Sabtu, 29 Juli 2017

Sorotan2 Tajam atas Tahdzir Dingin Abu Ammar Al Hudzaify Asy Syarofy terhadap Hani Iben Burek Al Khorijy



Sorotan2 Tajam atas Tahdzir Dingin Abu Ammar Al Hudzaify Asy Syarofy terhadap Hani Iben Burek Al Khorijy

Ketika Hani Iben Burek melakukan demonstrasi baru2 ini dlm rangka memisahkan diri dr Yaman Utara.

Banyak pihak yang menyoroti sikap Hani tsb yang telah melanggar satu prinsip Ahlussunnah, yakni taat kpd pemerintah muslim, dan haramnya melakukan pemberontakan atas pemerintah resmi (dlm kasus ini Presiden Yaman).

Akhirnya, hal itu membuat public angkat pena dan bicara, terkhusus para ulama dan penuntut ilmu salafy.

Para ulama Ahlussunnah Saudi dan Yaman memberikan kritikan pedas atas sikap Hani tsb.

Hal ini membuat telinga Al Hudzaify, cs. menjadi panas, walaupun mereka harus mengelus dada saat mendengar dan melihat sikap sahabatnya (Hani Burek) yg melanggar manhaj dan ushul para salaf saat melakukan demo dan perlawanan trhadap pemerintah resmi Yaman!


Sungguh tindakan Hani ini membuat Al Hudzaify kebingungan, karena hani slama ini dianggap pimpinan dan ujung tombak mrk dalam bersikap dan tahdzir-mentahdzir yg slama ini mereka lancarkn.

Kini moncong tahdzir itu terarah kpd pimpinan mrk (Hani Iben Burek). Hal itu membuat Al Hudzaify sebagaimana kata org :
“Maju kena, mundur kena”, bagaikan buah si malakama; jika tidak dimakan, maka akan mati, dan jika dimakan pun akan mematikan!

Dengan segala siasat dan penuh “kehati-hatian” (baca : kebingungan), Al Hudzaify akhirnya mengeluarkn tahdzir dingin kpd Hani Iben Burek yang dibungkus dengan sikap kelembutan, sopan, dan amat bersahabat, sampai Al Hudzaify dlm tahdzir malu2nya tsb, msh menyifati si Hani Sang Pemberontak sbg “akh” (saudara), sementara saat men-tahdzir Syekh AbdurRohman Mar’i sbg “DUNGU”.

Dalam tahdzir dinginnya, Al Hudzaify menyebutkn berbagai macam pujian dan jasa2 Hani yg dulu pernah ia lakukan di masa ia msh ahlussunnah. Inikah tahdzir  -wahai Hudzify- dalam manhajmu? Ini bukti akan ketidaktahuanmu trhadap hakekat manhaj salaf dlm prkara TAHDZIR.

Wahai Hudzaify, kamu perlu membuka kembali kitab Asy Syekh Robi’ bin Hadi Al Madkholy yg brjudul “Manhaju Ahlissunnah waj Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thowa’if”.

Sungguh Al Hudzaify amat mesra dan lembut dlm tahdzir dinginnya trhadap Hani Iben Burek yg slama ini menjadi sahabatnya.

Dalam waktu yg sama, Hudzaify menari2 di atas luka para ulama Yaman yang ia jatuhkan dengan sejatuh-jatuhnya di dlm artikel2nya, trmasuk di dalam TAHDZIR DINGIN-nya tsb, dimana Al Hudzaify dlm artikel itu menikam para ulama Sunnah Yaman, sampai banyak pihak yg mempertanyakan : “Apakah TAHDZIR DINGIN itu ditujukan bagi Hani, ataukah kepada ulama Sunnah negeri Yaman?!”

Dari sisi Judulnya, memang ia men-tahdzir Hani, namun isinya lebih banyak menyudutkan dan menjatuhkn ulama Sunnah negeri Yaman, sementara Hani hanya dicolek seadanya! Wah, nggak enak rasanya kalau Hani dijatuhkn yg slama ini menjadi ujung tombak MASYAYEKH ADEN (yg di dlmnya ada Hudzaify)

Adapun tahdzir dingin trhadap Hani Iben Burek, yg ditulis oleh Al-Hudzaify, anda (khusus yg pandai baca kitab) bisa melihatnya dalam sumber berikut : http://www.voice-yemen.com/art4935.html

Sebagian informen menyampaikn kpd kami bhw TAHDZIR DINGIN tsb dimuat oleh situs Luqmaniyun (tukpencari*****). Namun kami tengok kesana, situs dalam pemeliharaan ‘MAINTENANCE’.

Teruntuk risalah dan artikel Al Hudzaify yg berisi TAHDZIR DINGIN tsb, maka kita perlu menanggapinya dg beberapa SOROTAN yg akan menjelaskn hakekat dr tulisan itu.

Sorotan yang Pertama : Di dalamnya Terapat Penerapan MANHAJ MUWAZANAH

Kaidah muwazanah yang hizbiyah, Al-Hudzaify telah menerapkannya secara total dalam artikelnya yang terbaru itu.

Perhatikanlah wahai pembaca, di dalam artikelnya Anda akan menemukan semua bentuk keramahan, kelembutan, penyebutan keutamaan-keutamaan dan jasa-jasa Hani.

Sementara momennya adalah momen TAHDZIR. Kalau hal yang seperti ini bukanlah penerapan kaidah muwazanah, sedangkan kaidah ini para ulama menganggapnya termasuk kaidah-kaidah para ahli Bid'ah.

Kalau itu bukan muwazanah, nah kalau begitu apa itu muwazanah?!

Al-Hudzaify termasuk orang yang paling keras dalam memerangi kaidah hizbiyah yang Bid'ah ini, yaitu kaidah muwazanah, sebagaimana yang telah anda ketahui.

Akan tetapi Cintamu kepada sesuatu, membuatmu buta dan tuli

Kami katakan kpd Al-Hudzaify :
Penetapanmu bahwa muwazanah sbg suatu bid’ah adalah sebuah perkara, sementara hakikat dr realita dirimu di lapangan adalah perkara yang lain.

Adanya muwazanah dlm kasus ini, lahir dr fanatisme yang dahulu dituduhkan oleh hudzaifi kepada orang lain. Fanatismenya kpd Hani mendesaknya untuk mengucapkan dan menerapkan sesuatu yg ia tuduhkn dahulu.

Sorotan yang Kedua : Kedustaan Al-Hudzaify atas Nama Para ulama Yaman.

Al-Hudzaify mengklaim dalam artikelnya yang terbaru dan di dalam pernyataan yang sebelumnya bahwa para ulama Yaman bersikap dengan sikap orang yang fanatik terhadap isi perjanjian (watsiqoh) dengan orang Hutsi dan para ulama tersebut.

Menurutnya, para ulama Sunnah Yaman (SELAIN Syekh Al Imam), tidaklah memiliki sikap dan peran yang cemerlang dalam menghadapi isi perjanjian itu.

Ini termasuk kedustaan Al-Hudzaify yang dikenal dalam fitnah ini.

Justru hakekat permasalahan itu bahwa Di pertengahan bulan Syawal 1435, yaitu setelah keluarnya isi perjanjian, kurang lebih sekitar 1 setengah bulan, maka Syekh Al Wushoby rahimahullah mengeluarkan pernyataan dalam bentuk audio yang di dalamnya berisi nasehat-nasehat emas yang berkaitan dengan fitnah-fitnah itu (yakni, fitnah watsiqoh)

Syekh Al Wushoby di dalamnya memberikan isyarat kepada isi perjanjian dan bahwa para ulama Yaman telah mengkaji sesuatu yang ada di dalamnya dan mengambil kesimpuilan:
·     Apa saja yang ada di dalamnya merupakan kebenaran, maka mereka menyetujuinya dan membenarkannya,
·     dan apapun yang ada di dalamnya berupa kebatilan maka para ulama Yaman meminta untuk dihapus.

Permasalahan itu, bukan hanya terhenti sampai disitu, bukan hanya terhenti Pada Syekh Al Wushoby rahimahullah saja.

Setelah pernyataan Syekh Al-Wushoby dalam waktu beberapa hari berlalu, berikutnya Syekh Al Buro’i hafizohulloh pun mengeluarkan pernyataan.

Di dalam pernyataan itu, Syekh Al-Buro’i menjelaskan bahwa isi perjanjian (watsiqoh) itu, didalamnya ada kesalahan-kesalahan yang pasti diketahui oleh seorang sunni.

Namun beliau memberikan nasehat agar ahlussunnah bersikap tenang dan memberikan udzur kepada Syeikh Muhammad al-Imam.

Beliau juga memberikan peringatan keras agar jangan ada  ulama siapapun yang di cela karena mengeritik isi perjanjian (watsiqoh) itu.

Kurang dari sebulan, berikutnya Syekh Abdurrahman Bin Mar’i rohimahulloh juga mengeluarkan pernyataan yang didalamnya beliau menyebutkan bahwa isi perjanjian itu mengandung kebatilan dan beliau memberikan rincian tentang kebatilan sebagian dari poin-poin perjanjian itu dan beliau juga menyebutkan bahwa wajib bagi Syekh Muhammad al-Imam untuk rujuk dari poin-poin yang keliru tersebut pada waktu yang cocok.

Para ulama yang 3 ini dari kalangan ulama Yaman, yang mereka semua ini adalah ulama-ulama yang diwariskan oleh Syaikh muqbil Al Wadi'i untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kekinian.

Tiga orang ulama ini telah berkomentar dan memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan.

Keadaan tidaklah mendukung, kecuali mereka harus mengingkari poin2 dari perjanjian itu!

Terlebih lagi di dalam isi perjanjian ada kesalahan-kesalahan yang nyata dan jelas, tidaklah samar bagi para penuntut ilmu yang junior, bahkan tidak pula bagi orang-orang awam Ahlussunnah.

Orang-orang tua jompo (orang-orang awam) sangat mengenal kesesatan-kesesatan Syiah rafidhoh.

Aku tidaklah mengetahui ada seorang penuntut ilmu yang mencocoki dan menyetujui poin-poin dari isi perjanjian (watsiqoh) itu secara keseluruhan.

Bahkan seluruh penuntut ilmu, mengingkarinya dan berlepas diri dari poin-poin tersebut.

Hanya saja mereka memberikan unsur bagi Syekh Muhammad Al Imam yg telah menandatanganinya, karena keadaan yang beliau alami sangat genting dan para ulama yang lainpun menyetujui  sikap tersebut dalam rangka menolak keburukan yang lebih besar.

Akan tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh seorg penyair : 

“Mata keridhoan terhadap setiap aib adalah redup.
Akan tetapi mata kejengkelan akan menyingkap keburukan-keburukan.”

Sikap seperti ini dari para Syekh Yaman cukup bagi setiap orang yang berakal untuk berhati-hati dan pelan-pelan dalam mengambil sikap dalam kasus watsiqoh tsb.

Terlebih lagi bahwasanya diantara prinsip bermuamalah dalam menghadapi fitnah adalah bersikap hati-hati dan pelan-pelan dalam bertindak, serta tidak mendahului para ulama dalam menilai dan menghukumi peristiwa-peristiwa dan fitnah-fitnah.

Hanya saja Al-Hudzaify, cs. di Yaman dan Luqman ba abduh, cs. di Indonesia merendahkan ulama Sunnah negeri yaman dan memberlakukannya seperti manusia rendahan yg mereka lecehkn dg brbagai gelar buruk.

Tapi ketahuilah bahwa perendahan mereka tidaklah menghapus derajat para masyayekh Yaman sbg ulama. Dunia telah mempersaksikan bahwa mereka adalah ulama hasil didikan Syekh yang mulia, Muqbin Iben Hadi Al Wadi’iy.

Pengakuan telah datang dr para ulama, semisal syekh Washiyyulloh Abbas, Syekh Muqbil sendiri, Syekh Robi, dan lainnya.

Sahabat yang Mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata,
لَا تَكُونُوا عُجُلًا مَذَايِيعَ بُذُرًا، فَإِنْ مِنْ وَرَائِكُمْ بَلَاءً مُبَرِّحًا مُمْلِحًا، وَأُمُورًا مُتَمَاحِلَةً رُدُحًا
“Janganlah kalian tergesa-gesa, yang suka menyiarkan kejelekan, yang menjadi sumber kekacauan, karena sesungguhnya akan datang ujian yang memberatkan lagi menyulitkan, dan munculnya perkara-perkara fitnah yang panjang lagi besar.” [Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod (no. 327)]

Hadits ini dishahihkan oleh Syeikh Al Albani di dalam al Adabul Mufrad.

Hanya saja kaum itu (Hani Burek & Al Hudzaify) tidaklah menyia-nyiakan kesempatan ini (yakni, kasus watsiqoh) berlalu bagi mereka begitu saja dan sungguh mereka sejak dahulu, sejak bertahun-tahun menunggu kesempatan emas seperti ini, dalam kondisi dada mereka bergejolak penuh kebencian kpd para ulama Yaman sejak dahulu kala, sebagaimana yang mereka tegaskan secara terang-terangan.

Keadaan mereka berbicara :
“Apabila angin mau bertiup, maka manfaatkanlah.
Krn kesudahan segala tempat yang kosong adalah ketenangan”

Setelah keluarnya pernyataan audio dari Syekh Al Wushoby rahimahullah tadi, maka Hani buraik mengeluarkan KASET INDONESIA (yakni, berisi tahdzir Hani terhadap para ulama Sunnah Yaman) yang didalamnya dia mencela para ulama Yaman dan tidak memuji seorang pun di antara mereka.

Pernyataan itu menjadi percikan api yang menyalakan setiap api-api fitnah setelahnya sehingga hilanglah nasehat-nasehat Syekh Al Wushoby seiring bersama dengan badai fitnah.

Padahal mereka (Hani, cs.) sebelumnya mengenal nilai keilmuan beliau dan dakwah beliau, serta mereka mengenal ketegaran beliau dan ketegasannya dalam membela sunnah

Kini mereka tidak lagi mengenal nilai beliau dan mereka tidak lagi mengambil dan memegang nasehat beliau dalam menghadapi fitnah.

Mereka setelah itu, tidak lg menganggap Syekh Al Wushoby dan ulama2 yaman lainnya, dan mereka pun berusaha berlindung di balik jubah Syekh Robi’ dan Syekh Ubaid, dan didukung para thullab (semacam : Arofat Al Muhammady, Muhammad Iben Gholib, Ahmad Bazimul, dll.) untuk lebih menguatkn posisi mrk di mata kedua syekh ini bhw mrk berada di atas kebenaran.

Akan tetapi Allah ta’ala menginginkan hal lain. Allah singkap kekejian dan penyimpangan mereka satu persatu, mulai dari Usamah Athoya, dan Ahmad Bazimul (yg keduanya di-tahdzir oleh SYekh Ubaid), Arofat (di-tahdzir oleh Syekh Muhammad Iben Hadi), belakangan Hani Iben Burek (di-tahdzir Syekh Ubaid jauh hari sebelum Syekh Robi’ men-tahdzir-nya hari ini).

Saudara2ku yang tercinta, kita kembali kpd artikel Al Hudzaify :

Setelah adanya penjelasan 3 orang masyayekh dari Yaman ini ttg kasus watsiqoh, kemudian Al Hudzaify pun mengeluarkan selebaran-selebaran yang didalamnya dia mencela 2 orang Syekh yang mulia Al Buro’i, dan Al Imam, serta yang lainnya.

Hani Iben Burek dan dengan orang-orang yang bersamanya kala itu termasuk orang yang paling keras dalam menyalakan api fitnah dan paling gesit dalam menyebarkannya, dalam waktu dimana para ulama Yaman, sungguh telah berbicara tentang poin2 perjanjian tersebut dan para ulama itu juga telah memberikan nasihat untuk tenang dan pelan-pelan serta tidak mendahului para ulama dalam menilai fitnah tersebut
Demikianlah senantiasa muncul fitnah-fitnah dari orang-orang shighor (junior).

Sorotan yang Ketiga : Tipu Daya dan Pencitraan

Al Hudzaify memberikan pencitraan dan kesan bahwa tahdzir dari para ulama Yaman terhadap Hani terjadi tanpa merujuk kepada para ulama dan tanpa sebab yang memuaskan dan hanya berupa perkara-perkara masa lalu seperti foto-foto yang tersebar milik Hani Iben Burek atau masuknya dia ke Jum’iyah Syaruroh li Tahfizil Qur’an .

Wahai Al Hudzaify, itu hanyalah sepercik dr penyimpangan Hani Burek yang antum sebutkn. Kemana makarnya dalam memecah belah salafiyin di seluruh dunia, trkhusus Indonesia dan Yaman.

Kemudian Al Hudzaify ini berkata setelah menyebutkn kasus Syaruroh tsb,
“Dengan inilah, permasalahan Hani Iben Burek telah berakhir di sisi para ulama junior itu sebelum adanya pernyataan para ulama. Siapa pun yang tidak puas dengan kebodohan mereka, maka dia adalah pengikut Hani (Burekiyyun).”

Aku katakan sekarang dan di saat2 doa dikabulkan. Aku senantiasa mengulangi :
“Aku memohon kepada Allah agar Allah memberikan balasan kepadamu –wahai Hudzaify- atas kedustaanmu dan tipu dayamu terhadap orang-orang yang jahil, yang ada di sekitarmu dan juga atas sesuatu yang diucapkan oleh lisan2mu dan dan tulisan-tulisanmu yang telah memecah dakwah Salafiyah, yang telah memecah belah barisan salafiyyin dan memporak-porandakan persatuan Ahlussunnah serta membakar dada manusia dalam membenci para ulama Yaman

Realita yang ada bahwa tahdzir para ulama Yaman terhadap Hani Iben Burek, hanyalah terjadi dan muncul dari para ulama Yaman karena dua perkara dan dua sebab :
SEBAB YANG PERTAMA : Cercaan Hani Iben Burek kepada Para Ulama Yaman,
Sebagaimana yang terdapat dalam rekaman kaset Indonesia
SEBAB YANG KEDUA : Hani telah melangkahi dan mengambil kewenangan pemerintah (dlm hal ini Presiden Yaman).

Jadi, tahdzir para ulama Yaman terhadap Hani, itu terjadi dalam waktu, di mana para pemerintah Negeri Yaman (dalam hal ini presiden Mansur Hadi Abdu robbih) telah berusaha melakukan negosiasi dan perjanjian bersama dengan kaum Hutsi.

Perjanjian itu dikenal kala itu dengan Perjanjian Damai & dan Partisipasi, yang konsekuensinya bahwasanya kaum Hutsi adalah sekutu dalam politik dan kenegaraan.

Semua perkara ini tidak dipedulikan oleh Hani buraik. Bahkan dia membuangnya ke dinding dengan sekeras-kerasnya, lalu diapun memanas-manasi rakyat untuk melakukan peperangan sebagai bentuk penyelisihan terhadap sebuah prinsip diantara prinsip-prinsip ahlussunnah,  yaitu taat kepada pemerintah.

Permasalahan yang ada kala itu, bukanlah seperti apa yang digambarkan oleh Al Hudzaify & orang-orang yang bersamanya bahwasanya TAHDZIR ULAMA YAMAN TERHADAP HANI, terjadi setelah adanya permintaan pertolongan PEMERINTAH YAMAN kepada negara-negara sekutu (seperti : Saudi dan Mesir serta yang lainnya) dan bukan pula setelah adanya pengumuman Presiden Manshur Hadi Abdu Robbih untuk melakukan perang menghadapi kaum Hutsi.

Jadi, tahdzir para ulama Yaman terhadap Hani sama permasalahannya pada hari ini dg tahdzir yang dilakukan oleh dua orang Syeikh yang mulia : Syekh Robi’ dan Syekh Ubaid Al Jabiry

 Sesuatu yang diharapkan pada dirimu, wahai HUDZAIFY dan orang-orang yang berjalan bersamamu dari kalangan penuntut ilmu agar engkau bersyukur & berterima kasih kepada para ulama Yaman atas Sikap mereka yang benar dalam men-tahdzir Hani Burek.

Maka sungguh para ulama Yaman telah mendahuluimu dalam perkara ini (yakni, dalam men-tahdzir Hani).

Pandangan mereka (para ulama Yaman) kala itu amatlah dalam. Maka tahdzir kalian terhadap Hani sekarang ini karena dia memberontak dan melawan Pemerintah Yaman, dan karena dia tidak lagi mengindahkan ucapan para ulama yang telah menasehatinya (seperti : Syekh Robi’ dan Syekh al-Jabiry.

 Orang ini (Hani Burek) belakangan ini muncul darinya sesuatu yang telah terjadi berupa penyimpangan manhaj, sama persis dahulu, ia keluar dan memberontak melawan para pemerintah Yaman dan juga membangkang terhadap para ulama Yaman.

Jadi tidak ada sesuatu yang baru pada diri Hani. Namun yang tampak bahwasanya kalian adalah pengekor para tokoh, bukan pengikut kebenaran

Sorotan yang Ke- 4 : Kejahatannya Al Hudzaify terhadap Markaz Fuyusy

Kami tidak mengerti sebab dendam kesumat ini pada diri Al Hudzaify terhadap markas ilmu yang dibina oleh Syekh Abdurrahman Bin Mar’i, dimana markas ilmu ini merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala atas wilayah Selatan Yaman secara khusus dan Yaman bahkan dunia seluruhnya.

Tidak ada kesempatan yang terbuka bagi Hani buraik dan kawan-kawannya, kecuali mereka mencerca Markaz Fuyusy, dan juga terhadap perintisnya yaitu Syekh Abdurrahman Bin Mar’i rahimahullah (Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengumpulkan kami dan beliau di dalam surga)

Sungguh orang-orang yang gegabah itu (Hani & Hudzaify, cs.) telah melakukan makar yang luar biasa dan berkali-kali terhadap markaz ilmu ini dan makar mereka yang paling besar dan yang paling jelas sebanyak 5 kali :

MAKAR YANG PERTAMA : ketika mereka mengadu domba santri-santri Markaz Fuyusy dan menghasung mereka untuk melawan guru mereka (pendiri markas ini), yaitu Syeikh Abdurrahman Bin Mar’i, dimana ketika itu datang perintah dari negara untuk memulangkan seluruh santri-santri asing dan ketika itu terjadi makar yang mereka lakukan atas Markaz Fuyusy, dan fitnah atas SYekh Al Adny,  yang hampir-hampir terjadi pembunuhan andaikan Allah tidak memberi keselamatan.

Makar yang Kedua : terjadi ketika mereka berusaha keras dalam menjatuhkan pimpinan markas, yaitu Syekh Abdurrahman.

Sungguh Al Hudzaify telah mengupload audio2 dalam rangka menjatuhkan Syekh Abdurrahman Bin Mar’i dan juga berbagai macam artikel-artikel, diantaranya adalah selebaran yang penuh dengan dosa yang berjudul “Penyimpangan-penyimpangan Abdurrahman Mar’i” dan artikel yang berjudul “Sorotan2 terhadap syubhat-syubhat Syekh Abdurrahman.

Al Hudzaify menyifati Syekh Abdurrahman di dalamnya dengan banyak sifat-sifat yang tercela, misalnya : beliau adalah seorang pengejar dunia, dia menuduh Abdurrahman bahwasanya beliau menipu para pemuda dan bahwasanya beliau adalah seorang yang pendusta dan bahwasanya Syekh Abdurrahman termasuk orang yang dia suka memfitnah para santri asing dihadapan negara Yaman, dan bahwasanya beliau (Syekh Abdurrahman) orang yang jahil tentang Manhaj Salafi, dan berbagai macam celaan lainnya.

Juga Al Hudzaify menukil dari sebagian Syekh kerajaan Saudi bahwasanya para Syekh dari Saudi berkomentar tentang Syekh Abdurrahman Ben Mar’i rahimahullah bahwasanya pada diri beliau ada kerendahan dan kehinaan, mengingkari kebaikan, tidak boleh ditempati belajar, orangnya terfitnah, tidak boleh dibaca kitab-kitabnya, dan tidak pula boleh didengarkan rekaman-rekaman pelajarannya, orangnya dungu.

MAKAR YANG KETIGA : terjadi setelah keluarnya kaum Hutsi dari Lahj. Ketika itu, sebagian pemimpin fitnah ini mengarah ke Markaz Fuyusy, dan masuk ke dalamnya dengan penuh kepongahan dan kesombongan, dlm keadaan mrk menembakkan peluru-peluru timah  dari senjata2 dan tank2 mereka.
 Mereka membuat anak2 kecil takut dan kecemasan, dan sebagian wanita keguguran akibat saking takutnya.

Mereka pun masuk ke masjid dg penuh kecongkakan. Saat itu, mereka memaksa dan mendesak ingin jadi imam memimpin sholat, sementara masjid sdh memiliki imam tetap.

Hampir saja kala itu trjadi pertumpahan darah di dalam sebuah rumah diantara rumah2 Allah, dan di dalam Markaz diantara markaz2 ilmu. Andaikan Allah tdk menyayangi dan memberi keselamatan, maka pasti trjadi pertumpahan darah!


MAKAR YANG KEEMPAT : terjadi pada hari mereka ingin mendirikan MARKAZ DHIROR di samping markas yang telah didirikan oleh Syekh Abdurrahman Al Adeny dengan menggunakan senjata-senjata mereka dan kekuatan kekuatan mereka.

Namun penduduk Fuyusy menolak tindakan mereka itu dan hampir saja terjadi bunuh-membunuh, andaikan Allah tidak memberikan keselamatan, dan andaikan Allah tidak memberikan menggerakkan hati orang-orang yang tulus sehingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menolak keburukan-keburukan mereka dengan kehadiran pemimpin Aden, yaitu Az Zubaidy -Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kepada taufik Kepada beliau dan juga kepada bawahan bawahannya.

MAKAR YANG KELIMA : terjadi setelah mereka mendengarkan bahwasanya Syekh Abdullah Al Mar’i yang akan yang akan memegang dan menangani MarkaZ Fuyusy, pasca terbunuhnya saudara beliau, yaitu Syekh Abdurrahman Bin Mar’i.

Kemudian tidaklah Al Hudzaify tinggal diam, kecuali dengan serta-merta melakukan TAHDZIR terhadap Syekh Abdullah Al Mar’i dengan cara mati-matian dalam mentahdzir Markaz Fuyusy dan dengan penuh luapan amarah yang membara terhadap para pengurus markaz tersebut.

Inilah Al Hudzaify dalam artikelnya yang terbaru dan belakangan ini senantiasa dia mengulang-ulangi kebohongan ini, kebohongan yang dia klaim di dalamnya bahwasanya  ulama Markaz Fuyusy (yakni, Syekh AbdurRohman Al Mar’i Al Adeny rahimahulloh) telah mengeluarkan orang-orang asing dari Fuyusy, sebagai bentuk pembalasan kepada Hani dan dalam rangka menyukseskan poin-poin perjanjian itu sebagaimana yang terdapat dalam pernyataan Al Hudzaify dahulu

SOROTAN YANG KE-6 :

Al Hudzaify berkata (sedangkan waktu itu dia menyebutkan bertahapnya dia dalam menasehati Hani Iben Burek),
“Aku katakan demikianlah TAHDZIR terhadap para penuntut ilmu, berisi hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan, kemudian kesabaran, dan nasihat, lalu memberikan TAHDZIR di atas keterangan.”


Wahai Hudzaify, janganlah kamu menampakkan di hadapan manusia, sesuatu yang berlainan dengan caramu dan metodemu.

Engkau adalah termasuk orang-orang yang gegabah, berjalan dan bersikap sesuai dengan hawa nafsu dalam kebanyakan dari tindakan-tindakanmu dalam dakwah ini!

Aku ingin bertanya kepadamu dengan sebuah pertanyaan : “Apakah kamu telah menempuh cara dan metode seperti ini (yakni, secara bertahap) dalam men-tahdzir para ulama Yaman?!
Wahai Hudzaify, kalian memiliki arsip dan data yang berumur lebih dari 20 tahun, di dalamnya terdapat kesesatan-kesesatan para ulama Yaman sebagaimana yang engkau klaim.

Apakah kamu sudah menempuh cara yang sama pada mereka (yakni, cara bertahap), seperti halnya kamu menghadapi Hani?

Apakah kamu telah menasihati para ulama Yaman, baik secara tersembunyi, berupa tulisan, ataukah menghubungi mereka lewat telepon?!!

Apakah kamu telah duduk di depan mereka dan menjelaskan kepada mereka apa yang ada pada mereka berupa ketergelinciran2, sebagaimana kamu lakukan pada Hani Burek?!!!

Apakah kamu pernah memberikan pujian2 kepada para ulama Yaman dalam TAHDZIR-mu terhadap mereka.

Justru engkau pun menjilat di hadapan mereka, bahkan kamu juga mengirimkan tulisan-tulisanmu agar mereka memberikan pengantar untukmu.

Kemudian tatkala terbuka kesempatan bagimu, maka kamu pun mencerca dan mencaci maki para ulama Yaman.

Sampai terjadilah cercaan pertama yang muncul dari dirimu terhadap 2 orang Syekh : Al-Imam dan Al-Buro’I,  yang kamu beri judul  “Renungan-renungan bersama Al Buro’i dan Al Imam.”

Cercaan yang kamu namai sebagai naqd  ‘kritikan’ trhadap dua syekh yang mulia ini, apakah kamu berjalan dlm hal itu di atas cara seperti ini, cara yang kamu tempuh bersama Hani Burek? Walaupun pembicaraanmu terhadap Hani adalah TAHDZIR, bukan kritikan, sebagaimana yang kamu klaim.

Apakah kamu sudah menempuh metode ini (yakni, bertahap) bersama seorang pemuda yang bernama Anas dan orang yang menangani halaqah2 di Masjid At Tauhid, yakni beliau dan ayahnya. Bukankah engkau telah men-TAHDZIR Anas secara langsung, karena dia tidak berada di atas metode dan jalanmu dalam bersikap gegabah.

Metode yg kamu gambarkn dengan ucapanmu :
“Aku katakan demikianlah TAHDZIR terhadap para penuntut ilmu, berisi hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan, kemudian kesabaran, dan nasihat, lalu memberikan TAHDZIR di atas keterangan.”

Apakah metode ini kamu terapkan pada semua orang? Tidak, sama sekali tidak!!

Metode (bertahap) ini hanyalah pada orang yang kamu berikan pujian baginya dan pada orang yang menjadikanmu sebagai seorang syekh dan memuliakanmu.

Kamu memiliki umur sekitar seperempat abad dalam keadaan kamu tidak mendapatkan pujian dan tidak juga dianggap sebagai seorang syekh dan kamu mengira sungguh telah disia-siakan haknya, sehingga hal itu menyeretmu untuk mencaci maki guru-gurumu

Adapun ulama-ulama Yaman, maka mereka tidak mendapatkan metode yang lembut ini darimu, karena sebagaimana yang telah kamu katakan berkali-kali secara rahasia bahwasanya mereka tidak memanggilmu untuk mengisi ceramah di sisi mereka sejak 20 tahun, dan tidak pula sekalipun!

Hawa nafsu memiliki peran besar dalam segala tindak-tandukmu.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan taubat kepada kami dan memperlihatkan kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan kami kekuatan untuk mengikutinya dan agar Allah memperlihatkan kebatilan itu sebagai kebatilan dan memberikan kemampuan bagi kami untuk meninggalkannya


يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
[هود: 88]

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda