul di sebagian dai, kebiasaan membahas kitab-kitab rudud dalam majelis-majelis ilmu, dimana majelis itu dihadiri berbagai macam lapisan dan kalangan, mulai dari orang berilmu sampai orang yang jahil tentang agama. Nah, apakah komentar ulama kita ttg hal itu?! Silakan anda simak penjelasan dan jawaban Asy Syekh Al Kabir Ubaid Al Jabiry –hafizhohulloh-.

Asy-syaikh Ubaid Al-Jabiri – hafidzohullah – berkata :
" أما تدريس كتب المعاصرين التي هي مؤلفة تأليفاً استقلالاً ، ولم تعتمد على متون فتدريسها لا يفيد ، وأشدُّ من ذلك بلية تدريس الردود ،
فبعض الناس يجلس للخاصة والعامة فيدرسهم ردود المعاصرين على فلانٍ وإلا ، فهذا دليل على كساد بضاعته ، وقلة فقهه ، وضحالة علميته .فإن كان حاذقاً بصيراً صادقاً مخلصاً لله في النصح فليدرس الناس كتب العلم كتب الأئمة دواوين أهل الإسلام ،
نعم هذا – بارك الله فيكم – ما أحببت أن أوصي به في هذه الجلسة القصيرة ، وحياكم الله وبارك فيكم ووجهنا الله وإياكم الوجهة الصالحة لديننا ودنينا ، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .

"Adapun mengajarkan kitab-kitab karangan orang-orang di masa ini, yang hal itu merupakan karangan yang disusun secara tersendiri dan tidak bersandar kepada mutun (buku-buku induk/asli karangan ulama’ terdahulu), maka pengajarannya tidak memberikan manfaat (yang signifikan ). Bencana yang lebih parah dari hal ini, mengajarkan kitab-kitab rudud (kitab-kitab bantahan kepada orang/kelompok tertentu).

Sebagian orang duduk (mengajar) untuk orang khusus dan orang awwam, kemudian mengajarkan kepada mereka bantahan-bantahan terhadap si fulan dan si fulan, karangan orang-orang di masa ini; (Tidak hal ini terjadi), kecuali hal ini menunjukkan bahwa (orang ini) ‘barang dagangannya tidak laku’, picik ilmunya, dan dangkal keilmiahannya.

Jika dia seorang yang pandai, berilmu, jujur dan ikhlash karena Alloh dalam menasihati, maka hendaklah dia mengajarkan kitab-kitab ilmu, kitab-kitab karangan para imam-imam (ahlus sunnah), karya tulis para ulama’ Islam.

Ya, hal ini – barokallohu fiikum – apa yang aku ingin mewasiatkan  dalam pertemuan yang sangat singkat ini. Semoga Alloh memuliakan kalian dan memberikan barokah kepada kalian. Semoga Alloh mengarahkan kami dan kalian kepada hal yang baik untuk agama dan dunia kita. Semoga sholawat dan salam tercurah untuk nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya semuanya." --selesai ucapan beliau-- 
Teks Arab :

Sumber audio bisa di dengar dan diunduh di sini :
Faidah dari ucapan beliau – hafidzohullah - :
[1]. Mengajarkan kitab-kitab karangan orang-orang di masa ini kepada umat, kurang memberikan faedah yang signifikan, apalagi ia bukan ulama yang dikenal keilmuannya. Ia hanyalah thuwailib.
Bukan berarti tidak ada faidahnya sama sekali. Kerena orang-orang di masa ini banyak sekali sisi kekurangannya baik dari sisi ilmu, ketaqwaan, dan keikhlasannya. Sehingga hal ini memberikan pengaruh yang besar terhadap buku yang mereka susun.
Berbeda dengan karangan para imam dan ulama’ terdahulu, secara umum kitab-kitab karangan mereka berkah dan sangat bermanfaat sekali. Karena mereka adalah genarasi yang sangat kokoh dan dalam keilmuannya, ketaqwaannya dan keikhlashannya kepada Alloh. Sehingga, para ulama’ dan penuntut ilmu di masa ini hendaknya mengajarkan kitab-kitab para ulama’ salaf kepada umat dan berusaha menghindarkan diri dari mengajarkan kitab karangan orang-orang di masa ini.
Jika kita mengamati para ulama’ di abad ini, baik yang telah wafat semisal asy-syaikh Bin Baz, Asy-syaikh Ibnu Utsaimin, Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy- syaikh Muqbil bin Hadi, ataupun yang masih hidup sekarang ini seperti Asy-syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, Asy-Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Asy-syiakh, Asy-Syaikh Sholih As-Suhaimi, serta para ulama’ Yaman, kita akan mendapatkan mereka termasuk para ulama’ yang konsisten mengajarkan kitab-kitab para ulama’ salaf dan sangat menghindarkan diri dari kitab karangan orang-orang di masa ini.
[2]. Adapun mengajarkan atau menjelaskan suatu masalah akan tetapi tetap bersandar kepada kitab-kitab induk para ulama’ terdahulu, maka ini adalah perkara yang bagus. Seperti men-syarah (menjelaskan) kitab-kitab karangan para imam dan ulama’ da’wah salafiyyah, seperti kitab-kitab karangan asy-syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – rohimahullah – ataupun yang lainnya.
[3]. Mengajarkan kitab-kitab rudud ( bantahan ) kepada umat di majelis-majelis ilmu termasuk kesalahan fatal. Bahkan asy-syaikh Ubaid menyatakan sebagai suatu mushibah besar. Hendaknya seorang da’i mengajari umat dengan kitab-kitab pokok ahlus sunnah wal jama’ah yang bermanfaat yang dikarang oleh para ulama’ da’wah yang terpercaya.
[4]. Seorang da’i yang hanya menyibukkan diri untuk mengajarkan buku-buku rudud (bantahan) kepada umat, merupakan ciri seorang yang dangkal ilmunya dan jauh dari sifat ittiba’ (mengikuti) para salaf dalam da’wah di jalan Alloh.
[Diterjemahkan dan diberi faedah oleh : Abu Anas Abdullah Al-Jirani –hafizohulloh-][1]





[1] Kemudian kami dari tim Pelita Sunnah mengedit dan membenarkan beberapa kesalahan terjemah dan tata bahasa yang keliru, agar faedahnya semakin baik dan bermanfaat, insya Allah.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda