Jumat, 11 Maret 2016

Mengenal Lebih Dekat Panutan Luqmaniyun dalam Merusak Dakwah Salafiyah

Mengenal Lebih Dekat Panutan Luqmaniyun 
dalam Merusak Dakwah Salafiyah

Awal ane mendengar nama ini, ane kira Syekh Ali Al Hudzaify, Imam Masjid Nabawy. Usut punya usut, oh trnyata ia adalah panutan Luqmaniyun, orangnya lain, bukan Syekh Ali Al Hudzaify yg kita kenal ahli qiro'ah skaligus Imam Masjid Nabawy.

Lalu siapakah gerangan sosok Abu Ammar Ali Al Hudzaify ini? Bagaimana jalan hidupnya, dan apa saja sepak terjangnya slama menuntut ilmu?!

Biografi org ini sengaja kami angkat agar anda tahu sebab terjadinya kekacauan di Yaman dan dimana-mana melalui tangan  org ini.

Bila anda udah mengetahui sejarah hidupnya, maka akan terjawab sebuah pertanyaan besar, "Kenapa Luqmaniyun menokohkan org ini?!", sambil menghubungkannya dg hadits yg masyhur :
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
"Arwah itu adalah pasukan yang terkelompok-kelompokkan. Apa saja dari arwah itu yg saling kenal, maka ia akan menyatu. Apa saja dr arwah itu yg saling menjauh, maka ia akan berselisih." (HR. al Bukhory dari A'isyah –rodhiallohu 'anha- dan Muslim dari Abu Huroiroh –rodhiallohu anhu-)

Biografi org ini amat penting anda kenal agar anda paham kenapa slama ini ia membuat keonaran dalam dakwah, lalu dikompori lebih hebat lg Luqman ba Abduh, cs. di Nusantara ini. Saking onarnya dakwah ini dibuatnya, mengharuskn Syekh Robi' belakangan mengeluarkn nasehat khusus bg mereka suka melakukan "AKSI TAHDZIR SERAMPANGAN", diantaranya adalah Ali Al Hudzaify ini. (Baca nasehat Syekh Robi disini : http://thullab-yaman.blogspot.co.id/2016/03/teruntuk-pegiat-tahdzir-syaikh-ubaid.html#more )


Agar anda tdk penasaran, cermati biografi kelamnya Ali Al Hudzaify berikut dan perhatikan kalimat yang berhuruf biru:

Inilah Ali Al-Hudzaifi Al-Yamani

ASY-SYAIKH MUQBIL KEMUDIAN MENGATAKAN KEPADA MASING-MASING NAMA-NAMA YANG DIPANGGIL TERSEBUT,
"KAMU TERUSIR !"

Oleh:
Abu Usamah Adam bin Sholih bin
‘Ubaid Al-Bajani alu Iskandar Alam

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله محمد الأمين وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Muqoddimah

Sesungguhnya mengetahui perkara-perkara yang jelek dalam pandangan agama dalam rangka agar tak terjatuh padanya merupakan perkara yang dituntut, dan di antara perkara-perkara yang jelek tersebut adalah mengenal serta mengetahui ciri dan sifat da'i-da'i penyeru kebatilan agar kita dapat waspada dan berhati-hati untuk tidak mengambil ilmu agama ini dari mereka, sebagaimana salah seorang sahabat dengan semangat menanyakan perkara tersebut kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,

يا رسول الله صفهم لنا 

"wahai Rasulullah jelaskanlah sifat/ ciri mereka kepada kami"



Termasuk di antara wajah-wajah baru yang belakangan ini mendadak tenar dan dielu-elukan oleh sebagian kaum terkhusus di negeri kita tercinta Indonesia, dimana beberapa tahun yang belum lama berlalu namanya sama sekali tak dikenal dalam dunia persalafian internasional adalah seorang yang bernama ali bin husein bin abdillah asy-syarfi yang terkenal dengan julukan ali al-hudzaifi.

Siapakah dia, dan bagaimanakah kiprahnya dalam dunia tholabul ilmi dan dakwah, maka tidak ada salahnya untuk kita mengkaji sedikit tentang biografi seorang Ali al-Hudzaifi yang dia tuliskan sendiri dengan tangannya pada tanggal 25 Jumadil Akhir 1435 H, sekitar 3 bulan sebelum terjadinya Perjanjian al-Watsiqoh yang dilakukan oleh asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafidzahullah.

TEMPAT TANGGAL LAHIR DAN MASA PERTUMBUHAN

Ali Al-Hudzaifi lahir pada tanggal 15 juli 1969 di daerah Khormaksar, ‘Aden. Orang tua Ali Al-Hudzaifi kemudian pindah ke sebuah perkampungan yang sempit dan padat di daerah Qollu'ah, ‘Aden disaat Ali Al-Hudzaifi masih kecil.

Tatkala dia mulai memasuki usia sekolah, orangtuanya memasukkannya ke sebuah sekolah umum tingkat SD.

Tatkala usianya menginjak usia 16 tahun sekitar tahun 1985, Ali Al-Hudzaifi muda yang kala itu masih duduk di kelas 2 SMA di sebuah sekolah umum di ‘Aden mulai mengenal sunnah dan tak sampai lulus, Ali Al-Hudzaifi akhirnya putus sekolah.

Ali Al-Hudzaifi muda kemudian mengikuti kursus ketrampilan di sebuah ma'had/lembaga pendidikan di daerah Manshuroh, ‘Aden sebagai bekal persiapan untuk terjun di dunia kerja.

Setelah lulus dari ma'had tersebut pada tahun 1988, Ali Al-Hudzaifi kemudian mengikuti wajib militer yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Yaman selatan kala itu, selama rentang waktu dua tahun demi mendapatkan sertifikat yang menerangkan bahwa dia telah mengikuti program wajib militer yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sertifikat tersebut juga sebagai syarat mutlak bagi setiap warga untuk dapat melamar pekerjaan.

Setelah lulus dari program wajib militer Ali Al-Hudzaifi pun kemudian kembali pulang ke ‘Aden dan bekerja sebagai kuli bangunan selama dua bulan dan usianya saat itu menginjak 21 tahun.

Tak lama setelah itu terjadilah persatuan antara yaman utara dan yaman selatan, kedua negara tersebut kemudian melebur menjadi satu negara pada pertengahan bulan Mei tahun 1990.

RIHLAH MENUNTUT ILMU KE DAMMAJ

Pasca bersatunya utara dan selatan, jadilah akses masuk dari wilayah selatan menuju wilayah utara, menjadi mudah. Banyak pemuda dari wilayah selatan mulai berbondong-bondong menuju Dammaj untuk menuntut ilmu di sisi Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah, tak terkecuali Ali Al-Hudzaifi.

Setahun berlalu pasca persatuan Republik Yaman tepatnya pada awal tahun 1991, Ali Al-Hudzaifi muda kemudian kabur dari rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan memutuskan pergi ke Dammaj.

Ali Al-Hudzaifi berkata dalam biografinya,

ثم ذهبت إلى دماج وبدون إذن الوالد وذلك في الشهر الأول أو الثاني من عام 1991 ميلادية
"Kemudian aku pergi ke Dammaj tanpa seijin orang tua dan yang demikian itu terjadi pada bulan pertama atau kedua di tahun 1991 masehi"[1]

Sesampainya di Dammaj Ali Al-Hudzaifi telah mendapati bahwa beberapa penuntut ilmu dari aden telah mendahuluinya dalam menuntut ilmu di Dammaj.

Di antaranya adalah dua bersaudara, Syaikh kami, asy-Syaikh al-'Allamah al-Faqih ‘Abdurrahman Mar'i Al-‘Adeni dan kakak beliau asy-Syaikh al-Fadil ‘Abdullah Mar'i –hafidzahumallah-[2], serta saudara sepupu mereka berdua, yaitu Hani bin Buraik –hadahullah-.

Nama yang terakhir kemudian tak lama berada di Dammaj dan pergi ke Saudi Arabia untuk bekerja sambil belajar di sana.

Ali Al-Hudzaifi mengatakan dalam biografinya :

وقد أدركتهما عازبين قبل الزواج
 "Dan aku telah mendapati keduanya (asy-syaikh abdurrahman dan asy-syaikh abdullah) dalam keadaan masih membujang, sebelum menikah"

Ali al-Hudzaifi muda pun kemudian mulai menuntut ilmu di Dammaj. Tak lama berada di Dammaj ali al-Hudzaifi bersama beberapa penuntut ilmu dari Libia dan al-Jazair mulai membikin permasalahan di Dammaj.
Ali al-Hudzaifi mengumpulkan kitab-kitab rudud/bantahan terhadap kelompok-kelompok menyimpang seperti kelompok ikhwanul muslimin dan beberapa hizbiyyun dan ahli bid'ah dari kitab-kitab karya asy-syaikh muqbil, asy-Syaikh Rabi' dan beberapa masyayikh yang lainnya dan kemudian menyusunnya dalam sebuah rak khusus di perpustakaan dan memberikan judul pada rak tersebut di atas selembar kertas dengan judul, «KUTUB AL-MANHAJ»

Hal tersebut mereka lakukan tanpa seijin dari asy-Syaikh Muqbilrahimahullah- ataupun pengganti beliau saat itu, yaitu syaikh kami asy-Syaikh ‘Utsman As-Salimi –hafidzahullah-.

Mereka juga mulai mengadakan majelis-majelis khusus membahas kitab-kitab rudud[3] dan mulai mengkritisi banyak penuntut ilmu di Dammaj sebagai orang-orang yang lembek dalam bermanhaj, mendapati gelagat yang demikian syaikh kami asy-syaikh ‘Utsman As-Salimi selaku penanggung jawab markiz Dammaj selama kepergian asy-syaikh muqbil kemudian melarang mereka untuk mengadakan majelis-majelis seperti itu sampai mendapat ijin dari asy-syaikh Muqbil dan memerintahkan kepada mereka untuk menunggu kepulangan asy-syaikh Muqbil terlebih dahulu.

Namun mereka tidak menggubrisnya dan malah menuduh asy-syaikh ‘Utsman sebagai orang yang lembek dalam bermanhaj.

Tindak tanduk mereka kemudian dilaporkan kepada asy-syaikh Muqbilrahimahullah sekembalinya beliau dari safari dakwah di Hadramaut dan ‘Aden dan akhirnya beliau pun kemudian berketetapan untuk mengusir Ali Al-Hudzaifi dan Abu Ali Al-Libiy, salah seorang penuntut ilmu dari Libia, dan beberapa santri yang semodel dengannya dari markiz Dammaj.

Perlu diketahui bahwa asy-syaikh Muqbil merupakan seorang yang tegas, apabila beliau hendak mengusir seorang muridnya, hal tersebut beliau lakukan di majelis umum, di hadapan ribuan santri.

Mendengar kabar bahwa asy-syaikh Muqbil akan mengusirnya, maka Ali Al-Hudzaifi pun memutuskan untuk kabur dari Dammaj sebelum pengusiran tersebut terjadi.

Asy-syaikh Muqbil juga mendatangi perpustakaan dan mendapati beberapa tumpukan kitab yang ditempatkan dalam sebuah rak khusus dengan judul "kitab-kitab manhaj", beliau pun seketika itu marah dan langsung merobek kertas judul tersebut sambil berkata,

منهجنا الكتاب والسنة، منهجنا صحيح البخاري و مسلم 

"Manhaj kita adalah Kitab dan Sunnah. Manhaj kita adalah Shohih al-Bukhari dan Shohih Muslim "

Kisah di atas sudah saya dengar sejak pertengahan tahun 2009 saat saya masih belajar di pondok Darul Atsar, Panceng - Gresik.

Saya kembali mendengar kisah yang sama persis dengan kisah di atas beberapa bulan yang lalu di awal-awal fitnah dari syaikh kami asy-syaikh ‘Utsman As-Salimi dalam sebuah kaset rekaman beliau yang membantah Ali Al-Hudzaifi.

Apa yang dikuatirkan oleh Ali Al-Hudzaifi pun ternyata benar terjadi, asy-syaikh Muqbil kemudian dalam majelis umum memanggil beberapa nama di hadapan seluruh santri, salah satu di antara nama-nama tersebut adalah Ali Al-Hudzaifi, asy-syaikh Muqbil kemudian mengatakan kepada masing-masing nama-nama yang dipanggil tersebut,

أنت مطرود!

"Kamu terusir!"

Sejak saat itu, Ali Al-Hudzaifi tidak berani untuk kembali ke markiz Dammaj. Dia baru berani kembali ke markiz Dammaj pasca wafatnya asy-syaikh Muqbil rahimahullah, sebagaimana yang dia isyaratkan dalam biografi yang dituliskannya,

وهناك إخوة أفاضل قد دخلت معهم في الدروس في زيارتي الأخيرة لدماج عام 1424 تقريبا، دخلت معهم للمذاكرة 

"Dan di sana para ikhwah yang terhormat, sungguh aku telah masuk bersama mereka dalam beberapa pelajaran pada kunjunganku yang terakhir ke Dammaj sekitar tahun 1424 Hijriah, aku masuk (belajar) bersama (baca : kepada) mereka dalam rangka mudzakaroh (mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang pernah dipelajarinya dahulu)"

Sampai di sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Ali Al-Hudzaifi merupakan seorang penuntut ilmu yang terbilang gagal.

Oleh karena itu, adalah sebuah penipuan yang besar terhadap umat dan pengkhianatan ilmiah, dengan menempatkan seorang Ali Al-Hudzaifi bukan pada kedudukan yang sepantasnya[4], sementara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits 'Aisyahradhiyallahu 'anha yang dishohihkan sebagian ahli ilmu,

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ 

"Tempatkanlah manusia sesuai kedudukannya."[5]

PARA GURU ALI AL-HUDZAIFI DALAM MENUNTUT ILMU

Di antara guru-guru Ali Al-Hudzaifi, selain Al-Imam Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah[6] adalah,

1. asy-syaikh Al-'Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushobi rahimahullah, dimana Ali Al-Hudzaifi menyebutkan dalam biografinya,

وأعتبره شيخي الثاني حيث درست عليه كتاب الدراري المضية في الفقه و بعض كتاب الرسالة للشافعي و بعض كتاب شرح الطحاوية لابن أبي العز  

"Dan aku menganggap beliau adalah syaikhku yang kedua (setelah asy-syaikh muqbil) dari sisi bahwasanya aku telah belajar kepadanya kitab "ad-durori al-mudiah" tentang fiqih dan sebagian kitab "ar-Risalah" karya asy-Syafi'i (tidak tamat) dan sebagian kitab "Syarah ath-Thohawiyyah" karya Ibnu Abil 'Iz (tidak tamat)"

Dan Ali Al-Hudzaifi juga berkata,

تميز الشيخ محمد بن عبد الوهاب الوصابي بأنه مربي فقد تميز بتواضعه وسمته الحسن الجميل ومحبته للسنة وبغضه للحزبية 

"asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushobi terbedakan (dari yang lainnya) dari sisi bahwasanya beliau merupakan seorang pembimbing/pendidik. Sungguh beliau telah tampil beda dengan sikap rendah hati beliau dan tata krama beliau yang baik lagi indah dan kecintaan beliau terhadap sunnah dan kebencian beliau terhadap hizbiyyah"

2. Syaikh kami asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Umar bin Mar'i Al-'Adeni.
Ali Al-Hudzaifi berkata tentang beliau,

:وقد يسر الله لي بإخوة أفاضل درست علي أيديهم بعض العلوم و استفدت منهم أيضا، ومن هؤلاء

الشيخ عبد الرحمن بن عمر بن مرعي العدني حيث درست عليه "شرح العقيدة الواسطية" وهو أول كتاب فتحه في دماج وكان ذلك عام 1412، ثم كتب أخرى منها "الدراري" وقد استفدت منه كثيرا وهو من الإخوة الموفقين من أول طلبهم للعلم 

"Dan sungguh Allah telah memberikan kemudahan bagiku dengan para ikhwah  yang mulia. Aku belajar kepada mereka sebagian ilmu-ilmu dan aku juga mengambil faidah dari mereka, dan di antara mereka adalah, asy-syaikh ‘Abdurrahman bin umar bin Mar'i al-Adeni.
Aku belajar kepada beliau 'Syarah aqidah al-wasithiyyah' dan itu merupakan kitab yang pertama kali beliau ajarkan di Dammaj dan itu terjadi di tahun 1412 Hijriah, kemudian kitab-kitab yang lainnya di antaranya adalah kitab "ad-Darori" dan sungguh aku telah banyak mengambil faidah dari beliau dan beliau termasuk di antara para ikhwah[7] yang mendapat taufiq sejak awal menuntut ilmu."

3. Syaikh kami asy-syaikh ‘Utsman As-Salimi, Ali Al-Hudzaifi berkata dalam biografinya,

ومنهم عثمان السالمي وكان ينوب الشيخ رحمه الله في الدروس العامة، وإنما كان ينوبه في الفترات المتأخرة بعد 1414 تقريبا 
  
"Dan di antara mereka adalah ‘Utsman As-Salimi dan dahulu dia menggantikan asy-syaikh Muqbil rahimahullah pada pelajaran-pelajaran umum dan dia menggantikan beliau di masa-masa terakhir setelah tahun 1414 hijriah"

4. Syaikh kami asy-Syaikh al-Fadil Ahmad bin Sa'id Al-Asyhabi, Ali Al-Hudzaifi berkata,

ومن هؤلاء الشيخ أحمد بن سعيد الأشهبي وقد درست عليه كتاب "الباعث الحثيث لأحمد شاكر" وهو من أقوى الإخوة في دماج في تحقيق الأحاديث و جمع الطرق، له تحقيقات نفيسة و تعليقات جميلة منها رسالة "البشارة في شذوذ التحريك و ثبوت الإشارة" والتي ناقش فيها الشيخ الألباني 

"Dan di antara mereka adalah asy-Syaikh Ahmad bin Said al-Asyhabi dan sungguh aku telah belajar kepada beliau kitab 'al-Ba'itsul Hatsis', karya Ahmad Syakir. Dan beliau merupakan ikhwah yang paling kokoh di Dammaj dalam pen-tahqiq-an hadits-hadits dan mengumpulkan jalur-jalur periwayatannya. Beliau memiliki tahqiq yang bermutu dan ta'liqot (catatan-catatan faidah) yang indah di antaranya adalah risalah beliau berjudul 'al-Bisyaroh fi Syudzudzi at-Tahrik wa Tsubutul Isyaroh' yang membantah asy-syaikh al-albani"

5. Abul Hasan Al-Ma'ribi, Ali Al-Hudzaifi berkata tentangnya,

ومن هؤلاء أبو الحسن مصطفى بن إسماعيل السليماني المصري هدانا الله فقد مكثت عنده قرابة السنة في أيام ثناء الشيخ مقبل عليه ودرست عليه في مأرب مباحث من علم المصطلح ولا سيما دروس كتابه اتحاف النبيل ودروس العلل على السبورة بعد العصر 

"Dan di antara mereka adalah Abul Hasan Musthofa bin Ismail as-Sulaimani al-Misri -semoga Allah memberikan hidayah kepada kami-. Sungguh aku telah tinggal di sisinya selama hampir satu tahun di hari-hari pujian asy-syaikh Muqbil terhadapnya dan aku belajar kepadanya di Ma'rib pembahasan-pembahasan berkaitan dengan ilmu mustholah, terutama pelajaran kitabnya 'Ittihafun Nabil' dan pelajaran-pelajaran tentang 'ilal hadits setelah Ashar dengan menggunakan papan tulis"

6. Yahya Al-Hajuri,
Meskipun Ali Al-Hudzaifi tidak mengakuinya sebagai gurunya dan pernah mengambil faidah darinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Yahya Al-Hajuri masuk dalam jajaran para guru yang pernah dia ambil ilmu dan faidahnya dan itu terjadi pasca kembalinya Ali Al-Hudzaifi menuntut ilmu di Dammaj untuk kali yang kedua setelah wafatnya asy-syaikh Muqbil dan telah diketahui bersama bahwa Yahya Al-Hajuri kala itu merupakan penerus markiz Dammaj, dimana seluruh pengajaran pelajaran umum diemban olehnya.

Dalam biografinya tersebut Ali Al-Hudzaifi juga menyebutkan dan mempersaksikan kemapanan Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz Al-Buro'i dalam menuntut ilmu.

Ali Al-Hudzaifi mendapati asy-syaikh Abdul Aziz Al-Buro'i sebagai salah seorang da'i mustafid yang turut mengajar di markiz Abul Hasan Di Ma'rib (di masa asy-syaikh Muqbil masih hidup, sebelum terjadi penyimpangan pada Abul Hasan) Ali Al-Hudzaifi berkata,

 عرفت الشيخ عبد العزيز خطيبا مفوها وزاهدا في الدنيا مبغضا للحزبية ومحبا للسنة 

"Aku mengenal asy-syaikh Abdul Aziz sebagai seorang khotib yang fasih dalam berbicara dan merupakan seorang yang zuhud terhadap dunia, seorang yang benci terhadap hizbiyyah dan cinta terhadap sunnah"

SUMBANGSIH ALI AL-HUDZAIFI DALAM MEDAN DAKWAH

Selepas keluarnya Ali Al-Hudzaifi dari Dammaj dari rihlah tholabul ilminya yang kedua di sisi Yahya Al-Hajuri,  Ali Al-Hudzaifi kembali ke tanah kelahirannya di kotaAden, dan mulai terjun berdakwah secara kecil-kecilan di sebuah masjid kampungnya di daerah Qollu'ah, ‘Aden.

Tidak ada pengaruh dakwah yang tampak selama kurang lebih 10 tahun berdakwah di ‘Aden. Pamornya yang tak cukup mentereng tenggelam di bawah dominasi para ulama Yaman yang diwasiatkan oleh al-Imam Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah dimana mereka semua begitu mendapat tempat di hati umat, terkhusus di kota aden sendiri yang begitu mencintai dan mengagumi keilmuan syaikh kami Abdurrahman Mar'i dalam batas kekaguman yang syar'i.

Ditambah lagi tak adanya tazkiyyah dari para gurunya membuat umat salafiyyah tak cukup tertarik untuk mengambil faidah darinya.

Pernah suatu waktu di tahun 1431 Hijriah bertepatan dengan tahun 2010 Masehi, Ali Al-Hudzaifi mencoba peruntungan untuk ikut terlibat mengajar di Darul Hadits Al-Fiyusy.

Dia datang dari ‘Aden ke markiz setiap harinya. Tak cukup banyak yang turut hadir di majelisnya. Sejak saat itu, Ali Al-Hudzaifi kemudian tidak pernah lagi membuka pelajaran di markiz.

Ali Al-Hudzaifi pun sering hadir dalam pelajaran umum Syaikh kami terutama di waktu pelajaran antara Maghrib dan Isya'. Tak jarang pula kemudian syaikh kami memberikan semangat padanya dengan mempersilahkan kepadanya untuk menyampaikan sepatah dua patah nasehat di hadapan para santri. Tak jarang pula kemudian Ali Al-Hudzaifi mengatakan di sela nasehat yang akan disampaikannya dengan ucapan-ucapan semisal,

ما جئت إلا لأن أستفيد من الشيخ عبد الرحمن 

"Tidaklah aku datang melainkan dalam rangka mengambil faidah dari asy-syaikh Abdurrahman."

Demikianlah sosok seorang Ali Al-Hudzaifi sang ‘ulama kibar’, yang saat ini menjadi rujukan sebagian kaum di negeri kita tercinta Indonesia.[8]

Saya tutup pembahasan kali ini dengan perkataan Abul Fadl salah seorang penyair arab,

و في السماء طيور اسمها البجع
إن الطيور على أشكالها تقع
"Dan di langit itu ada burung-burung namanya baja'....

Sesungguhnya burung-burung itu kepada yang sejenis mereka hinggap berkicau..."


1 Dzulhijjah 1436 H [9/16/2015, 15:37]
Darul Hadits As-Salafiyyah, Desa Al-Fiyusy, Lahj - Republik Yaman


Link : http://thullab-yaman.blogspot.co.id/2015/09/inilah-ali-al-hudzaifi-al-yamani.html 


[1] Komentar Pelita Sunnah : Adakah berkah bagi seorang penuntut ilmu yang durhaka kepada orang tuanya. Jika org tuanya saja, ia perlakukan demikian, maka yg lain pasti lebih mungkin lg ia prlakukan demikian.
[2] Ini menunjukkan bhw Syekh AbdurRohman & Syekh Abdulloh adalah murid senior Syekh Muqbil dan lebih senior daripada Ali Al Hudzaify. Skalipun demikian, Al Hudzaify seakan2 lebih paham ttg dakwah salafiah dan Dammaj dibanding mereka berdua. Itulah pencitraan. Padahal Al Hudzaify org mathruud (terusir) dr Dammaj atas perintah Syekh Muqbil –rohimahulloh-. (Pelita Sunnah)
[3] Rudud : bantahan. (Pelita Sunnah)
[4] Di tempatkan sebagai rujukan dlm al jarh wat ta'dil dan ditanyai masalah dakwah yg bukan kapasitasnya!!
[5] HR. Abu Daud dlm Sunan-nya (4842). Syekh Albani melemahkn hadits ini dalam Takhrij Misykah Al Mashobih (4989), krn adanya beberapa illah padanya. Diantaranya, al inqitho'.
[6] Dengan catatan ia trmasuk minal mathrudiin (org2 terusir), shingga tdk layak digolongkn sbg murid Syekh Muqbil. (Pelita Sunnah)
[7] Perhatikan kecongkakan Ali Al Hudzaify yg enggan menyebut Syekh AbdurRohman sbg "gurunya" (Syekhnya). Walaupun kata "ikhwah"  (suadara) boleh sj dipakai, namun bukanlah adab bila seorg tholib (santri) menyebut gurunya dengan kata tsb, skalipun ia selevel atau lebih tua daripada gurunya. (Pelita Sunnah).
[8] Yakni, di sisi Luqmaniyun.

1 Komentar:

Pada 27 Maret 2016 02.18 , Anonymous Anonim mengatakan...

Afwan, tolong dikupas syaikh pengisi daurah bantul 3 april 2016, http://www.ahlussunnahsemarang.com/2016/03/kajian-ilmiah-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html
Jazakumullah khoiron..

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda