Jumat, 19 Mei 2017

Manhaj Salaf itu, bukanlah Semata Rudud (Bantah-Membantah), Tanpa Memperhatikan Etika dan Akhlak Islamiyah


Manhaj Salaf itu, bukanlah Semata Rudud (Bantah-Membantah), 
Tanpa Memperhatikan Etika dan Akhlak Islamiyah
[Sentilan Buat Purwito & Luqmaniyun]

oleh : Asy-syaikh Dr. Muhammad ‘Umar Bazmul hafidzahullah

"Termasuk diantara bentuk-bentuk penyimpangan adalah seseorang berkata, 'Aku adalah seorang salafi'. Namun akhlaqnya dan cara bermuamalahnya serta metode dia dalam berinteraksi bersama manusia adalah di atas cara jahiliyyah, bukan salafiyyah !

Dia menyatakan diri, 'aku adalah seorang salafi'

Apabila dia berhutang kepada seseorang,[1] dia tidak mau membayar hutangnya dan apabila melintasi orang-orang awam, orang-orang yang patut dikasihani, orang-orang yang bodoh terhadap perkara agama, bukannya seharusnya dia mengayomi dan mengarahkan mereka serta membangkitkan minat mereka terhadap dakwah.

Sebaliknya dia malah tersungging sinis kepada mereka dan menjauh dari mereka, serta tidak membalas salam kepada mereka, meninggalkan mereka dalam kesempitan/ ketidakenakan yang tidak ada yang mengetahuinya, kecuali allah.

Dia memberikan gambaran yang buruk tentang dakwah salafiyyah, yang dipahami dari dakwah salafiyyah pun akhirnya jadi berubah.

Suatu ketika orang-orang bertanya kepada asy-syaikh Ibnul 'Utsaimin –rahimahullah-tentang orang-orang yang menyatakan diri, 'aku adalah seorang salafi' dan menyeru kepada dakwah salafiyyah.

Beliau rahimahullah menjawab, "Dakwah salafiyyah, apabila di atas hizbiyyah, maka tidaklah diperbolehkan, tidaklah benar!'

Perhatikan baik-baik pernyataan beliau mengenai permasalahan dakwah salafiyyah sebatas nama/slogan semata, akan tetapi di dalamnya berlaku praktek hizbiyyah.[2]

Yang demikian itu menyelisihi dakwah salafiyyah.

Beliau mengingkari praktek hizbiyyah dalam dakwah salafiyyah dan tidaklah beliau mengingkari dakwah salafiyyah.

Jadilah yang dipahami dari dakwah salafiyyah menjadi berubah.

Aku tahu sebagian orang tidaklah mengetahui dari dakwah salafiyyah, kecuali rudud/ bantahan-bantahan. Itulah hasrat mereka siang dan malam !

Ilmu itu di sisinya adalah rudud/bantahan. Dia mengetahui dari dakwah salafiyyah, hanya jika seseorang berbicara mengkritisi fulan, fulan dan fulan dalam suatu kesempatan, maupun yang selainnya. Dia menyangka bahwa yang demikian itulah dakwah salafiyyah.[3]

Yang demikian itu bukanlah termasuk dari manhaj salaf!

Jangan sampai seseorang menertawakanmu, jangan sampai seseorang memalingkan kenyataan darimu.

Yang demikian itu bukanlah manhaj salaf !

Bukanlah manhaj salaf itu adalah rudud/ melakukan bantahan. Bukanlah manhaj salaf itu hanya berbicara mengkritisi fulan dan fulan.

Untuk mengukuhkan di hadapanmu bahwa seseorang adalah salafi, adalah dengan duduk di suatu majelis berbicara mengkritisi fulan dan mengolok-olok fulan dan mengomentari tentang fulan dan mendatangkan kepadamu dengan suatu bantahan dari seseorang. Supaya semakin mengukuhkan bahwa dia adalah seorang penuntut ilmu, dia mendatangkan dengan kumpulan bantahan-bantahan dan mencetaknya kemudian memberikannya kepadamu.[4]

Yang demikian itu bukanlah manhaj salaf !

Orang yang mengatakan kepadamu bahwa sesungguhnya yang demikian itu termasuk manhaj salaf, maka dia telah keliru.[5]

Manhaj salaf itu adalah berittiba'/mengikuti setiap apa yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya berada di atasnya.[6]

Bantahan itu pada tempatnya, dan pembicaraan seputar permasalahan jarh wa ta'dil pun pada tempatnya dan menegakkan perkara ibadah dan perilaku tata krama serta manhaj pada tempatnya. Dan segala sesuatu itu ada tempatnya dan timbangannya tersendiri.

Adapun engkau mempresentasikan dakwah salafiyyah dengan gambaran seperti itu dan engkau berharap manusia tidak melakukan pengingkaran terhadapmu, tentu tidak ! Demi Allah engkau telah membuat jelek citra dakwah salafiyyah !

Tidak ! Demi Allah !!! Engkau telah membuat jelek citra dakwah salafiyyah ! Itu merupakan kekeliruan.

Salafiyyah itu adalah manhaj yang mengadakan perbaikan dan dakwah.

Orang-orang yang menginginkan bahwasanya apabila seseorang terjatuh dalam sebuah kesalahan, langsung seketika dia membabatnya habis dan mematahkannya dan tidak memberinya jeda waktu untuk rujuk kepada al-haq. Yang demikian itu, bukanlah salafi, meskipun dia menyatakan, 'aku adalah seorang salafi'.[7]

Dakwah salafiyyah itu penuh kasih sayang !

Aku mengetahui sebagian masyayikh kami, selama 16 tahun dia menasehati seorang yang menyimpang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui akan hal tersebut.[8]

Rahmah/penuh kasih sayang, tidak langsung seketika dia mematahkannya, tidak !

16 tahun, belasan tahun melakukan nasehat dan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, aku mengetahui sebagian ahli ilmu yang melakukan demikian.

Orang yang menyangka bahwa rudud/ bantahan dan bahwa pembicaraan mengkritisi fulan, fulan, dan fulan, serta menjatuhkan fulan dan demikian yang semisalnya, tanpa ada padanya timbangan dan mempelajari ilmu sebagaimana yang semestinya dan tanpa mengambil perkara-perkara dengan metodenya yang benar.

Perhatikanlah ! Yang demikian itu bukanlah salafi !

Meskipun dia duduk dari pagi hingga larut malam mendeklarasikan diri 'aku adalah seorang salafi' ! Meskipun dia duduk mengucapkan berulang kali ayat-ayat dan hadits-hadits dari pagi hingga larut malam.

Kelompok khowarij dahulu mereka pun senantiasa mengulang-ulang membaca ayat-ayat dan hadits-hadits. Dia merupakan seorang khoriji (berpemikiran Khowarij) yang berkedok salafi ! Dikarenakan yang demikian itu merupakan bentuk-bentuk khuruj/ keluar dari jama'ah islamiyyah, yang demikian itu termasuk bentuk-bentuk menjelekkan citra dakwah salafiyyah.

Orang yang duduk bermajlis tidak ada pada mereka hasrat, selain pembicaraan mengkritisi tentang fulan dan fulan dari kalangan para da'i yang terjatuh pada kekeliruan, dia menyalahkannya tanpa menimbang perkara berdasarkan timbangannya yang benar.[9]

Apakah ada orang yang selamat dari kesalahan?! Tidak ada seorang pun! Setiap anak keturunan adam pasti bersalah.

Allah -azza wa jalla- terhadap kaum kuffar berfirman.
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا [المائدة : 8]
(yang artinya),
“dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil.”[10]

Lalu mengapa engkau bermuamalah dalam menyikapi kekeliruan dari orang tersebut seakan-akan dia itu kafir, seakan-akan dia itu telah keluar dari agama, apakah yang demikian itu adil?[11]

Segala sesuatu itu letakkanlah pada timbangannya, oleh karena itu mereka menjadi heboh kebingungan, tatkala ada salah seorang dari masyayikh kibar berbicara mengkritisi tentang kekeliruan seseorang kemudian selang berlalu satu bulan, dua bulan, syaikh tersebut menyatakan, 'tidak ada halangan, dengarkanlah dia (ambillah ilmu darinya)'

(mereka saling bertanya-tanya kebingungan) “bagaimanakah dengan kesalahannya disini dan disini seperti pernyataannya yang demikian dan demikian ?!”

Ya tentu saja, syaikh tersebut adalah seorang alim, seorang yang paham, syaikh tersebut ingin mengambil hati orang tersebut dan menginginkan dari orang tersebut agar memperbaiki keadaannya, dia memberi orang tersebut kesempatan, di waktu yang sama dia berbicara mengkritisi tentang orang tersebut sesuai kadar kesalahan yang dia telah terjatuh padanya dan membantahnya, serta menjelaskan kepadanya yang benar dan berharap –insya Allah- bahwasanya orang tersebut akan menerima kebenaran.[12]

Sudahlah! Tidak perlu ada perendahan/penghinaan. Engkau malah menambah kerenggangan yang kami telah berupaya untuk mengambil hatinya.[13]

Perhatikanlah wahai sekalian jama'ah!

Dakwah salafiyyah yang dipahami melenceng darinya di sisi sebagian orang, sepatutnya untuk memberikan perhatian terhadap permasalahan tersebut.[14]

[ditrankip dari kaset rekaman berjudul "Manhajus Salaf fit Ta'amul ma'al Inhirofat Al-'Aqodiyyah wal Manhajiyyah", diambil dari dauroh Al-Imam Muhammad Bin Abdil Wahhab yang diselenggarakan pada tanggal 17 Sya'ban 1436 H, dengarkan disini]
    

Thullabul Ilmi Yaman







[1] Aku mengenal seorang diantara mereka yang mengaku sebagai "Salafi Sejati". Orang ini tidak amanah dalam membayar utang kepada seorang ia tuduh sebagai hizbi. Padahal apa hubungannya antara statusnya sebagai hizbi dengan kewajiban membayar utang? Orang kafir saja wajib haknya dipenuhi, apalagi ia adalah muslim. Sungguh aneh kehidupan ber-manhaj dari kaum "salafi sejati." Sejatinya bukan sejati.
[2] Diantara perkara yang menguatkan ke-hizbiyah-an Luqman ba Abduh dan Jama'ahnya, mereka menetapkan adanya bai'at bid'ah di kalangan mereka. [Lihat : http://pelita-sunnah.blogspot.com/2015/06/baiat-bidah-di-kalangan-luqmaniyun.html ]
[3] Seorang diantara pengikut setia Luqman ba Abduh amat gemar membantah orang di medsos. Tiba saatnya kami tanya, "Tahukah anda bahasa Arab?" Sebuah pertanyaan yang membungkam mulutnya dan membuatnya terdiam seribu bahasa. Kemudian kami nasihati agar ia nggak usah nyibukkan diri dengan rudud (bantah-membantah), sebelum pintu ilmu (yakni, bahasa Arab) anda telah kuasai.
[4] Apa yang dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Umar amat benar. Aku dapati orang-orang dr kalangan pengikut Luqman ba Abduh yang memiliki setumpuk data berupa selebaran2, audio2 dan artikel-artikel bantahan yang tiada faedahnya. Andaikan dikumpulkan dalam sebuah file, maka ia akan menjadi kitab tebal yang mirip tebalnya dengan "majmu' fatawa" karya Syaikhul Islam. Tapi adakah faedah yang dipetik dari semua itu? Jawabnya : nggak ada, selain dhoyaa'ul waqti (habisnya waktu) dalam urusan yang dibangun di atas qiila wa qoola, suu'uzh zhonn, bahkan di atas kedustaan!!
[5] Justru hal itu menunjukkan kedangkalan ilmunya tentang manhajus salaf. Sebab, ia membatasi sesuatu yang luas menjadi sempit.
[6] Manhajus salaf bukanlah "mengikut" kepada Syaikh Fulan saja, lalu membuang dan menistakan ulama-ulama lain yang begitu banyak ilmunya dan lebih muliakan dibandingkan seorang ulama tsb!! Aku heran pada hari ini, sebuah kaum muncul dengan bertameng "ulama kibar", namun mereka membuang ulama kibar. Mereka punya niat busuk di balik slogan tersebut, untuk berlindung dari kritikan orang lain, sebagaimana kaum Syi'ah-Rofidhoh yang bertameng dengan "ahlul bait", untuk berlindung dr kritikan ahlussunnah. Dengan slogan itu pun, kaum Syi'ah berusaha menipu umat bahwa merekalah golongan yg memuliakan ahlul bait. Padahal mereka kaum yang menghinakan ahlul bait. Betapa busuknya mereka dalam menghinakan ahlul bait dengan meninggalkan ajaran Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang merupakan teladan mereka. Demikianlah perumpamaan kaum yg mengaku sbg "salafi sejati", gemarnya mengklaim diri sebagai pengikut "kibar ulama", namun hakikatnya menghinakan ulama kibar. Betapa tidak demikian, anda bisa temukan di sisi mereka kebiasaan membuang para ulama yang tidak sejalan hawa nafsu mereka, lalu mengangkat seorang saja diantara mereka, (yakni, Syaikh Robi' hafizohulloh saja). Sungguh ini adalah hizbiyah terselubung!!
[7] Kenyataan miris begini telah dialami oleh saudara kami, Ust. Dzulqornain Al Makasary –hafizohulloh-. Satu kesalahan, lalu dikembangkan, tanpa ada nasihat persaudaraan. Laa hawla walaa quwata illa billah. Satu kali salah, langsung dibuang. Kalau Luqman ba Abduh salah, wah "beribu" udzur dihadirkan dalam dauroh panjang.
[8] Nasihat seperti inilah yg kita tunggu dr Luqman, namun tiada kunjung datang!! Yang datang hanya rudud (bantahan) yg ia anggap sebagai nasihat!! Di kepalanya, nasihat itu hanya rudud !!  Padahal nasihat itu luas : lembut dan tegas. Masing-masing memiliki kadar, waktu, kaifiat dan pertimbangannya.
Pemahaman rusak bahwa nasihat hanya berupa rudud di majelis-majelis terbuka, merupakan sebab utama kehancuran dakwah salafiah melalui tangan Luqman ba Abduh!! Sungguh ia akan mempertanggungjawabkan kerusakan ini di hadapan Allah, kerusakan yang meluluhlantakkan dakwah salafiah di bumi nusantara ini.
[9] Bayangkan saja ulama Yaman dicari-carikan kesalahan agar mereka jatuh tersungkur dan kualat menurut mereka.
[10] Suroh Al Ma'idah, ayat 8
[11] Coba bayangkan bagaimana Ustadz Dzulqornain diperlakukan melebihi orang kafir. Di dalam Islam saja, kita dilarang berdusta atas orang kafir, nah bagaimana lagi jika ia muslim!! Anda masih ingat kelakuan Luqman ba Abduh telah melaporkan berita-berita dusta ttg Ust. Dzulq, sampai Syaikh Robi' menyatakan bahwa pada diri Ust. Dzulq terdapat pemikiran "wihdatul adyan"!! Darimanakah pernyataan ini datang, bula bukan bersumber dari Luqman ba Abduh yg gemar main lapor kayak anak kecil.
[12] Kalau di sisi Luqmaniyun, Syaikh yg memberi udzur dan kesempatan ini, mereka anggap syaikh yang mumayyi' (lembek).
[13] Sebagian dai, ada yang masih bisa diperbaiki dengan nasihat. Tp sikap kasar dan frontal Luqman ba Abduh, cs. membuatnya lari dan semakin buruk. Akhirnya, ia bergabung dengan golongan lain, sehingga semakin memburuklah keadaannya, bahkan ia menjadi "bumerang" (walaupun tumpul) bagi dakwah salafiah. La hawla walaa quwata illa billah. Nas'alullohal afiyah wassalamah. Hasbunallohu wani'mal wakil.
[14] Ini sebuah pelajaran dan nasihat yg amat berharga agar kita tiada henti-hentinya menggali ilmu melalui tangan para ulama, bukan dr satu ulama, agar ilmu dan bashiroh kita semakin tajam. Musibah yang melanda dakwah salafiah berupa perpecahan di tengah mereka, buah hasil dr kejahilan sebagian oknum yang merasa dirinya telah "pintar" dan "cukup ilmu", sehingga ia bersikap laksana ulama. Padahal mereka masih "thuwailibul ilmi" (penuntut ilmu junior). Ada diantara mereka yang dikenal hanya belajar ke Syaikh Muqbil (itu pun dicoret namanya dr daftar santri). Pulang ke Indonesia, dirinya bersikap bagaikan Ibnu Ma'in!! Padahal ia hanyalah seperseratus dr Ibnu Ma'in!! Sungguh ini adalah sikap ujub, kibr dan tafakhur (berbangga-bangga) dengan sesuatu yang tdk ada pada dirinya!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda