Senin, 24 Juli 2017

Pembelaan Terselubung Abu Ammar Al Hudzaify As Syarofy bagi Sahabatnya (Hani Iben Burek) dalam Tahdzir Dinginnya terhadap Hani Iben Burek Al Khoriji


Pembelaan Terselubung Abu Ammar Al Hudzaify As Syarofy bagi Sahabatnya (Hani Iben Burek) dalam Tahdzir Dinginnya terhadap Hani Iben Burek Al Khoriji

Sungguh Al Hudzaify (salah seorang penyuluh fitnah di Yaman, yang slama ini dikagumi oleh Luqman Ba ‘Abduh) telah mengeluarkan artikel baru yang dia klaim di dalamnya bahwa dia mentahdzir sahabatnya yang bernama Hani Iben Burek.

Setelah membaca artikelnya ini, ana semakin yakin bahwa kebanyakan orang yang membantah hudzaifi dahulu tidaklah menzoliminya dan tidak pula melanggar haknya.

Artikelnya yang terbaru belakangan ini tidaklah memberikan tambahan bagi kami kecuali tambahan bashiroh dan keyakinan bahwa sungguh Al Hudzaify di dalam artikel itu menempuh cara yang dahulu dia tempuh di awal fitnah ini (yakni, fitnah di Yaman) berupa kedustaan, tipu daya dan pencitraan dg bertabir kecemburuan terhadap sunnah dan membela Al Haq.


Aku tidak mengerti Apakah artikelnya belakangan ini adalah tahdzir (peringatan) dari bahaya Hani Iben Burek sebagaimana yang dia klaim, ataukah itu adalah peringatan keras (tahdzir) dari ulama Yaman dan para pengemban dakwah Salafiyah dr kalangan masyayekh dan para penuntut ilmu Ahlussunnah.

Andaikan saja pembaca memperhatikan artikel itu, maka pasti pembaca akan menemukan dan mendapati bahwa sekitar sepertiga artikel itu dikhususkan oleh Abu Ammar Al Hudzaify untuk mencerca para ulama dakwah Salafiyah Yaman, sedangkan sisanya untuk menyebutkan keutamaan-keutamaan dan jasa Al Hudzaify dan orang-orang yang bersamanya.

Sungguh artikel itu mengandung 1419 kata. Sedang bagian yang didapatkan oleh para masyayekh Yaman sekitar 450 kata

Kata-kata itu diantaranya berisi celaan, sikap keras, cercaan yang ditujukan kepada para ulama Yaman.

Sungguh Al Hudzaify di dalam artikel itu telah menuduh para ulama Yaman dengan berbagai macam gelar, misalnya : “bodoh”,  “ceroboh”, “kurangnya pemahaman”, “fanatisme”, “memihak sebelah”, dan “tidak membela kebenaran”.

Bahkan Al-Hudzaify menyifati dan menggambarkan, “Metode para masyayekh Yaman dalam mengatasi berbagai permasalahan adalah metode yang gagal dan pelakunya tidak boleh dijadikan sandaran dalam perkara ini dan ucapan-ucapan mereka tentang manusia tidak boleh dipercaya.”

Semua ini memberitakan kepada anda tentang dendamnya Abu Ammar Al-Hudzaify dan kejengkelannya atas para ulama Yaman dan dai-dainya.

Aku tidak memandang adanya suatu sebab yang mendorong Al Hudzaify untuk mencaci-maki masyayekh Yaman  karena mereka (para masyayekh Yaman) telah men-tahdzir (memperingatkan) dari bahaya Hani Iben Burek, kecuali dalam rangka Al Hudzaify ingin mengokohkan pengikutnya diatas kebatilan nya dan karena dia takut jangan sampai sebagian mereka akan rujuk dengan sebab baiknya persangkaan mereka kini kepada para ulama dan masyayekh Yaman, dan juga adanya pujian terhadap ulama Yaman dan adanya perasaan merasa bersalah terhadap diri mereka sendiri karena sesuatu yang mereka terjerumus di dalamnya slama ini dalam mencaci maki para ulama Yaman dengan cara yang batil.

Maka apa yang terjadi pada Hani Iben Burek belakangan ini dan adanya peringatan keras (tahdzir) para masyayekh Yaman dari Hani Iben Burek, memaksa sebagian orang untuk meninjau kembali caci makian mereka terhadap ulama Yaman.
Maka Al Hudzaify berusaha keras agar kedudukan para ulama Yaman tetap goyah di dalam jiwa manusia.

Terlebih lagi sungguh telah muncul belakangan ini peringatan (tahdzir) Syekh Muhammad bin Hadi dari bahaya Dr. Arafat Al Muhammady, dan orang ini termasuk satu diantara dua pembesar pengacau di antara masyayekh.
Salah satu diantara dua pembesar itu (yakni, Hani Iben Burek) punya peran yang besar dalam mengadu domba diantara ulama kerajaan Saudi Arabiyah dan ulama Yaman.

Sungguh orang ini (Hani) telah di-tahdzir (diperingatkan) akan bahayanya oleh para ulama yang selama ini dimuliakan oleh Al Hudzaify dan para pengikutnya (yakni, Syekh Ubaid, dan belakangan Syekh Robi’).

Semoga Allah menguatkan sikap para ulama Yaman terhadap kelompok pengacau yang satu ini, dengan adanya pihak ketiga. Allah cemburu terhadap wali-wali-Nya

Bersambung dalam episode ke-2, insya Alloh.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda