Jumat, 19 Mei 2017

Syekh Robi' memang Nggak Bodoh, tapi Beliau Nggak Ma'shum dalam Setiap Fatwanya



Sebuah asumsi keliru di kalangan Luqmaniyun bahwa Syekh Robi nggak mgk akan salah, shingga apapun yg keluar dr beliau berupa pernyataan dan fatwa mengenai fulan bin fulan, maka hrs diterima!

Ini adalah manhaj yg jelas batil. Dari mana dasarnya semua itu?!

Seorang yg berinisial abuharits pernah mengirim sebuah surat pertanyaan kpd kami yg bunyinya:

"Ketika fatwa syekh keluar, maka fatwa itu keluar, tanpa didahului oleh prolog berupa pertanyaan berupa penggambaran masalah yg mereka tanyakan di depan syekh. Tiba2 fatwa itu keluar begitu saja. Mana tanya-jawabnya? Na'udzubillahi min dzalik ana berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla dari fitnah antum. Sadarlah akhi...apakah antum mengira para masayaikh itu bodoh?apakah antum mengira Syaikh Robi' itu bodoh sehingga setiap ada laporan langsung keluar fatwa beliau... Apakah ini yg antum maukan,,,!!!"

Tanggapan:

Apa yg dinyatakan oleh akh abuharits tsb sama yg tersebar di dunia maya berupa selentingan bahwa syaikh robi nggak jahil. 

Selentingan sperti ini muncul sebagai reaksi terhadap pernyataan bhw fatwa syekh robi muncul dengan adanya laporan2 dusta dan miring yang disampaikan oleh Luqman ba Abduh kpd syekh robi' ttg diri saudara kami, ust Dzulqornain al Makasari. 

Pernyataan ini tdk brdasar, sebab mereka telah biasa melakukan hal sperti itu. Buktinya amat kuat, anda bisa lihat dlm laporan dusta mereka belakangan ini kpd syekh robi ttg sekolah formal, yg insya Allah kami akan tampilkn agar kalian bisa menilai mrk dg baik.

Sebagai tanggapan bagi surat abuharits, kami nyatakan:
1.    abuharits dan teman2nya dr kalangan pencinta Luqman ba abduh sampai hr ini belum mau dan belum mampu menyodorkn ke publik tentang laporan mrk yg jadi sebab keluarnya fatwa yg terkait dg diri pribadi ust dzulqornain. Mana laporan atau tanya-jawab pihak ust Luqman ba abduh, cs. dlm hal itu?

2.    Ucapan kami yg berbunyi: "Ketika fatwa syekh keluar, maka fatwa itu keluar, tanpa didahului oleh prolog berupa pertanyaan berupa penggambaran masalah yg mereka tanyakan di depan syekh. Tiba2 fatwa itu keluar begitu saja. Mana tanya-jawabnya?" (http://pelita-sunnah.blogspot.com/2014/05/betulkah-luqman-ba-abduh-cs-di-belakang.html )

Ucapan ini bukanlah fitnah (baik fitnah  versi arab, maupun versi indonesia). Dari sisi mana dibilang fitnah. Justru kalianlah yg terkontaminasi dg virus "fitnah" shingga sesuatu yg bukan fitnah, justru kalian menganggapnya sbg fitnah. Na'udzu billahi min su'il fahmi.

3.    Kami sadari bhw para masayaikh itu nggak bodoh. Namun org2 yg menyampaikn laporan miring dan dusta itulah yg bodoh, krn telah menzolimi diri mrk dan saudaranya.

4.    Fatwa yg keluar itu trgantung laporan dan masukan dr org lain yg bertanya dan mengadu. Sekarang mana laporan2 itu?

5.    Kami tdk pernah menyatakan bhw setiap laporan yg masuk ke syekh robi, langsung keluar fatwa. Kami hanya menanggapi kasus yg kini trjadi.

6.    Anggaplah syekh robi' mengeluarkn fatwa dan semuanya didasari dg laporan akurat dan benar, tp apakah nggak ada kemungkinan beliau salah. 

  Jelas ada kemungkinan. Nah, disinilah perlunya hujjah! Bukan hanya tuduhan dan klaim dr kalian. Jika kalian mengklaim bhw fatwa itu benar, apa dasarnya?

7.    Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tidaklah bodoh, namun terkadang beliau didatangi oleh org yg berkasus dg membawa laporan2 yg beliau nggak tahu hakikatnya, shingga beliau hanya menghukumi sesuai dg lahiriahnya sj.

untuk menjawab syubhat abuharits ini, kami perlu nukilkn jawabn dan bantahan Ust Abdul Barr hafizohulloh saat beliau brkata:

" Di tanggapannya tersebut ustadz Muhammad berkata: “Apakah syaikh Rabie’ bisa semudah itu dibohongi oleh seorang Luqman atau semisalnya”!?
Maka saya (ust Abdul Barr) katakan: “Bukankah antum sendiri yang mengakui kalau ustadz Luqman adalah politikus, dan bukankah yang namanya politikus kebiasaannya mempolitisir data.”
“Wahai ustadz, tidakkah engkau pernah mendapati sebuah hadits yang berbunyi:
إنكم تختصمون إلي و إنما أنا بشر مثلكم فلعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأحكم له بقدر ما أسمع
“Sesungguhnya kalian bertikai kepadaku dan aku hanyalah manusia seperti kalian, barangkali sebagian kalian lebih pandai mengutarakan hujjahnya dibanding sebagian yang lain, maka barangsiapa yang aku memutuskan untuknya sesuai dengan apa yang aku dengar.”
Di dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menegaskan, kalau beliau juga manusia seperti kita, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi sesuai dengan apa yang didengarnya. Dan yang demikian bukanlah cacat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam hadits itu, beliau menegaskan: saya hanyalah manusia seperti kalian, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi apa yang disampaikan kepadanya.

Sebagaimana dalam hal ini bukanlah cacat bagi syaikh Rabie’ karena beliau juga manusia yang akan menghukumi apa yang sampai kepadanya. Sebagaimana bukanlah cacat bagi imam Syafi’i tatkala berkata: “Mengabarkan kepadaku seorang tsiqoh (yang terpercaya)”, padahal yang beliau maksud adalah seorang yang bernama Ibrohim bin Abi Yahya, sebagaimana imam Abu Hatim berkata:
إذا قال الشافعي أخبرني الثقة عن صالح مولى التوأمة فهو إبراهيم بن أبي يحيى
“Apabila Syafi’iy berkata, telah mengabarkan kepadaku seorang yang tsiqoh dari Solih Maula Tau’amah, maka dia adalah Ibrahim bin Abi Yahya.”
Padahal Ibnu Ma’in pernah berkata:
هو رافضي جهمي
“Dia seorang rofidhiy dan jahmiy pula.” –selesai ucapan ust Abdul Barr- (http://pelita-sunnah.blogspot.com/2013/12/meluruskan-sanggahan-ustadz-muhammad-as.html )

Perhatikan baik2. Nabi shollallohu 'alaihi wasallam saja yg ma'shum trkadang nggak tahu org yg datang kpd beliau dlm mengajukan kasus, apalagi syekh robi' yg nggak ma'shum. Kemungkinan beliau untuk diberi laporan yg nggak benar, bisa saja terjadi.

Kemudian, perlu kami tambahkan, maka kami katakan :

Apa yg dinyatakn oleh ABu Harits, pernah juga dinyatakan oleh gurunya yg bernama SYekh Askary Boby AL Makasary 

Syaikh Asykari mengharuskan menerima qaul (pendapat, -ed.) Syaikh Rabi' hafizhahullah tanpa harus meminta rincian sebab keluarnya tahdzir.

Apakah qaul dari Syaikh tsiqah seperti Syaikh Rabi wajib secara mutlak diterima ketika beliau menjarh Ustadz Dzulqarnain???.

Jawab:

Ibnu Shalah rahimahullah berkata dalam Muqaddimah fi Ulumil hadits : 
“Keharusan menjelaskan sebab-sebab celaan (kritikan) tersebut, karena kritikan yang tidak disertai penjelasan sebab-sebab TIDAK DITERIMA, kecuali jika perawi yang dikritik tersebut tidak didapati seorang imam ahlul hadits pun yang menta’dilnya.”

Qaidah yang disebutkan Ibnu Shalah jelas kita pahami bahwa kita akan TERIMA secara mutlak Tahdzir/Jarh Syaikh Rabi’ jika tidak ada Masyaikh yang menta’dil/merekomendasi Ustadz Dzulqarnain. Jika ada Masyaikh yang menta’dil maka wajib bagi Syaikh Rabi’ menjelaskan rincian sebab-sebab keluarnya Jarh/Tahdzir dan sampai saat ini belum ada penjelasan dari Syaikh Rabi', jika tidak ada penjelasan maka Jarh/Tahdzir beliau bisa ditolak (apalagi Jarh beliau masih global dan berbentuk gambaran). Kenyataannya masih banyak Masyaikh yang menta’dil Ustadz Dzulqarnain seperti Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah, juga Ulama’ Yaman yang menunjuk kepanitiaan Dauroh dari pihak Ustadz Dzulqarnain, ini adalah bentuk ta’dil mereka. Atas qaidah Ilmu Hadits yang dijelaskan Ibnu Shalah maka saya BELUM bisa MENERIMA Jarh/Tahdzir Syaikh Rabi’ kepada Ustadz Dzulqarnain.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalany berkata fi muqaddimah Fathul Bari : “Tidaklah diterima pencacatan seseorang kecuali terdapat sesuatu yang jelas mencacatkannya”.

Tanpa sadar dia telah mengajak ummat untuk taqlid kepada Syaikh Rabi.
Bukankah taqlid itu harom, Yang kita ikuti dari Syaikh Rabi adalah hujjah beliau, mengikuti Syaikh Rabi’ tanpa hujjah tidak ada bedanya sama Nashara yang telah menjadikan Ulama’ dan Ruhban mereka sebagai tandingan selain Allah. Syaikh Rabi’ bukan sekutu bagi Allah dan saya bukan pelaku syirik (muqallid).




 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda