Selasa, 01 Maret 2016

Nasehat Tiada Guna dari Ust. Afifuddin di Kala Musibah Melanda berupa Wafatnya Syekh Abdurrohman bin Umar Al Adny –hafizohulloh-

Nasehat Tiada Guna dari Ust. Afifuddin di Kala Musibah Melanda
berupa Wafatnya Syekh Abdurrohman bin Umar Al Adny –rohimahulloh-

Ahad, 19 Jumadal Ula, 1437 H, Allah –Jalla wa 'Alaa'- memanggil hambanya yang mulia, Syekh Abdur Rohman Iben 'Umar Al-'Adny –rohimahulloh- ke hadirat Alloh setelah diberondong peluru oleh tangan-tangan jahat.

Musibah ini menyisakn duka bagi sluruh ahlussunnah di penjuru dunia, dan trkhusus Bumi Nusantara ikut trgoncang dg berita kematian beliau. Titik air mata sendu membasahi pipi dan tangisan menusuk hati. Siapa sih yg kagak sedih di saat ditinggal oleh org yg dicintainya?

Di tengah perihnya musibah itu, kaum yg klaim diri sbg "salafy sejati" alias Luqmaniyun kasak-kusuk mencari nasehat dlm waktu secepat mgk. Akhirnya, mrk dapat "nasehat" ngawur dr seorng yg mrk anggap sbg ustadz di kalangan Luqmaniyun. Itulah Ust. Afifuddin dr Sidayu, Gresik, Jawa Timur.

Hanya sayang, nasehat itu tiada guna dan manfaatnya. Hanya meninggalkn luka di atas luka bg ahlussunnah. Nasehat batil yg tidak membawa manfaat.


Berikut ini, kami akan nukilkan nasehat Afifuddin tsb, sambil kita berikan ta'liq (komentar) yg bermanfaat. Ini kata Afif dlm nasehatnya :

"Nasihat al Ustadz Afifuddin hafidzahullah, terkait berita meninggalnya Syaikh Abdurrahman al Adaniy rahimahullah:
🔎Ambil ibrohnya Yaa Ikhwah:"

Tanggapan dan Ta'liq :
1.   Semoga Afif dan kawan2nya dr kalangan Luqmaniyun mengambil ibroh berupa kematian ulama bhw ulama apabila telah pergi dan meninggalkan dunia ini, maka manusia akan sulit mencari penggantinya. Saking sulitnya, manusia kadang kala mengisi kekosongan itu dg mengangkat org2 jahil sbg ulama dan rujukan dlm menjawab sgala prkara agama.
2.   Kepergian seorg ulama merupakan kerugian dan musibah bg ahlussunnah. Apalagi sekelas Syekh Abdur Rohman Al Adny. Musibah dan kerugian para pencari ilmu, krn mrk kehilangan gudang ilmu. Trlebih di zaman ini, sulit bg kita mencari negara yg agak longgar peraturannya dan byk ulamanya, shingga dg mudahnya mengambil ilmu mrk. Tp itu sulit untuk di luar Yaman.

Afif brkata lg:
Ini pelajaran besar dari Masyaikh, tentang rahmah ahlus sunnah.

Tanggapan dan Ta'liq:
1.   Jika maksudnya "rahmat" disini adalah adanya sbagian syekh (Muhammad Iben Hadi, atau Hani Iben Burek) mengucapkn bela sungkawa atas kmatian Syekh Abdur Rohman, maka bila anda menganggap Syekh Abdur Rohman sbg hizbi atau ahli bid'ah, muncul sbuah pertanyaan : "Bolehkah mengucapkn belasungkawa atas kmatian seorg hizbi atau ahli bid'ah?"
2.   Nah, kalau anda tdk menganggap beliau sbg hizbi atau ahli bid'ah, lalu mengapa kalian menyikapi beliau layaknya seorg ahli bid'ah, dengan men-tahdzir beliau, meng-hajr beliau dan majelisnya, menjauhkn murid untuk belajar kpd beliau dan sederet prbuatan buruk dan tindakan jahat kalian.

Afif brkata lg :
"Mereka memaafkan hal yang terkait dengan pribadi kepada seseorang yang selama ini memusuhinya, tatkala orang tersebut tertimpa musibah."

Tanggapan dan Ta'liq :
1.   Syekh yg kalian perlakukan dan anggap sbg hizbi dan mubtadi', masihkan ada maaf dan toleransi bagi kalian terhadap sikapnya yg salah dan menyimpang menurut kalian?! Siapakah salaf kalian dlm sikap ini. Para salaf dulu, jika mereka mendengarkan seorg ahli bid'ah meninggal, maka mrk tidak memaafkan kesalahan manhajiah dan aqidahnya, sbagaimana layaknya saat ia hidup.[1]
2.   Siapakah yg menyalakan api permusuhan awal kalinya? Bukankah Hani, Luqman ba Abduh, Afif, cs yg menyalakan api permusuhan kpd beliau, bahkan memobilisasi massa dr kalangan santri untuk membangkang kpd nasehat gurunya (dlm hal ini, Syekh Abdur Rohman) untuk menghadiri tabligh akbar Hani di kala itu. Sejak saat itu, kalian memerintahkn murid2 kalian yg belajar disana untuk meninggalkn Darul Hadits, Fuyusy, tempat Syekh Abdur Rohman mengajar. Ana heran dg sikap Afif yg memutarbalikkan fakta.

Afif brkata lg :
🔸Adapun yang terkait dengan hal lainnya itu semua kita serahkan kepada Allah azza wa jalla.
🔸Namun kesalahan, penyimpangan tetap diingkari, tapi bukan sekarang saatnya sebab akan menimbulkan fitnah yaitu situasi ini akan dimanfaatkan hizbiyyin untuk memukul dakwah salafiyyah.
💐Barokallahu fiikum.
.......

Tanggapan & Ta'liq :
1.   Ahlussunnah tdk prnh menganggap Syekh Abdur Rohman Al Adny -rohimahulloh- sbg seorg yg ma'shum, layaknya seorg nabi. Tapi kesalahan dan penyimpangan apakah yg beliau ajarkn shingga kalian mendudukkan beliau layaknya ahli bid'ah, bahkan melebihi ahli bid'ah!!
2.   Sikap kalian yang slama ini senang tahdzir babi buta, arogan dan melampaui batas, tanpa kendali, dan tanpa memperhatikan syuruth dan mawani', serta qowa'id ilmiah dlm menghukumi ahlussunnah. Sikap ceroboh kalian tsb telah menjadi sebab yang menimbulkan fitnah,  dan telah dimanfaatkan hizbiyyin untuk memukul dakwah salafiyyah. Berpikirkah anda wahai Afif dan lihatkah anda dengan kondisi perpecahan ahlussunnah di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri, akibat manhaj kalian yg menyimpang, berupa tahdzir tanpa mengikuti qowa'id!!

Kemudian Afif brkata lg :
"🔸Adapun do'a rahmah dan maghfiroh, maka diperbolehkan sebab beliau bukan orang kafir, bahkan bukan ahli bid'ah, namun membantu mubtadi'."

Tanggapan & Ta'liq :
1.   Ana heran dg Ust. Afif selaku pakar burung, yaitu : siapa yang gabung dg fulan, maka ia dihukumi sama!! Sebab, menurutnya burung itu tdk akan hinggap, kcuali kpd burung yg sejenisnya.
2.   Siapa mubtadi' yg anda isyaratkan wahai Afif Sang Pakar Burung? Aku tahu bhw yg anda maksudkn adalah Syekh Al Imam –hafizohulloh- !! Tunggu sebentar!!! Benarkah Syekh Al Imam mubtadi'? Yakinkah anda dg hal ini? sebab ucapanmu ini akan kami gugat dan Allah di Hari kiamat juga akan menggugatnya!!!! Aku tahu hujjahmu hanya akan bermuara pada watsiqoh saja! Tapi sadarkah anda bhw Syekh Al Imam menandatangani watsiqoh perjanjian dg Hutsi saat beliau sdh didesak dan diancam oleh kaum Hutsi, bila enggan menyetujui watsiqoh itu? Akhirnya, dg kesadaran penuh akan bahaya yg mengancam jiwa beliau dan kaum muslimin di sekitarnya, maka beliau dg berat hati membubuhkn tanda tangan.
Mungkin Afif, cs. akan berkilah : "Kenapa Syekh Al Imam tdk menyalakan api jihad?"
Jawabnya : Tunggu wahai saudaraku, jihad bukanlah hanya smangat. Tp butuh pemikiran mendalam, kekuatan iman & harta, memperhatikn madhorot yg akan menimpa para santri dan kaum muslimin umumnya di Ma'bar, bila beliau enggan tangan tangan. Sisi lain, Hutsi punya senjata dan bantuan kekuatan dr Iran dan lainnya. Saking kuatnya, Saudi hrs meminta bantuan negara lain dlm memberantas Hutsi. Adakah kekuatan Syekh Al Imam menyamai kekuatan Saudi, cs. yg dpt menumpas Hutsi? Jawabnya : "wahid fil mi'ah" (1%). Itulah kekuatan Syekh Al Imam yg begitu lemah. Tidakkah Afif membaca dan mendengar situasi di Yaman sebelum dan sesudah keluarnya watsiqoh itu? Luqman saja, hanya didatangi sekitar 10 org dalam daurohnya yg trakhir di Slipi, sdh ketakutan lari dr majelis dan dianggapnya darurat dan terpaksa lari. Dasar!!
Sikap Syekh Al Imam dlm menandatangani watsiqoh tsb juga disetujui oleh para masyayekh kibar (seperti : Syekh Washiyulloh, Al Abbad, Muhammad bin Hadi, dan smua masyayekh Yaman yg kibar), walaupun mereka juga sepakat bahwa isi watsiqoh tsb adalah batil dan mungkar. Bahkan Syekh Al Imam sendiri yg bertanda tangan juga mengakui kebatilannya.
Tp krn darurot, maka mereka (para ulama kibar tsb) bolehkan n benarkn sikap Syekh Al Imam dlm menandatangani watsiqoh tsb.
Kembali kpd "Kaedah Burung", maka ana ingin tanya kpd Ust. Afif selaku "Pakar Burung" : "Apa sikap kalian yg mendukung dan membantu sikap Syekh Al Imam tsb?"
Disini Afif hanya punya dua jawaban dan pilihan :
a.    "Saya akan sikapi dan tahdzir smua ulama kibar yg mendukung sikap Syekh Al Imam." Nah, jelas ini adalah kesombongan, kejahilan, dan penyimpangan! Krn merasa lbh hebat dibanding para ulama kibar tsb!!
b.   "Saya tidak akan sikapi". Lalu apa bedanya dg Syekh AbdurRohman Al Adny -rohimahulloh- yg sama sikap dg ulama2 kibar tsb?
Kenapa anda wahai Afif berani menghukumi Syekh Abdur Rohman, sementara masyayekh kibar lainnya, kalian ndak berani menghukumi dan menyikapinya? Disini akan tampak bg anda –wahai suadara2ku- akan Manhaj Standar Ganda yg sering mrk pakai dlm bersikap dan bermanhaj. Dengannya, mrk menjadi "mutalawwin" (berubah-ubah sikap kayak bunglon). Akhirnya, kembalilah apa yg mrk tuduhkn kpd Ustadz Dzul dg brlindung kpd fatwa keliru!!

Terakhir, Afif brkata lg :
"🔰Sekali lagi, ini adalah bukti adilnya ahlusunnah dalam menghukumi dan menyikapi rahmah ahlussunnah kepada kawan dan lawan.
🌷Ahsanallahu ilaikum."
=======
📚Majmuah 💫Thullab al Bayyinah💫"

Tanggapan & Ta'liq
1.   Ahlussunnah memang adil dan penuh rahmat dalam menghukumi manusia.
2.   Adapun kalian wahai Afif dan Luqmaniyun, maka sungguh kalian jauh dr sifat adil dan rahmat (kasih sayang)!!
q Apakah adil dan rahmat bila Luqmaniyun membedakan Syekh Abdur Rohman dg masyayekh lainnya dlm kasus watsiqoh tadi yg telah kami paparkn pd poin sebelumnya?
q Apakah adil dan rahmat menghukumi Syekh Al Imam sbg mubtadi', tanpa mau melihat dan mempertimbangkn kondisinya yg tertekan?
q Apakah adil dan rahmat kalian dulu menggelari Syekh Abdur Rohman sbg faqih (pandai dan paham agama). Namun kini kalian sifati dan gelari beliau dg "mughoffal" (dungu), bahkan lebih aneh lg (dan ini MSG), kalian wahai Luqmaniyun sifati dan gelari beliau dg "Al Faqih Al Mughoffal". Tanaqudh!!
q Apakah sikap adil dan rahmatnya kalian melaporkn berita sepihak yg dusta kpd Syekh Robi' ttg diri Ust. Dzul, agar syekh memberikn fatwa salah ttg beliau. Lalu lahirlah "FATWA MLM" yg keliru krn didasari fakta salah, dan sdh dibantah oleh Ust. Dzul fakta2 tsb.
q Apakah sikap adil dan rahmat, kalian melaporkan fakta dusta ttg Al madinah, Solo kpd Syekh Robi, Ubaid, dll?
q Apakah sikap adil dan rahmat kalian memperlakukan salafiyun laksana ahli bid'ah yg hrs dijauhi, di-tahdzir dan dibenci, tanpa didahului dg nasehat dan ditimbang dg qowa'id ilmiah.
q Apakah adil dan rahmat bila kalian mengadu antara Syekh Abdurrohman slaku guru, dg murid2nya yg terpengaruh syubhat kalian?
q Apakah adil dan rahmat, bila kalian ceramah di MEDIU yg kalian tahdzir, lalu aman2 saja. Sementara saudaramu tidak boleh? Bahkan parahnya lg Luqman disambut oleh Ust. Fathul Bari dr Partai UMNO, Malaysia dg udzur kagak tahu? Lalu saudaranya kagak diberi udzur. Gile…
q Apakah sikap adil dan rahmat jika masyayekh Yaman diperlakukan kayak asatidzah dan hak ijtihadnya dicabut, seakan2 mrk hrs taqlid kpd ijtihad ulama lain.
q Apakah adil dan rahmat bila membiarkn Hani masuk sarang hizbi di Syaruroh, dg senyumnya khas duduk bersama dg para hizbi?
q Apakah adil dan rahmat (sayang) bila mengingkari Rodja yg suka foto dan syuting video, lalu Hani melakukan hal sama, namun kalian tidak ingkari? Disini kami bukan ingin membela Rodja. Tp sekadar menyebutkn bukti akan kosongnya ucapan Afif di atas dr fakta dan bukti!!
q Apakah adil dan rahmat, bila anak2 santri yg lugu, kalian keluarkn dr ma'had2 binaan kalian, hanya krn org tua atau walinya tidk ikut maunya kalian?
q Apakah sikap adil dan rahmat, bila mendiamkan Syekh Kholid Az Zofiry yg duduk brsama dg Ihya' At Turots?
q Apakah sikap adil dan rahmat tidak mendoakan rahmat bg Syekh Al Wushoby -rohimahulloh-? Tp anehnya, kalian masih tarohhum atas Syekh Abdur Rohman, dg malu2 dan super hati2. Padahal keduanya sama sikap dan manhaj-nya. Tanaqudh dan MSG.
q Apakah sikap adil dan rahmat bila kalian melarang thullab dan manusia berangkat ke Yaman untuk menuntut ilmu kpd masyayekh ahlussunnah Yaman?
q Apakah adil dan rahmat, org lain disuruh tobat saat bersalah, bahkan ditunda sahnya sampai setahun. Tapi kalau mereka menyimpang, nggak perlu tobat, apalagi diberi tangguh setahun!!
q Kalau pertanyaan2 seperti, ane ajukan kpd Afif, jumlahnya masih byk. Tp cukuplah yg sbagian ini membuat mulutnya menganga krn terheran. Semoga ia ingat dan sadar.




[1] Ini kalau kita berbicara menurut lisan kalian.

2 Komentar:

Pada 1 Maret 2016 18.22 , Anonymous Anonim mengatakan...

Afifuddin juga tahun kemaren pernah ngisi di belitung timur, tahu di tempat siapa?

mayoritas pendengarnya adalah fans RODJA' ...
ketika ditanya sama pak Camat di sana tentang RODJA, jawaban afifuddin ngga terus terang, hanya tidak menganjurkan tapi alasannya apa tidak dijelaskan ...
katanya dalam kaidah "Ta'khirul bayan fii waqtil haajah laa yajuuz" (menunda penjelasan pada waktu yang di butuhkan, itu tidak diperbolehkan)....

giliran ada orang lain yang tidak menjelaskan tentang ROdja ... dibabat habis ... di hajr... di boikot... dst
ingat dulu UStadz Dzulqornain dikritik habis karena ngisi kajian di Jepang.. yang katanya disana orang-orang RODJA..

MSG (Manhaj Standar Ganda)... itu yang aku lihat pada kalian SAAT INI... berkacalah !!!

 
Pada 2 Maret 2016 04.58 , Anonymous Anonim mengatakan...

Jika para penembak itu telah membunuh asy-Syaikh Abdurrahman rahimahullah, maka ketahuilah bahwa Afifuddin telah membunuh karakter beliau,padahal afif adlh murid beliau sendiri. sungguh mirip kelakuan mereka dgn kelakuan kaum Yahudi yang membunuh jiwa dan membunuh karakter para nabi mereka.
Balasan Allah trhadap org spt afif ini sgt dekat..
Tidak ingatkah afifuddin ketika menjatuhkan karakter seorang dokter, kemudian ia diberi peringatan oleh Allah yaitu anaknya harus opname di suatu rumah sakit dgn meminta belas kasihan dokter-dokter??
Sesungguhnya di dalam peristiwa ini ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal..

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda